Penulis : Inayati
Hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari pembicaraanku dengan Mama sebulan yang lalu. Aku dan Mama sedang sarapan saat Mama tiba-tiba membuka pembicaraan.
“Sampai kapan Mama harus mengurus kamu, Bram?” Pertanyaan Mama membuatku tertegun.
”Maksud Mama?” aku menatap Mama. Mencoba menerka arah pembicaraannya.
”Yah, bukankah sudah saatnya ada perempuan lain yang menemani kamu sarapan?” Mama tersenyum menatapku.
Mungkin memang sudah waktunya aku menikah. Tahun ini usiaku tiga puluh lima tahun. Penghasilanku sebagai manager di salah satu perusahaan asing cukup memadai untuk berumah tangga. Apalagi yang ditunggu? Pertanyaan ini sudah sangat sering kudengar dari kerabat ataupun kolegaku.
Aku tersenyum kecil.
”Mama tahu, kamu merasa bertanggungjawab kepada Mama dan adik-adikmu. Tetapi jangan lupakan yang satu itu. Mira sudah berkeluarga, Dewi juga. Sementara Mama sudah lebih dari cukup menerima perhatianmu. Mama sangat bersyukur memiliki anak sepertimu.”
Aku terdiam.
”Bram, Papa titip Mira dan Dewi…juga Mama…” Papa berbisik perlahan sehari sebelum kematiannya, sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, Mira baru saja masuk kuliah dan Dewi masih kelas satu SMU. Sejak itu, hari-hariku kuisi dengan kerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
”Bram…” Mama menunggu jawabanku.
”Iya, iya, Insya Allah. Ma…”
Mama benar. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk menunda rencana berkeluarga. Dewi sudah menikah tiga bulan yang lalu. Amanah Papa sudah kutunaikan. Persoalannya adalah, siapa wanita yang akan kunikahi? Aku tidak pernah pacaran. Aku takut terjebak melakukan perbuatan yang tidak baik. Alternatif calon juga tidak ada. Jadi, siapa yang akan kulamar?
Sebenarnya, aku bisa minta bantuan kepada orang lain. Mama, kerabat atau kolegaku dengan senang hati pasti akan berusaha membantu. Tetapi, sebelum meminta bantuan orang lain, aku akan sholat istikharah dulu. Aku ingin melangkah dengan tenang.
Dan terjadilah keajaiban itu. Setelah dua kali sholat, tiba-tiba Laras muncul dalam mimpiku. Begitu jelas. Laras? Aku tercengang. Laras adalah teman kuliahku di Pasca Sarjana. Sudah hampir dua semester ini aku kuliah lagi di salah satu PT terkenal di Jakarta. Ia sangat cerdas dan rasional. Ia juga kerap membantaiku dalam diskusi-diskusi di ruang kuliah.
”Menurut saya, teori yang saudara gunakan untuk menganalisa persoalan ini tidak tepat. Terlalu dipaksakan…” Komentar Laras saat membantaiku seminggu sebelumnya terngiang kembali di telingaku. Komentar yang diucapkannya dengan santun itu selalu membuatku gelagapan. Komentarnya selalu logis, ilmiah dan sulit dibantah. Sudah berkali-kali aku dan teman-teman ’dibantainya’.
Ya, mengapa harus Laras? Perempuan yang kepribadiannya begitu kuat dan tenang, sampai tidak ada pria yang berani menjalin hubungan lebih dekat dengannya. Sebenarnya Laras baik, sangat baik. Ia tidak pernah segan membantu orang lain atau berkata kasar. Tetapi aku benar-benar sungkan menghadapinya. Apalagi membayangkan harus melamarnya.
Mimpi itu juga menyisakan pertanyaan buatku. Benarkah ini isyarat Allah? Atau, aku diam-diam menyukainya sehingga sosok Laras muncul dalam mimpiku. Aku bimbang.
“Bagaimana, Bram?” Mama meminta kejelasan dariku dua minggu kemudian. Aku hanya mampu tersenyum kecut.
“Belum ada calon? Apa perlu Mama bantu?” Mama menatapku.
Aku tergagap. “Tidak perlu, Ma. Saya akan mencoba mencari sendiri saja.” Mama tersenyum. Aku menarik napas lega. Untuk sementara aku berhasil menenangkan Mama.
Malamnya, aku mencoba menenangkan diri dan mulai sholat istikharah lagi. Kali ini, aku mencoba lebih tenang dan pasrah kepada Allah. Aku mencoba melepaskan segala kebimbangan dan sungguh-sungguh meminta keputusan-Nya.
Aku berjalan bersisian dengan Laras. Begitu dekat. Laras tersenyum. Manis dan sangat lembut. Mimpi itu lagi! Aku terbangun menjelang pukul tiga dinihari. Sebentuk perasaan aneh masih sempat kurasakan saat aku terbangun. Indah!
Apakah Laras memang jodohku? Pertanyaan itu kembali bermain dalam benakku. Aku mencoba menelisik kembali kejernihan hatiku. Benarkah aku memang tidak terobsesi kepada Laras? Aku mengurai kembali semua interaksiku dengan Laras. Sejak pertemuan pertama.
”Saya Laras!” Ia memperkenalkan diri dengan lugas, tanpa senyum. Juga tanpa jabat tangan. Aku hanya mengangguk.
”Bram.” Aku menyebutkan namaku. Dingin, tapi cukup sopan. Itu kesan pertamaku. Ia tidak genit atau cerewet seperti satu dua orang perempuan yang pernah kukenal. Seingatku, tidak pernah ada momen istimewa antara aku dengan Laras. Benar-benar hanya hubungan antar teman kuliah. Aku malah lebih akrab dengan Susi, teman kuliahku yang lain. Aku juga tidak pernah merasa ’aneh’ saat berinteraksi atau berpapasan dengannya. Bahkan ketika aku nyaris bertabrakan dengannya. Semua wajar dan biasa saja.
So? Aku masih tetap ragu. Kuputuskan untuk menunggu sampai benar-benar merasa yakin. Dan selama masa menunggu itu, terjadi suatu peristiwa yang semakin membuatku merasa ciut menghadapi Laras.
”Maaf…” Laras mengacungkan tangan. Semua mata tertuju kepadanya. Aku menahan napas. Apa yang akan dikatakannya kali ini. Aku berdebar-debar menunggu komentarnya atas makalah yang kupresentasikan.
”Menurut saya, makalah ini tidak memenuhi kualifikasi ilmiah.” kata-kata itu diucapkannya dengan nada meminta maaf. Aku terkejut. Makalah ini memang kusiapkan dengan terburu-buru. Pekerjaanku di kantor sedang bertumpuk. Beberapa teman menggumam. Dosenku tersenyum kecil. Ia sudah biasa menghadapi Laras.
Aku tersinggung dan merasa dipermalukan. Ini adalah komentar paling tajam yang pernah dilontarkan Laras kepadaku. Walaupun kemudian aku bisa menerimanya saat ia dengan argumentatif menjelaskan kelemahan makalahku.
Kejadian itu membuatku semakin ragu. Entahlah, barangkali aku merasa tidak siap mempunyai istri yang dapat membantaiku setiap saat. Atau mempertanyakan kebijakanku sebagai suami. Aku memang tidak terbiasa dipertanyakan seperti itu. Kedudukanku sebagai anak tertua dan tulang punggung keluarga membuat adik-adikku dan Mama memperlakukanku secara istimewa. Apa kata Mas saja, terserah Mas… Selalu itu yang kudengar dari mereka. Kalaupun mereka tidak sependapat denganku, tidak pernah ada yang secara lugas menyatakan ketidaksetujuannya. Begitu juga dengan bawahanku di kantor.
Aku semakin tidak berani menghadapinya setelah peristiwa itu. Jadi, untuk sementara aku terpaksa menenangkan diri lagi. Tapi desakan dari Mama tiga hari yang lalu membuatku terpaksa bertindak.
”Bram, mungkin sudah waktunya Mama membantu. Sudah sebulan, dan kamu belum juga bertindak apa-apa. Mama sudah semakin tua, Bram. Belakangan ini, Mama semakin sering sakit. Mama tidak ingin terjadi sesuatu pada diri Mama sebelum kamu menikah…” Mama berkata setengah memohon. Aku menunduk.
”Bram…”
Aku menatap Mama. Mama menarik napas panjang. Aku menunggu Mama bicara.
”Kalau tiga hari lagi tidak ada keputusan, Mama akan mencari calon untuk kamu. Kamu kenal Nita? Anak Bu Retno? Nita baik, lho… Dia juga cantik dan terpelajar…” Bla…bla…bla. Hampir lima belas menit Mama bercerita tentang Nita. Aku kenal Nita. Nita memang baik, tetapi bukan itu persoalannya. Aku ingin menuntaskan masalah Laras dulu.
Tidak ada jalan lain. Akhirnya, kumantapkan hatiku untuk bicara dengan Laras. Tapi, bagaimana caranya? Lewat telepon? Nomer telepon Laras saja aku tidak punya. Atau, mengajaknya bicara secara langsung? Bagaimana kalau ia menolak dan membantaiku seperti ia membantai makalahku?
Akhirnya, kuputuskan untuk meminta nomer telepon Laras dari Susi. Aku berhasil menghindar dari pertanyaan Susi dengan memberinya sebentuk senyuman aneh. Untungnya, ia tidak bertanya lebih jauh.
Malamnya, aku mencoba menelpon Laras. Aku menggenggam Hp-ku dengan perasaan tidak karuan. Dengan tangan gemetar aku menelponnya.
”Halo, Assalamu’alaikum!” Suaranya terdengar tegas. Tiba-tiba aku merasa tidak siap berbicara dengannya.
”Halo! Halo!”
Aku mematikan Hp-ku. Looser! Gerutuku dalam hati. Aku benar-benar tidak berdaya.
”Bram, waktunya tinggal hari ini.” Mama menatapku serius saat aku berpamitan tadi pagi.
”Ya, Ma. Aku usahakan.” Aku menjawab ragu.
Jadi, hari ini, mau tidak mau aku harus bicara dengan Laras. Aku berangkat ke kampus dengan gugup. Sampai di kampus, aku mencari-cari Laras. Sosoknya tidak kelihatan sampai kuliah dimulai. Lebih kurang lima belas menit setelah kuliah dimulai, Laras muncul. Ia menuju kearahku dan mengambil tempat di sebelahku, satu-satunya tempat kosong yang tersisa siang itu. Laras duduk dengan tenang di sebelahku dan segera mengikuti kuliah. Aku semakin gelisah. Tubuhku mulai berkeringat.
Kuliah usai. Aku menunggu kesempatan untuk bicara dengannya. Aku sengaja memperlambat berkemas sambil menunggunya. Satu persatu teman kuliah meninggalkan ruangan. Akhirnya, setelah ruangan cukup sepi, aku memberanikan diri untuk bicara dengannya.
”Laras! Boleh saya bicara?”
Laras menghentikan kesibukannya membereskan buku-buku dan beberapa makalah yang berserakan.
“Ya.” Ia melanjutkan kesibukannya tanpa menatapku sama sekali.
Tanganku gemetar. Suaraku tersekat di tenggorokan.
”Ada yang bisa saya bantu?” Laras akhirnya melihat ke arahku. Ia mulai kelihatan tidak sabar dengan sikapku. Ia sudah selesai membereskan buku-bukunya.
Aku masih tidak mampu bicara. Keringat dingin semakin membasahi tubuhku. Ya Allah, aku benar-benar grogi.
”Bram!” suara Laras meninggi.
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sejenak. Yudi, satu-satunya teman yang masih berada di ruang kuliah menoleh ke arah kami.
“La..ras…” Suaraku tersendat.
Laras menatapku bingung.
“Ehm…would you…ehm…marry me?” aku tergagap. Akhirnya, keluar juga perkataan itu dari mulutku.
Laras menatapku heran. Ia menunduk, berpikir sejenak. Aku menunggu. Rasanya seperti menunggu sebuah vonis.
”Kupikir, itu bukan ide yang baik.” Katanya setelah beberapa menit terdiam. ”Aku duluan, Bram. Assalamu’alaikum…”
Aku terpana. Aku masih juga terpana saat tiba-tiba Yudi menepuk pundakku.
“Apa tidak ada cara yang lebih romantis, Bung?” Yudi tersenyum. Aku salah tingkah.
Begitulah, proses perjodohanku terpaksa kandas di tengah jalan. Aku tidak patah hati. Tentu saja karena aku memang tidak pernah jatuh cinta pada Laras. Tetapi kuakui, aku cukup terpukul dengan kenyataan ini. Ternyata, aku tidak cukup pandai membaca isyarat Allah. Atau, caraku yang tidak baik? Melamar di ruang kuliah tanpa prolog seperti itu memang naif sekali.
Sore itu aku pulang dengan lemas. Mama duduk di teras, sedang asyik dengan koran sore dan secangkir teh hangat. Setelah mencium tangan Mama, aku menghempaskan tubuh di kursi.
Mungkin Mama bisa menangkap kegetiranku. Mama mengusap rambutku. Aku bersyukur Mama tidak membuka pembicaraan mengenai perjodohanku. Aku tidak siap.
Sepanjang sore itu aku mencoba menenangkan diri. Aku mencoba bersikap realistis menghadapi kenyataan ini. Aku percaya, Allah akan memberikan seorang pendamping untukku.
Pikiranku masih tidak menentu saat aku bangun tadi pagi. Aku sholat istikharah lagi tadi malam. Tapi kali ini, aku tidak memperoleh isyarat apa-apa. Akhirnya, kuputuskan untuk bicara dengan Mama. Toh, Nita gadis yang baik juga.
Aku mendahului bicara sebelum Mama bertanya tentang keputusanku.
”Ma…”
”Ya? Kenapa, Bram?”
”Aku…” Aku terdiam sejenak. Aku baru akan melanjutkan ucapanku saat sebuah pesan masuk. Aku meraih HP yang tergeletak di meja dengan enggan.
Laras???
Apa lagi yang akan dikatakannya sekarang? Berdebar aku membuka pesannya.
Setelah saya pikirkan lagi, ide kamu tidak terlalu buruk. Tawarannya masih berlaku?
Aku terpana. Hidup memang penuh kejutan.
(Pasar Minggu, 16 Januari 2003)
Sumber : Majalah Ummi, No. 10/XIV Februari – Maret 2003/1423 H
Tampilkan postingan dengan label ceRiTa_/_KarangaN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceRiTa_/_KarangaN. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 Januari 2012
Selasa, 11 Oktober 2011
Sepenggal Kisah yang Terungkap... (2)
Lalu ia berdiri dan bersuara, "Senggigi tidak banyak berubah. Tempat ini memberiku banyak kenangan. Dulu, aku dan teman-temanku selalu bertandang ke sini. Sama seperti sekarang, menikmati suasana matahari terbenam.”
”Sejak dua bulan yang lalu,” lanjutnya, ”aku diundang untuk membuat suatu projek di Bali. Dan aku teringat dengan pantai ini. Rinduku tiba-tiba membuncah. Aku rindu ufuk barat bernuansa sunset. Dan secara tiba-tiba, kantorku mengadakan meeting di Giri Trawangan sejak dua hari lalu. Sekarang sudah selesai dan aku bisa melampiaskan rindu selama ini. Tidak banyak yang kuketahui tentang perkembangan pesisir ini. Hanya dengan membaca cerita blog orang atau dari teman-temanku yang sesekali balik ke sini. Tapi sayangnya, sekarang aku hanya bisa datang sendiri. Mereka sudah berkarya di luar. Fiuh, beginilah. Kami semua sibuk. Aku mencoba menikmati ini tanpa mereka.”
Kata-katanya deras mengalir, seakan bercerita sendiri. Tatapannya hanya mengarah pada ufuk barat tanpa menoleh sedikitpun. Mungkin dia tidak sadar kalau aku diam-diam menyimaknya. Dari nada bicaranya aku teringat dengan teman kuliah dari daerah Sumatra. Logat Melayunya masih terasa, tapi samar terdengar..
Kisahnya masih berlanjut. Tak lama aku menatapnya, memperhatikan wajah beserta raut muka yang mengisahkan. Terkadang dia tersenyum lebar dikala dia mendapat kabar akan kesuksesan teman-temannya. Ada juga raut sedih tergambar waktu teringang perpisahan dengan teman-teman dan pulau ini. Persahabatan lelaki. Pencipta mimpi-mimpi. Penggapai cita-cita setinggi langit. Tersebut juga kisah tentang keluarganya yang berpindah ke ibukota dan pencapaian mimpi-mimpi yang dia rajut pada negara yang disebut Red Dot Island.
Lama memperhatikan garis-garis wajahnya, aku mencoba mengingat. Tunggu! Raut yang seperti ini pernah akrab denganku. Tapi...tidak mungkin. Apakah dia Iko? Ya, Iko. Kakak kelas SMU yang kerap menggodaku sewaktu masih kelas satu SMU. Tapi bukankah Iko berpenampilan agak culun, dengan kacamata dan... Tidak seperti sosok tegap di sini dengan wajah dan gaya layaknya orang tak ketinggalan mode. Sepertinya bukan.
Dia berdehem membangunkanku dari lamunan. “Tujuan aku ke sini sebenarnya mencari seseorang. Sewaktu Undergraduate di Bali, aku sering main ke pantai ini. Hampir tiap akhir minggu kuhabiskan waktu di Mataram dan Sengigi. Di sinilah aku memperhatikan seorang gadis. Gadis itu sering duduk di bangku ini. Aku tidak mengenalnya. Hanya tahu beberapa informasi dari teman kuliahnya dan sahabat-sahabatku. Namun, sejak kepindahan keluargaku kembali ke Riau, aku kehilangan dia.”
Ternyata bukan aku seorang yang sering menanti senja yang turun perlahan di pesisir ini. Kuakui memang semua yang ada di sini memberikan banyak inspirasi. Aku pun mulai tertarik dengan kisahnya. Ternyata dia tidak seperti dugaanku semula. Ada kesan romantis yang terpancar dari caranya bercerita.
“Bagaimana Anda bisa kenal teman kuliahnya?”
”Mereka temanku waktu SMU. Mereka memberi banyak info tapi tak pernah mau memberitahu siapa nama gadis itu. Mereka memaksa aku berkenalan sendiri. Jujur, waktu kuliah aku menjadi grogi, ada perasaan takut dikala mendekati seorang wanita. Mungkin ini karma, pada waktu SMU, aku suka menjahili wanita. Begitulah teman-temanku berkata.”
Apakah dia beneran Iko ya? Aku tersenyum, “tapi... sepertinya Anda tidak seperti apa yang Anda ungkapkan. Buktinya sekarang, berani...”
“Sewaktu aku melihat Anda di sini, ada kesan bahwa Andalah gadis yang aku cari selama ini. Tapi, tetap tidak berani. Pada akhirnya, aku diberikan kesempatan dengan terjatuhnya pena Anda tadi. Suatu alasan yang jelas, bukan?”
”Eh iya, ya.”
Senyumannya semakin lebar. Lalu tawanya meledak. Astaga! Tawa itu... aku mengenali Iko dengan cara dia tertawa. Bahkan pada buku tahunan kami, ada beberapa kesan dari teman-teman yang menyinggung tawa khas dari Iko. Tapi...
Dia mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan kedua telapak tangannya seraya dimaju-mundurkan sedikit, ”maaf kalau mengagetkan Anda.”
”Nggak papa. Aku hanya jarang mendengar tawa selepas itu.”
”Anda punya hobi menulis?” tanyanya sambil menunjuk ke arah note dan pena.
”Iya. Tempat ini memberikan banyak inspirasi.”
”Ternyata bukan cuma aku saja yang berpikir seperti itu. Minimal ada 3 orang dengan tujuan yang sama di sini. Aku, Anda, dan gadis itu,” timpalnya. Ia kembali duduk.
“Anggota KAN? Karya Anak Negeri?” lanjutnya.
“Iya, kenapa...?” tanyaku.
Waktu terus berlalu, obrolan kami tetap mengalir. Tanpa sadar warna senja mulai memenuhi tempat ini. Rimbun dedaunan mendesir oleh sisiran angin laut.
==========
bagian 3
==========
”Sejak dua bulan yang lalu,” lanjutnya, ”aku diundang untuk membuat suatu projek di Bali. Dan aku teringat dengan pantai ini. Rinduku tiba-tiba membuncah. Aku rindu ufuk barat bernuansa sunset. Dan secara tiba-tiba, kantorku mengadakan meeting di Giri Trawangan sejak dua hari lalu. Sekarang sudah selesai dan aku bisa melampiaskan rindu selama ini. Tidak banyak yang kuketahui tentang perkembangan pesisir ini. Hanya dengan membaca cerita blog orang atau dari teman-temanku yang sesekali balik ke sini. Tapi sayangnya, sekarang aku hanya bisa datang sendiri. Mereka sudah berkarya di luar. Fiuh, beginilah. Kami semua sibuk. Aku mencoba menikmati ini tanpa mereka.”
Kata-katanya deras mengalir, seakan bercerita sendiri. Tatapannya hanya mengarah pada ufuk barat tanpa menoleh sedikitpun. Mungkin dia tidak sadar kalau aku diam-diam menyimaknya. Dari nada bicaranya aku teringat dengan teman kuliah dari daerah Sumatra. Logat Melayunya masih terasa, tapi samar terdengar..
Kisahnya masih berlanjut. Tak lama aku menatapnya, memperhatikan wajah beserta raut muka yang mengisahkan. Terkadang dia tersenyum lebar dikala dia mendapat kabar akan kesuksesan teman-temannya. Ada juga raut sedih tergambar waktu teringang perpisahan dengan teman-teman dan pulau ini. Persahabatan lelaki. Pencipta mimpi-mimpi. Penggapai cita-cita setinggi langit. Tersebut juga kisah tentang keluarganya yang berpindah ke ibukota dan pencapaian mimpi-mimpi yang dia rajut pada negara yang disebut Red Dot Island.
Lama memperhatikan garis-garis wajahnya, aku mencoba mengingat. Tunggu! Raut yang seperti ini pernah akrab denganku. Tapi...tidak mungkin. Apakah dia Iko? Ya, Iko. Kakak kelas SMU yang kerap menggodaku sewaktu masih kelas satu SMU. Tapi bukankah Iko berpenampilan agak culun, dengan kacamata dan... Tidak seperti sosok tegap di sini dengan wajah dan gaya layaknya orang tak ketinggalan mode. Sepertinya bukan.
Dia berdehem membangunkanku dari lamunan. “Tujuan aku ke sini sebenarnya mencari seseorang. Sewaktu Undergraduate di Bali, aku sering main ke pantai ini. Hampir tiap akhir minggu kuhabiskan waktu di Mataram dan Sengigi. Di sinilah aku memperhatikan seorang gadis. Gadis itu sering duduk di bangku ini. Aku tidak mengenalnya. Hanya tahu beberapa informasi dari teman kuliahnya dan sahabat-sahabatku. Namun, sejak kepindahan keluargaku kembali ke Riau, aku kehilangan dia.”
Ternyata bukan aku seorang yang sering menanti senja yang turun perlahan di pesisir ini. Kuakui memang semua yang ada di sini memberikan banyak inspirasi. Aku pun mulai tertarik dengan kisahnya. Ternyata dia tidak seperti dugaanku semula. Ada kesan romantis yang terpancar dari caranya bercerita.
“Bagaimana Anda bisa kenal teman kuliahnya?”
”Mereka temanku waktu SMU. Mereka memberi banyak info tapi tak pernah mau memberitahu siapa nama gadis itu. Mereka memaksa aku berkenalan sendiri. Jujur, waktu kuliah aku menjadi grogi, ada perasaan takut dikala mendekati seorang wanita. Mungkin ini karma, pada waktu SMU, aku suka menjahili wanita. Begitulah teman-temanku berkata.”
Apakah dia beneran Iko ya? Aku tersenyum, “tapi... sepertinya Anda tidak seperti apa yang Anda ungkapkan. Buktinya sekarang, berani...”
“Sewaktu aku melihat Anda di sini, ada kesan bahwa Andalah gadis yang aku cari selama ini. Tapi, tetap tidak berani. Pada akhirnya, aku diberikan kesempatan dengan terjatuhnya pena Anda tadi. Suatu alasan yang jelas, bukan?”
”Eh iya, ya.”
Senyumannya semakin lebar. Lalu tawanya meledak. Astaga! Tawa itu... aku mengenali Iko dengan cara dia tertawa. Bahkan pada buku tahunan kami, ada beberapa kesan dari teman-teman yang menyinggung tawa khas dari Iko. Tapi...
Dia mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan kedua telapak tangannya seraya dimaju-mundurkan sedikit, ”maaf kalau mengagetkan Anda.”
”Nggak papa. Aku hanya jarang mendengar tawa selepas itu.”
”Anda punya hobi menulis?” tanyanya sambil menunjuk ke arah note dan pena.
”Iya. Tempat ini memberikan banyak inspirasi.”
”Ternyata bukan cuma aku saja yang berpikir seperti itu. Minimal ada 3 orang dengan tujuan yang sama di sini. Aku, Anda, dan gadis itu,” timpalnya. Ia kembali duduk.
“Anggota KAN? Karya Anak Negeri?” lanjutnya.
“Iya, kenapa...?” tanyaku.
Waktu terus berlalu, obrolan kami tetap mengalir. Tanpa sadar warna senja mulai memenuhi tempat ini. Rimbun dedaunan mendesir oleh sisiran angin laut.
==========
bagian 3
==========
Kamis, 29 September 2011
Sepenggal Kisah yang Terungkap... (1)
Akhirnya aku bisa menikmati lagi suasana pantai ini, Senggigi, begitulah namanya. Matahari menjelang terbenam. Burung camar dan nelayan tetap berebut mencari ikan. Angin laut masih berhembus, menerpa wajahku.
’Saatnya menulis,’ bisik batinku.
Baris demi baris rangkaian kata tercetak sudah. Aku harus menulis. aku tidak mau kehilangan rasa yang kudapat dari suasana ini. Pantai dan laut, tema kali ini. Bukan, bukan kali ini saja, bahkan berkali-kali. Sahabatku sering menantangku untuk membuat tema lain. Susah. Sudah dicoba dan bisa. Tapi, aku lebih nyaman dengan tema pantai. Aku lebih bisa menarik pena dari tempatnya. Walau, harus mengusap kening dengan telapak tanganku jika buntu.
Topi bundar yang sedari tadi menempel di atas kepala sejenak kulepas. Angin segar menggerai rambut pendekku. Baru saja kupotong rambut sebahu, ingin tampil dengan penampilan baru. Kuhela napas sejenak, lalu mencoba melanjutkan tulisan itu. Kucoba mencari inspirasi.
Awan tipis nan hitam mulai mengancam suasana sunset. Aku hanya bisa pasrah. Semoga tidak hujan. Dari bangku kayu ini masih terlihat anak-anak bermain air di pantai. Masih berlarian berkejaran diiringin gelak tawa. Riang memercikkan air. Aku melamun memperhatikan, hingga tak sadar pena yang semula terpegang, tergelincir dari jemariku
”Anak-anak memang polos, begitu bahagia.”
Sontak suara itu memecah lamunanku. Sesosok pria telah berdiri di belakangku, ikut memandang ke arah sekelompak anak itu. Dia menoleh. Tersenyum kepadaku.
”Maaf, tadi pena Anda jatuh” katanya seraya menyodorkan sebuah pena. Aku tersadar akan kehilangan benda itu. Pena pesanan khusus, dengan ukiran bertuliskan ’Sari’, panggilanku.
”Iya, terimakasih.” Buku dan pena itu kutaruh di atas bangku.
”Boleh saya duduk di sini?”
“Ini tempat umum kok,” jawabku cuek.
Dia duduk di ujung bangku, memangku sebuah ransel. Kami terdiam beberapa saat. Buku dan penaku tetap tertaruh. Padangan mataku mengarah ke pantai, tapi pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai orang itu. Siapa dia? Sepertinya pernah bertemu. Apakah orang lokal? Atau turis domestik? Kenapa dia duduk di sini sedangkan ada tempat duduk yang kosong tak jauh dari sini? Apakah dia melihat seorang wanita dan berusaha menggoda atau mendekatinya? Yaitu aku?
”Anda sedang menanti seseorang?” tanyanya memulai pembicaraan.
Aku hanya menggeleng.
"Aku menunggu sesuatu. Senja yang turun perlahan di sana." Dia menunjuk ke arah Gunung Agung di pulau Dewata. "Matahari suka terbenam, eh tidak... bersembunyi dengan manisnya tepat di punggung sang Agung," celotehnya.
Aku menatap paras pria itu. Ekspresinya tidak menunjukkan sesosok penggoda. Lebih pada ekspresi yang sedang menunggu. Penantian panjang. Ransel yang sedari tadi dipangku, ditaruhnya di sebelah kirinya.
"Iya, sama. Aku juga" sahutku.
”Setiap sore?” tanyanya.
”Hanya sesekali, jika ada waktu...”
”Dengan kekasih?” potongnya.
Aku hanya diam. Aku tidak senang dengan pertanyaan itu. Ia pun kembali diam. Lebih lama. Aku kembali pada note. Membaca ulang apa yang telah tertulis sore ini.
====================
bagian 2
====================
’Saatnya menulis,’ bisik batinku.
Baris demi baris rangkaian kata tercetak sudah. Aku harus menulis. aku tidak mau kehilangan rasa yang kudapat dari suasana ini. Pantai dan laut, tema kali ini. Bukan, bukan kali ini saja, bahkan berkali-kali. Sahabatku sering menantangku untuk membuat tema lain. Susah. Sudah dicoba dan bisa. Tapi, aku lebih nyaman dengan tema pantai. Aku lebih bisa menarik pena dari tempatnya. Walau, harus mengusap kening dengan telapak tanganku jika buntu.
Topi bundar yang sedari tadi menempel di atas kepala sejenak kulepas. Angin segar menggerai rambut pendekku. Baru saja kupotong rambut sebahu, ingin tampil dengan penampilan baru. Kuhela napas sejenak, lalu mencoba melanjutkan tulisan itu. Kucoba mencari inspirasi.
Awan tipis nan hitam mulai mengancam suasana sunset. Aku hanya bisa pasrah. Semoga tidak hujan. Dari bangku kayu ini masih terlihat anak-anak bermain air di pantai. Masih berlarian berkejaran diiringin gelak tawa. Riang memercikkan air. Aku melamun memperhatikan, hingga tak sadar pena yang semula terpegang, tergelincir dari jemariku
”Anak-anak memang polos, begitu bahagia.”
Sontak suara itu memecah lamunanku. Sesosok pria telah berdiri di belakangku, ikut memandang ke arah sekelompak anak itu. Dia menoleh. Tersenyum kepadaku.
”Maaf, tadi pena Anda jatuh” katanya seraya menyodorkan sebuah pena. Aku tersadar akan kehilangan benda itu. Pena pesanan khusus, dengan ukiran bertuliskan ’Sari’, panggilanku.
”Iya, terimakasih.” Buku dan pena itu kutaruh di atas bangku.
”Boleh saya duduk di sini?”
“Ini tempat umum kok,” jawabku cuek.
Dia duduk di ujung bangku, memangku sebuah ransel. Kami terdiam beberapa saat. Buku dan penaku tetap tertaruh. Padangan mataku mengarah ke pantai, tapi pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai orang itu. Siapa dia? Sepertinya pernah bertemu. Apakah orang lokal? Atau turis domestik? Kenapa dia duduk di sini sedangkan ada tempat duduk yang kosong tak jauh dari sini? Apakah dia melihat seorang wanita dan berusaha menggoda atau mendekatinya? Yaitu aku?
”Anda sedang menanti seseorang?” tanyanya memulai pembicaraan.
Aku hanya menggeleng.
"Aku menunggu sesuatu. Senja yang turun perlahan di sana." Dia menunjuk ke arah Gunung Agung di pulau Dewata. "Matahari suka terbenam, eh tidak... bersembunyi dengan manisnya tepat di punggung sang Agung," celotehnya.
Aku menatap paras pria itu. Ekspresinya tidak menunjukkan sesosok penggoda. Lebih pada ekspresi yang sedang menunggu. Penantian panjang. Ransel yang sedari tadi dipangku, ditaruhnya di sebelah kirinya.
"Iya, sama. Aku juga" sahutku.
”Setiap sore?” tanyanya.
”Hanya sesekali, jika ada waktu...”
”Dengan kekasih?” potongnya.
Aku hanya diam. Aku tidak senang dengan pertanyaan itu. Ia pun kembali diam. Lebih lama. Aku kembali pada note. Membaca ulang apa yang telah tertulis sore ini.
====================
bagian 2
====================
Selasa, 21 Juni 2011
antara kami
"Aku masih kangen..."
"Iya, aku tahu."
Lampu redup, mengisi ruangan kami. Setelah sekian lama meneguk kenikmatan.
Bersama.
"Kapan kita ketemu lagi...?"
"Besok, sayang. Masih ada besok dan lusa dan seterusnya."
"Tapi sampe kapan kita terus begini?"
Aku terdiam. Mulutku menghampiri telinganya seraya berbisik mesra, "selamanya..."
"Eemmm... peluk aku donk."
Kami kembali tenggelam dalam dunia kami. Saat ini hanya ada kami. Tak kan ada yang bisa memisahkan kami.
"Udah malam neh, aku balik dulu ya," ucapanku membuatnya cemberut.
"Last kiss honey, for tonight."
Aku mengecup lembut bibirnya. Lama...
Sebenarnya aku ingin merasakan lebih lama lagi dengannya. Tapi aku harus pulang.
Dia juga harus pulang.
Kami berpakaian kembali.
"Sampai jumpa lagi besok."
"Yup."
Kami meninggalkan apartment sewaanku, pulang kembali kepada istri masing-masing.
Jumat, 03 Juni 2011
satu kebahagiaan
"Nama saya Melissa. Melissa Raka Telano. Pasangan resmi dari Raka Telano" seraya menunjukkan sebuah cincin pada jari manisnya.
"Risa..."
"Dengar ya... Mulai sekarang jauhi suami saya. Kami keluarga bahagia. Anda tahu betapa besarnya cinta dia, kekasih Anda itu, kepada saya."
"Iya, saya tahu..."
"Anda tahu kami sudah dianugerahi peri kecil yang lucu. Saira Putri Telano. Kami telah bahagia. Ini peringatan, Anda paham." Foto bertiga, sekeluarga diperlihatkan.
"Saya paham. Cantik sekali..."
"Tidak butuh bualan!! Saya ingin Anda jauh-jauh dari kami."
"Saya tidak bisa! Tapi dari awal saya sudah ikhlas..."
"Dari awal? Ikhlas apanya, tidak ada kata ikhlas dalam perselingkuhan."
"Saya ikhlaskan Raka Telano untuk mendapatkan peri kecil yang lucu dari orang lain, itulah mengapa saya ikhlaskan Raka Telano untuk menikah lagi. Saya tidak bisa memberikan kebahagiaan itu."
"Saya..."
"Saira... nama yang indah."
"Risa..."
"Dengar ya... Mulai sekarang jauhi suami saya. Kami keluarga bahagia. Anda tahu betapa besarnya cinta dia, kekasih Anda itu, kepada saya."
"Iya, saya tahu..."
"Anda tahu kami sudah dianugerahi peri kecil yang lucu. Saira Putri Telano. Kami telah bahagia. Ini peringatan, Anda paham." Foto bertiga, sekeluarga diperlihatkan.
"Saya paham. Cantik sekali..."
"Tidak butuh bualan!! Saya ingin Anda jauh-jauh dari kami."
"Saya tidak bisa! Tapi dari awal saya sudah ikhlas..."
"Dari awal? Ikhlas apanya, tidak ada kata ikhlas dalam perselingkuhan."
"Saya ikhlaskan Raka Telano untuk mendapatkan peri kecil yang lucu dari orang lain, itulah mengapa saya ikhlaskan Raka Telano untuk menikah lagi. Saya tidak bisa memberikan kebahagiaan itu."
"Saya..."
"Saira... nama yang indah."
Selasa, 31 Mei 2011
tunggu!
Harus malam ini.
"Hey tunggu!"
Kulihat sesuatu dari sakunya terjatuh. Sepertinya dia buru-buru menuju apartment seberang. Kupungut benda itu. Terbaca nama yang cukup familiar di telinga. Cukup tampan.
"Ya?"
"Dompet Anda terjatuh di halte tadi."
"Ahh..." Tangan kanannya meraba-raba saku belakang celananya.
"Terimakasih ya." sapanya. "Bagaimana saya bisa berterimakasih kepada Anda? Should we get some coffees. On me of course."
"Sekarang?"
"Besok bagaimana? Saya diburu waktu hari ini.
"Tidak, terimakasih. Cukup sekian perjumpaan kita. We never know what will happen tomorrow."
First and last smile for him...
====================
"Hey, senyum donk Nad... Cemburut mulu!"
"Gw nggak tau neh musti gimana? Kasihan juga dia. Ihh ngeri gw jadinya... ditikam orang di jalan."
"Makanya jangan suka jalan sendiri. Ayo jalan... Gw ambil dompet dulu... Tunggu di sini ya."
Nada, seorang perempuan yang sempurna itu menungguku. Lelaki yang telah membuat hatimu hancur telah tiada. Tiada.
Aku masuk ke kamar. Kupandangi secarik foto yang baru dicetak, pisau apel berlumuran darah. Setiap penjahat punya trofi sendiri-sendiri.
For me, myself...
"Hey tunggu!"
Kulihat sesuatu dari sakunya terjatuh. Sepertinya dia buru-buru menuju apartment seberang. Kupungut benda itu. Terbaca nama yang cukup familiar di telinga. Cukup tampan.
"Ya?"
"Dompet Anda terjatuh di halte tadi."
"Ahh..." Tangan kanannya meraba-raba saku belakang celananya.
"Terimakasih ya." sapanya. "Bagaimana saya bisa berterimakasih kepada Anda? Should we get some coffees. On me of course."
"Sekarang?"
"Besok bagaimana? Saya diburu waktu hari ini.
"Tidak, terimakasih. Cukup sekian perjumpaan kita. We never know what will happen tomorrow."
First and last smile for him...
====================
"Hey, senyum donk Nad... Cemburut mulu!"
"Gw nggak tau neh musti gimana? Kasihan juga dia. Ihh ngeri gw jadinya... ditikam orang di jalan."
"Makanya jangan suka jalan sendiri. Ayo jalan... Gw ambil dompet dulu... Tunggu di sini ya."
Nada, seorang perempuan yang sempurna itu menungguku. Lelaki yang telah membuat hatimu hancur telah tiada. Tiada.
Aku masuk ke kamar. Kupandangi secarik foto yang baru dicetak, pisau apel berlumuran darah. Setiap penjahat punya trofi sendiri-sendiri.
For me, myself...
Senin, 30 Mei 2011
pada akhirnya...
Hati terkoyak. Tersayat... iris demi iris pelan dengan pasti.
Setelah sekian lama menjalin kasih. Cukup lama. 6 bulan. Tidak setujukah kamu denganku bahwa 6 bulan itu lama? Kami telah merajut helai demi helai benang sayang. Membentuk sebuah sweater asmara yang selama ini membuat hangat hubungan kami. Menyulam kembali sobekan lama, menambalnya kembali dengan benang baru. Memperbarui yang selama ini kelam. Mempolakan helai sulaman, berdua.
Perasaan hancur. Bak dihempas ke dinding. Terlontar berkeping-keping.
Setelah sekian lama membangun istana. Batu demi batu, membentuk ruang rindu, tereratkan. Naungan tuk dua hati berteduh dan memadu kasih. Membuat memori indah.
Dan pada akhirnya...
Semua itu kandas. Berakhir sia-sia... Salahkah pada pilihan? Atau pada yang memutuskan?
--------------------
Bullshit.
Sesosok cewek yang tersendu di depan gw mengulanginya kembali. Sosok itu sebutlah sahabat gw. Empat kali itu banyak. Terlalu bodohkah dia untuk termakan racun cinta. Pada akhirnya ada yang akan dikorbankan untuk kebahagiaan orang lain.
I never cry for love. Even I am a girl and more than 10 times my relationship never work.
Guess what?
Yes, I am a player...
Setelah sekian lama menjalin kasih. Cukup lama. 6 bulan. Tidak setujukah kamu denganku bahwa 6 bulan itu lama? Kami telah merajut helai demi helai benang sayang. Membentuk sebuah sweater asmara yang selama ini membuat hangat hubungan kami. Menyulam kembali sobekan lama, menambalnya kembali dengan benang baru. Memperbarui yang selama ini kelam. Mempolakan helai sulaman, berdua.
Perasaan hancur. Bak dihempas ke dinding. Terlontar berkeping-keping.
Setelah sekian lama membangun istana. Batu demi batu, membentuk ruang rindu, tereratkan. Naungan tuk dua hati berteduh dan memadu kasih. Membuat memori indah.
Dan pada akhirnya...
Semua itu kandas. Berakhir sia-sia... Salahkah pada pilihan? Atau pada yang memutuskan?
--------------------
Bullshit.
Sesosok cewek yang tersendu di depan gw mengulanginya kembali. Sosok itu sebutlah sahabat gw. Empat kali itu banyak. Terlalu bodohkah dia untuk termakan racun cinta. Pada akhirnya ada yang akan dikorbankan untuk kebahagiaan orang lain.
I never cry for love. Even I am a girl and more than 10 times my relationship never work.
Guess what?
Yes, I am a player...
Rabu, 11 Mei 2011
he and I, first
Ada yang terlupakan.
Terlupakan. Kata itu sebenarnya tidak tepat untuk mendiskripsikan dia. Dia selalu ada. Eksis, bahasa yang lebih ngetrend sekarang ini.
Well, aku sudah mengenalnya beberapa tahun. Selama beberapa tahun itu jugalah kami belum pernah bertatap muka sekalipun.
Usually I am not so easy with stranger, but somehow he... I dunno. Bestfriendku yang mengenalkanku, yah diriku, dikenalkan dalam suatu percakapan antara dia dengan BFku pada foto facebooknya, dimana terdapat namaku ter-tag.
And last month...
"Hey girl, how are you lately?"
"I am doing fine."
"Busy week?"
"Kind of, paper, exam, presentation..."
"Well, good luck."
Simple Conversation. Begitulah caranya berkomunikasi. He just like checking. Beda dengan cara mantan pacarku. Sedikit mirip dengan orang tua, tanpa keinginan tahuan dengan detail apa yang sedang kulalui. Atau sebenarnya dia ingin, hanya... ah, apa yang kupikirkan.
He is too usual, plain character, not so attactive, and must be a dreamer person. Terlalu beda jauh dengan kriteria standar cowok yang kuinginkan.
Terlupakan. Kata itu sebenarnya tidak tepat untuk mendiskripsikan dia. Dia selalu ada. Eksis, bahasa yang lebih ngetrend sekarang ini.
Well, aku sudah mengenalnya beberapa tahun. Selama beberapa tahun itu jugalah kami belum pernah bertatap muka sekalipun.
Usually I am not so easy with stranger, but somehow he... I dunno. Bestfriendku yang mengenalkanku, yah diriku, dikenalkan dalam suatu percakapan antara dia dengan BFku pada foto facebooknya, dimana terdapat namaku ter-tag.
And last month...
"Hey girl, how are you lately?"
"I am doing fine."
"Busy week?"
"Kind of, paper, exam, presentation..."
"Well, good luck."
Simple Conversation. Begitulah caranya berkomunikasi. He just like checking. Beda dengan cara mantan pacarku. Sedikit mirip dengan orang tua, tanpa keinginan tahuan dengan detail apa yang sedang kulalui. Atau sebenarnya dia ingin, hanya... ah, apa yang kupikirkan.
He is too usual, plain character, not so attactive, and must be a dreamer person. Terlalu beda jauh dengan kriteria standar cowok yang kuinginkan.
Selasa, 29 Maret 2011
pangeran kodok... (2)
Tubuh ini masih berdiri di sela-sela pintu halte transjakarta. Petugas yang berjaga terkadang mengingatkanku untuk tetap mundur. Tapi aku acuh. Pikiranku ntah ke mana. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kendaraan yang biasa disebut busway. Kendaraan yang makin memadati lalu lintas ibukota negara ini.
Sesaat aku tersenyum ke arah orang-orang yang sempat melemparkan pandangan kepadaku dan sirna begitu mereka memalingkan mukanya dengan atau tanpa membalasnya. Pikiranku masih belum pulang.
"Lo nggak kos aja di sekitar sini?".
"Jauh amat rumah lo, kos aja kek."
"Busyett, berangkat jam berapa lo dari sana?"
Bosan! Pertanyaan dengan nada yang sama tiap kali ditanya di mana aku tinggal, di mana aku kerja, dan bagaimana cara datang ke tempat kerja.
Aku beri nama detik katak atau tiktak. Dunia dengan waktu hanya ada aku dan 'aku' yang berlompatan dalam detik memory yang saling berangkaian. Hanya ada aku yang mengatur semua percakapan, semua tindakan yang akan dilakukan 'aku' yang lain di dalamnya. Aku bisa marah, berang, diam, teriak, atau gembira. Aku tidak tahu sejak kapan fantasi ini datang. Tapi, selalu datang, sensasi rasa sepi dalam hiruk pikuk keramaian. Bukan lamunan, aku sengaja membuatnya. Saat egoku ingin menjadi raja, suasana hening pun akan kupanggil menghadap untuk memulainya. Aku begitu menikmati momen ini. Tak akan bosan kumelakukannya. Tak akan ada yang merasa aneh melihatku hanya terdiam dengan tatapan kosong. Tak akan ada yang mengira. Tak akan ada yang paham, ntah yang aku pikirkan.
Aku makin asyik dalam tiktakku sendiri. Tentang penyesalan keputusan, kepuasan pribadi, menyangkut pertemanan, keceriaan suasana, kenikmatan kuliner, dan kerja yang isinya seperti lempar-melempar bola serta tak luput mengenai cinta. Sebenarnya rutinitas kerja membuatku bersemangat. Bagaimana tidak aku bertemu dia di sana. Mengagumi seseorang itu mudah, hanya ketetapan hati yang menjadikannya tidak mudah. Seorang sahabat menilaiku terlalu selektif. Walau pun egoku tidak menyalahkan apa yang kuperbuat. Bertindak selektif bukan berarti tidak selamanya tidak memilih. Setidaknya begitulah pendapat batinku. Namun, penyesalan seperti kura-kura saat berlari. Tak bisa datang sesegera. Seandainya saja....... ahh bodoh amat, jika aku melakukannya mungkin kita sekarang bahagia. Tapi 'aku' yang lain bersikeras untuk menahanku. Aku pun masih mengiyakan, sedang 'diriku' masih menggeleng. Sudah berapa kali aku memaki 'dia' bodoh. Sangat lama aku merasa berang pada 'dirinya'. Mungkin 'kamu' benar benar ingin aku melupakan dia, menyerah.
Aku meloncat meraih lipatan-lipatan memori yang bertebaran, mencoba mencari sejak kapan aku ingin selalu mencari tahu tentangmu. Ef-be, ye-em, sms, apapun info untuk mengenyangkan rasa lapar ego ini akan dirimu. Aku paham ini bukan lagi seperti khayalan. Tapi ini lebih mirip akal-akalan ego, saat rasa cemburu yang menang. Ada rasa tidak rela membagi kebahagiaan, walau sama sekali belum pernah kudapat. Ketika kita hanya dua pekerja yang berbagi cerita dengan jemari menari di atas handphone. Saat tingkah laku kamu membuat aku sibuk tersenyum sendiri, terkadang ingin kubagi senyum itu denganmu. Kenangan itu memang hanya ingatan. Adakalanya tertumpuk kenangan baru hingga suatu waktu terlempar ke atas kembali. Dan sialnya memori itu selalu terkatrol ke atas hingga membuatku geram kepada 'diriku' sendiri.
Aku menoleh ke luar jendela. Menerobos tanya dalam anganku. Akan dia mampu mengerti?
"Pasti itu! Yakin deh" begitu pongahnya sugesti mencoba menata kembali kerapuhan ini. Dan kini hanya menunggu untuk berpijak lebih pasti. kuyakin bahwa semua ini memang menuju jalan yang terbaik. 'Persetan dengan jalan terbaik, ntah kenapa semua orang selalu berkata begitu. Kita hidup di masa kini, bukan untuk menunggu jalan imaginasi yang kita golongkan dalam kategori terbaik.'
Mari kita... kita??? Iya, aku dan 'kamu', bukan berandai-andai ataupun berkeluh-kesalan, cukup kepak masa lalu, rangkai masa depan, dan tapaki kehidupan sekarang.
Sesaat aku tersenyum ke arah orang-orang yang sempat melemparkan pandangan kepadaku dan sirna begitu mereka memalingkan mukanya dengan atau tanpa membalasnya. Pikiranku masih belum pulang.
"Lo nggak kos aja di sekitar sini?".
"Jauh amat rumah lo, kos aja kek."
"Busyett, berangkat jam berapa lo dari sana?"
Bosan! Pertanyaan dengan nada yang sama tiap kali ditanya di mana aku tinggal, di mana aku kerja, dan bagaimana cara datang ke tempat kerja.
Aku beri nama detik katak atau tiktak. Dunia dengan waktu hanya ada aku dan 'aku' yang berlompatan dalam detik memory yang saling berangkaian. Hanya ada aku yang mengatur semua percakapan, semua tindakan yang akan dilakukan 'aku' yang lain di dalamnya. Aku bisa marah, berang, diam, teriak, atau gembira. Aku tidak tahu sejak kapan fantasi ini datang. Tapi, selalu datang, sensasi rasa sepi dalam hiruk pikuk keramaian. Bukan lamunan, aku sengaja membuatnya. Saat egoku ingin menjadi raja, suasana hening pun akan kupanggil menghadap untuk memulainya. Aku begitu menikmati momen ini. Tak akan bosan kumelakukannya. Tak akan ada yang merasa aneh melihatku hanya terdiam dengan tatapan kosong. Tak akan ada yang mengira. Tak akan ada yang paham, ntah yang aku pikirkan.
Aku makin asyik dalam tiktakku sendiri. Tentang penyesalan keputusan, kepuasan pribadi, menyangkut pertemanan, keceriaan suasana, kenikmatan kuliner, dan kerja yang isinya seperti lempar-melempar bola serta tak luput mengenai cinta. Sebenarnya rutinitas kerja membuatku bersemangat. Bagaimana tidak aku bertemu dia di sana. Mengagumi seseorang itu mudah, hanya ketetapan hati yang menjadikannya tidak mudah. Seorang sahabat menilaiku terlalu selektif. Walau pun egoku tidak menyalahkan apa yang kuperbuat. Bertindak selektif bukan berarti tidak selamanya tidak memilih. Setidaknya begitulah pendapat batinku. Namun, penyesalan seperti kura-kura saat berlari. Tak bisa datang sesegera. Seandainya saja....... ahh bodoh amat, jika aku melakukannya mungkin kita sekarang bahagia. Tapi 'aku' yang lain bersikeras untuk menahanku. Aku pun masih mengiyakan, sedang 'diriku' masih menggeleng. Sudah berapa kali aku memaki 'dia' bodoh. Sangat lama aku merasa berang pada 'dirinya'. Mungkin 'kamu' benar benar ingin aku melupakan dia, menyerah.
Aku meloncat meraih lipatan-lipatan memori yang bertebaran, mencoba mencari sejak kapan aku ingin selalu mencari tahu tentangmu. Ef-be, ye-em, sms, apapun info untuk mengenyangkan rasa lapar ego ini akan dirimu. Aku paham ini bukan lagi seperti khayalan. Tapi ini lebih mirip akal-akalan ego, saat rasa cemburu yang menang. Ada rasa tidak rela membagi kebahagiaan, walau sama sekali belum pernah kudapat. Ketika kita hanya dua pekerja yang berbagi cerita dengan jemari menari di atas handphone. Saat tingkah laku kamu membuat aku sibuk tersenyum sendiri, terkadang ingin kubagi senyum itu denganmu. Kenangan itu memang hanya ingatan. Adakalanya tertumpuk kenangan baru hingga suatu waktu terlempar ke atas kembali. Dan sialnya memori itu selalu terkatrol ke atas hingga membuatku geram kepada 'diriku' sendiri.
Aku menoleh ke luar jendela. Menerobos tanya dalam anganku. Akan dia mampu mengerti?
"Pasti itu! Yakin deh" begitu pongahnya sugesti mencoba menata kembali kerapuhan ini. Dan kini hanya menunggu untuk berpijak lebih pasti. kuyakin bahwa semua ini memang menuju jalan yang terbaik. 'Persetan dengan jalan terbaik, ntah kenapa semua orang selalu berkata begitu. Kita hidup di masa kini, bukan untuk menunggu jalan imaginasi yang kita golongkan dalam kategori terbaik.'
Mari kita... kita??? Iya, aku dan 'kamu', bukan berandai-andai ataupun berkeluh-kesalan, cukup kepak masa lalu, rangkai masa depan, dan tapaki kehidupan sekarang.
Kategori
ceRiTa_/_KarangaN,
iriSaN_Kisah_laLu
Kamis, 24 Maret 2011
pangeran kodok... (1)
"Hey kodok jelek! Ngapain lo natap gw?"
Bagai terpaku akan tangis yang terdengar meraung dari dalam kamarku, si kodok diam memandang kemari. Tanpa diiringi suaranya yang khas. Hanya membisu.
Pelik memang urusan cowok. Apa seh yang ada di pikiran mereka. Kayaknya benar kalo 80% fantasi dari mereka itu hanya seks semata. Nggak ada yang lain...
Tau ah, mending tidur.
'Krook...'
...............
'Krook...'
...............!!!
'Krook...'
Genggam buku sekenanya... dan gw lempar ke arah suara itu.
Plak!!!
Bagai terpaku akan tangis yang terdengar meraung dari dalam kamarku, si kodok diam memandang kemari. Tanpa diiringi suaranya yang khas. Hanya membisu.
Pelik memang urusan cowok. Apa seh yang ada di pikiran mereka. Kayaknya benar kalo 80% fantasi dari mereka itu hanya seks semata. Nggak ada yang lain...
Tau ah, mending tidur.
'Krook...'
...............
'Krook...'
...............!!!
'Krook...'
Genggam buku sekenanya... dan gw lempar ke arah suara itu.
Plak!!!
Rabu, 16 Maret 2011
pangeran kodok...
Ada berapa versi seh cerita pangeran kodok ini ?
http://anakmudasite.blogspot.com/2008/10/pangeran-kodok-dan-putri-cantik.html
http://dita-maharani.blogspot.com/2009/12/pangeran-kodok.html
http://anakmudasite.blogspot.com/2008/10/pangeran-kodok-dan-putri-cantik.html
http://dita-maharani.blogspot.com/2009/12/pangeran-kodok.html
Kategori
ceRiTa_/_KarangaN,
iriSaN_Kisah_laLu
Rabu, 21 Juli 2010
Pantaskah Aku (6)
Pantaskah Aku (5)
***
“Hilmy mau kan lemon tea anget?” Aku bertanya, jika sekiranya Hilmy ada pilihan lain.
“Mau Vy..Apapun..asal buatan kamu..”Hilmy ternyata terus menatapku sedari tadi. Aku jadi agak kikuk dan salah tingkah. Nyaris air panas di tanganku tumpah.
“My, harusnya kan kita makan di Sky Dining Plaza Semanggi”
“Ho-oh..”Hilmy menjawab singkat.
“Endingnya kita malah beli bubur kacang ijo Mang Otong..Pake ujan-ujanan lagi..Gara-gara aku nih..Kamu ngga marah kan My?Maaf..” Jujur, aku merasa bersalah melihat kondisi Hilmy hari ini, meskipun sesungguhnya, aku malah merasa lebih bahagia. Aku melihat sisi lain Hilmy yang belum pernah kuketahui,pikirku.
“Apapun makanannya, yang penting makannya sama kamu Vy..” celetuk Hilmy, asal..
“Apaan sih lu My…ada-ada aja..”Aku tersenyum.
Sepertinya, kami menyerah setelah sekian hari kami membisu dalam pikiran kami masing-masing. Percakapan itu kembali mengalir normal. Bahkan, terasa lebih menyenangkan dari sebelumnya. Akupun mulai melupakan kekhawatiranku. Kami saling menanyakan suasana pekerjaan kami masing-masing. Sesekali mengomentari acara televisi. Menikmati bubur kacang hijau dan lemon tea kami. Menikmati kebersamaan kami. Hingga aku mendadak tercekat sendiri ketika Hilmy memulai pertanyaan utamanya.
“Vy, may I ask you something?”
“What?”
“Tapi jangan kaget dulu, aku pengen kamu pikir baik-baik..”
“Oke..emang pertanyaannya apa?”
“Silvy dear..” Hilmy diam sebentar,kemudian melanjutkan..
“Will you marry me? Spending your entire life together with me?”
Spontan aku meletakkan mangkukku. Tanganku, kemudian diikuti seluruh badanku, semuanya mendadak dingin. Bergetar aku meraih gelas lemon tea-ku, berusaha menenangkan kekalutanku dan sekelebat bayang-bayang itu muncul lagi. Skenario kisah mbak Hesthi. Kondisi aku, kondisi kedua orang tuaku, kondisi orang tua Hilmy, segala prestasi Hilmy…
Pening..Rasanya tidak ada darah yang mengalir di tubuhku..Hilmy langsung memegangi tanganku.
“Vy..aku tahu kok. Aku tahu tentang mbak Hesthi. Maaf banget, waktu aku betulin handphone kamu yang hang dulu itu, aku penasaran karena di inbox dan sent item kamu banyak nama Mbak Hesthi. Disitu aku tahu kamu lagi berusaha menenangkan mbak Hesthi. Tanpa kamu sadar, bahwa justru kamu itu ikut-ikutan memiliki perasaan seperti mbak Hesthi… Silvy, yang dihadapi mbak Hesthi itu kenyataan, tetapi yang kamu rasakan sekarang itu prasangka…”
Aku tak tahan lagi. Aku menangis..Hilmy terus menggenggam tanganku.
“Silvy pernah baca Edensornya Andrea Hirata kan? ‘Jangan pernah mendahului nasib’. Silvy..situasi kamu tuh berbeda dengan mbak Hesthi…”
“Tapi My..kamu tahu sendiri kan? Aku siapa? Aku cuma anak yang lahir di ujung gunung. Sampai saat ini aja, aku kerja bukan buat aku. Aku bukan orang yang berdiri untuk diriku sendiri, Hilmy…Kamu tahu sendiri kan kondisi ekonomi orang tuaku? Kamu harusnya tahu, kalau aku sebetulnya kurang pan..”
“Vy, stop merendahkan diri sendiri! Please Vy..”
Aku sudah tidak sanggup menatap Hilmy lagi.Aku terus menangis sejadi-jadinya.
“Vy, harusnya kamu bersyukur sama Yang DiAtas..Dia menciptakan kamu istimewa Vy..Istimewa sekali. Silvy harus percaya itu. Kenapa aku bisa bilang istimewa? Pertama, dari segala keterbatasan keluarga kamu, kamu terlahir sehat, setidaknya tidak cacat. Kedua, kamu punya keluarga yang bahagia…selalu ada di deket Silvy..Pernahkah Silvy membayangkan ditinggalkan Ayah dua tahun, ke luar negeri? Itu terjadi sama aku waktu kecil, dua tahun aku tinggal bertiga doang, karena Ayah melanjutkan studi. Aku sempat merasakan penderitaan ibuku ngurusin aku dan adikku yang masih kecil-kecil..Ketiga, kamu diberi kesempatan untuk dapet pendidikan yang baik. Vy, jika kamu menyebut diri kamu orang ujung gunung, kamu itu masuk orang ujung gunung yang isitimewa, karena bisa ngerasain diwisuda. Bisa ngerasain kerja di perusahaan multinational. Keempat, gabungan dari semuanya, sekarang udah jarang Vy, orang yang punya gabungan antara behavior, attitude, intelektual, dan kharisma..Dan kamu memilikinya..Makanya, aku mengkategorikan kamu sebagai orang istimewa..Satu hal yang penting lagi Vy, orang tua aku sudah nerima kamu sepenuhnya. Aku, aku sendiri Vy, Hilmy Permana, I love you so much..Di mata kami, Silvy itu istimewa…Please Silvy, kamu harus percaya..kamu istimewa..”
Aku masih terdiam, antara percaya dan tidak. Benarkah semua perkataan Hilmy?
“Vy, orang tuaku bahkan udah merencanakan kunjungan ke keluarga kamu..”
Aku akhirnya menoleh kearah Hilmy, memandang matanya, berusaha mencari kebenaran dari setiap perkataannya.
“Vy, please trust me..”
Masih mencari kebenaran di sudut matanya, perlahan hatiku membuat keputusan. Keputusan yang aku yakin akan merubah hidupku.
“Hilmy..” Pelan aku berucap.
“Iya Silvy?” Hilmy terus menggenggam tanganku.
“I do..”Aku menghela nafas, air mataku mengalir lagi, tetapi aku merasa lega.
“Terimakasih banyak, Silvy..Thank you for trusting me..”
“Thank you for this great Valentine day..”
“Ngga hanya hari ini, Silvy dear..Our Valentine day will last forever..”
Forever.
Happy Valentine..
***
***
“Hilmy mau kan lemon tea anget?” Aku bertanya, jika sekiranya Hilmy ada pilihan lain.
“Mau Vy..Apapun..asal buatan kamu..”Hilmy ternyata terus menatapku sedari tadi. Aku jadi agak kikuk dan salah tingkah. Nyaris air panas di tanganku tumpah.
“My, harusnya kan kita makan di Sky Dining Plaza Semanggi”
“Ho-oh..”Hilmy menjawab singkat.
“Endingnya kita malah beli bubur kacang ijo Mang Otong..Pake ujan-ujanan lagi..Gara-gara aku nih..Kamu ngga marah kan My?Maaf..” Jujur, aku merasa bersalah melihat kondisi Hilmy hari ini, meskipun sesungguhnya, aku malah merasa lebih bahagia. Aku melihat sisi lain Hilmy yang belum pernah kuketahui,pikirku.
“Apapun makanannya, yang penting makannya sama kamu Vy..” celetuk Hilmy, asal..
“Apaan sih lu My…ada-ada aja..”Aku tersenyum.
Sepertinya, kami menyerah setelah sekian hari kami membisu dalam pikiran kami masing-masing. Percakapan itu kembali mengalir normal. Bahkan, terasa lebih menyenangkan dari sebelumnya. Akupun mulai melupakan kekhawatiranku. Kami saling menanyakan suasana pekerjaan kami masing-masing. Sesekali mengomentari acara televisi. Menikmati bubur kacang hijau dan lemon tea kami. Menikmati kebersamaan kami. Hingga aku mendadak tercekat sendiri ketika Hilmy memulai pertanyaan utamanya.
“Vy, may I ask you something?”
“What?”
“Tapi jangan kaget dulu, aku pengen kamu pikir baik-baik..”
“Oke..emang pertanyaannya apa?”
“Silvy dear..” Hilmy diam sebentar,kemudian melanjutkan..
“Will you marry me? Spending your entire life together with me?”
Spontan aku meletakkan mangkukku. Tanganku, kemudian diikuti seluruh badanku, semuanya mendadak dingin. Bergetar aku meraih gelas lemon tea-ku, berusaha menenangkan kekalutanku dan sekelebat bayang-bayang itu muncul lagi. Skenario kisah mbak Hesthi. Kondisi aku, kondisi kedua orang tuaku, kondisi orang tua Hilmy, segala prestasi Hilmy…
Pening..Rasanya tidak ada darah yang mengalir di tubuhku..Hilmy langsung memegangi tanganku.
“Vy..aku tahu kok. Aku tahu tentang mbak Hesthi. Maaf banget, waktu aku betulin handphone kamu yang hang dulu itu, aku penasaran karena di inbox dan sent item kamu banyak nama Mbak Hesthi. Disitu aku tahu kamu lagi berusaha menenangkan mbak Hesthi. Tanpa kamu sadar, bahwa justru kamu itu ikut-ikutan memiliki perasaan seperti mbak Hesthi… Silvy, yang dihadapi mbak Hesthi itu kenyataan, tetapi yang kamu rasakan sekarang itu prasangka…”
Aku tak tahan lagi. Aku menangis..Hilmy terus menggenggam tanganku.
“Silvy pernah baca Edensornya Andrea Hirata kan? ‘Jangan pernah mendahului nasib’. Silvy..situasi kamu tuh berbeda dengan mbak Hesthi…”
“Tapi My..kamu tahu sendiri kan? Aku siapa? Aku cuma anak yang lahir di ujung gunung. Sampai saat ini aja, aku kerja bukan buat aku. Aku bukan orang yang berdiri untuk diriku sendiri, Hilmy…Kamu tahu sendiri kan kondisi ekonomi orang tuaku? Kamu harusnya tahu, kalau aku sebetulnya kurang pan..”
“Vy, stop merendahkan diri sendiri! Please Vy..”
Aku sudah tidak sanggup menatap Hilmy lagi.Aku terus menangis sejadi-jadinya.
“Vy, harusnya kamu bersyukur sama Yang DiAtas..Dia menciptakan kamu istimewa Vy..Istimewa sekali. Silvy harus percaya itu. Kenapa aku bisa bilang istimewa? Pertama, dari segala keterbatasan keluarga kamu, kamu terlahir sehat, setidaknya tidak cacat. Kedua, kamu punya keluarga yang bahagia…selalu ada di deket Silvy..Pernahkah Silvy membayangkan ditinggalkan Ayah dua tahun, ke luar negeri? Itu terjadi sama aku waktu kecil, dua tahun aku tinggal bertiga doang, karena Ayah melanjutkan studi. Aku sempat merasakan penderitaan ibuku ngurusin aku dan adikku yang masih kecil-kecil..Ketiga, kamu diberi kesempatan untuk dapet pendidikan yang baik. Vy, jika kamu menyebut diri kamu orang ujung gunung, kamu itu masuk orang ujung gunung yang isitimewa, karena bisa ngerasain diwisuda. Bisa ngerasain kerja di perusahaan multinational. Keempat, gabungan dari semuanya, sekarang udah jarang Vy, orang yang punya gabungan antara behavior, attitude, intelektual, dan kharisma..Dan kamu memilikinya..Makanya, aku mengkategorikan kamu sebagai orang istimewa..Satu hal yang penting lagi Vy, orang tua aku sudah nerima kamu sepenuhnya. Aku, aku sendiri Vy, Hilmy Permana, I love you so much..Di mata kami, Silvy itu istimewa…Please Silvy, kamu harus percaya..kamu istimewa..”
Aku masih terdiam, antara percaya dan tidak. Benarkah semua perkataan Hilmy?
“Vy, orang tuaku bahkan udah merencanakan kunjungan ke keluarga kamu..”
Aku akhirnya menoleh kearah Hilmy, memandang matanya, berusaha mencari kebenaran dari setiap perkataannya.
“Vy, please trust me..”
Masih mencari kebenaran di sudut matanya, perlahan hatiku membuat keputusan. Keputusan yang aku yakin akan merubah hidupku.
“Hilmy..” Pelan aku berucap.
“Iya Silvy?” Hilmy terus menggenggam tanganku.
“I do..”Aku menghela nafas, air mataku mengalir lagi, tetapi aku merasa lega.
“Terimakasih banyak, Silvy..Thank you for trusting me..”
“Thank you for this great Valentine day..”
“Ngga hanya hari ini, Silvy dear..Our Valentine day will last forever..”
Forever.
Happy Valentine..
***
Senin, 19 Juli 2010
Pantaskah Aku (5)
Pantaskah Aku (4)
***
Aku tahu Hilmy..Tapi aku takut..Aku bahkan sulit menggerakkan kakiku. Semuanya terasa cramp.
Aku masih melongok keluar jendela. Hujan makin deras. Payung hijau itu tetap bertahan di tempatnya, tidak bergeming.
Mendadak aku merasa menggigil. Batinku terus melakukan pergolakan. Perdebatan. Dan akhirnya keluar juga pemenangnya..
Segera aku turun dari tempat tidur. Mengambil jaket. Menggulung celana trainingku. Terburu-buru aku melangkah menuruni tangga, menuju pintu depan.
“Hilmy..”ucapku lirih. Aku lupa sudah berapa lama aku membiarkannya terlantar di depan gerbang, kehujanan. Hilmy dan payungnya. Wajahnya basah dan pucat, antara terkena percikan air dan kedinginan. Ia memandangiku dengan cara yang sama. Tidak ada raut wajah marah. Tidak ada kekesalan. Sepertinya yang ada hanyalah....sebuah harapan.
Aku lari menghampiri Hilmy, tanpa menggunakan payung. Melihat keadaanku, Hilmy langsung reflek menyambutku. Aku tidak bisa lagi untuk tidak menahan air mataku. I miss him much..Namun Hilmy tidak berkomentar banyak..Kami saling berpandangan, sementara tangan kami juga terus saling menggenggam.
“Udah makan Vy?”
“Belum..”
“Beli makan yuk. Yang deket kos aja. Yang enak dimana Vy?”
“Kamu yakin Valentine gini mau makan disini?”
“Emang kenapa? Ga masalah kan? Jadi yang enak apa?Atau kamu pengen makan apa?”
“Emm..ada sih yang menurutku enak. Bubur kacang ijo Mang Otong. Tempatnya di ujung jalan situ, deket pasar. Tapi emang kamu suka? Warungnya rada-rada bau minyak tanah lohh..”
“Loh, emang kenapa? Bubur kacang ijo enak kan?”
“Tapi ngga higienis My..Kamu ngga takut diare? Kamu ngga takut tipes?Ngga takut radang usus?”
“Lah kamu selama ini makan bubur itu ngga takut tipes?”
“Ngga My….Soalnya..”Aku memberi jeda pada ucapanku
“Kenapa?”
“Andaikan aku tipes, aku tahu pasti ada obatnya. Obatnya kan ada di depan mataku sendiri..HIhihihi...” Aku menampilkan senyuman innocent aku. Maaf My…
“Heuhh…dasar bandel.,”Hilmy spontan mengacak-acak rambutku,”Berarti hari ini kita memiliki probabilitas untuk tipes bersama. Ahh biarin.…Peduli amat. Yuk kesana..”
Kami memutuskan untuk membungkus bubur tersebut dan memakannya di kos-ku. Belum pernah aku melihat Hilmy sedekil ini: kaki penuh lumpur, rambut basah, dan celana tergulung asal. Sisi belakang kausnya pun basah, karena payung ini ternyata tak cukup mampu menghalau derasnya hujan. Sampai di halaman kos, kami mencuci kaki di kran air depan. Aku masuk ke kosku, Hilmy mengikutiku di belakang. Lalu aku menyalakan tivi, memberikan tissue pada Hilmy, mengeluarkan mangkuk, dan memanaskan air minum.
Hilmy duduk bersandar pada daun pintu yang dibiarkan terbuka.
***
Pantaskah Aku (6)
***
Aku tahu Hilmy..Tapi aku takut..Aku bahkan sulit menggerakkan kakiku. Semuanya terasa cramp.
Aku masih melongok keluar jendela. Hujan makin deras. Payung hijau itu tetap bertahan di tempatnya, tidak bergeming.
Mendadak aku merasa menggigil. Batinku terus melakukan pergolakan. Perdebatan. Dan akhirnya keluar juga pemenangnya..
Segera aku turun dari tempat tidur. Mengambil jaket. Menggulung celana trainingku. Terburu-buru aku melangkah menuruni tangga, menuju pintu depan.
“Hilmy..”ucapku lirih. Aku lupa sudah berapa lama aku membiarkannya terlantar di depan gerbang, kehujanan. Hilmy dan payungnya. Wajahnya basah dan pucat, antara terkena percikan air dan kedinginan. Ia memandangiku dengan cara yang sama. Tidak ada raut wajah marah. Tidak ada kekesalan. Sepertinya yang ada hanyalah....sebuah harapan.
Aku lari menghampiri Hilmy, tanpa menggunakan payung. Melihat keadaanku, Hilmy langsung reflek menyambutku. Aku tidak bisa lagi untuk tidak menahan air mataku. I miss him much..Namun Hilmy tidak berkomentar banyak..Kami saling berpandangan, sementara tangan kami juga terus saling menggenggam.
“Udah makan Vy?”
“Belum..”
“Beli makan yuk. Yang deket kos aja. Yang enak dimana Vy?”
“Kamu yakin Valentine gini mau makan disini?”
“Emang kenapa? Ga masalah kan? Jadi yang enak apa?Atau kamu pengen makan apa?”
“Emm..ada sih yang menurutku enak. Bubur kacang ijo Mang Otong. Tempatnya di ujung jalan situ, deket pasar. Tapi emang kamu suka? Warungnya rada-rada bau minyak tanah lohh..”
“Loh, emang kenapa? Bubur kacang ijo enak kan?”
“Tapi ngga higienis My..Kamu ngga takut diare? Kamu ngga takut tipes?Ngga takut radang usus?”
“Lah kamu selama ini makan bubur itu ngga takut tipes?”
“Ngga My….Soalnya..”Aku memberi jeda pada ucapanku
“Kenapa?”
“Andaikan aku tipes, aku tahu pasti ada obatnya. Obatnya kan ada di depan mataku sendiri..HIhihihi...” Aku menampilkan senyuman innocent aku. Maaf My…
“Heuhh…dasar bandel.,”Hilmy spontan mengacak-acak rambutku,”Berarti hari ini kita memiliki probabilitas untuk tipes bersama. Ahh biarin.…Peduli amat. Yuk kesana..”
Kami memutuskan untuk membungkus bubur tersebut dan memakannya di kos-ku. Belum pernah aku melihat Hilmy sedekil ini: kaki penuh lumpur, rambut basah, dan celana tergulung asal. Sisi belakang kausnya pun basah, karena payung ini ternyata tak cukup mampu menghalau derasnya hujan. Sampai di halaman kos, kami mencuci kaki di kran air depan. Aku masuk ke kosku, Hilmy mengikutiku di belakang. Lalu aku menyalakan tivi, memberikan tissue pada Hilmy, mengeluarkan mangkuk, dan memanaskan air minum.
Hilmy duduk bersandar pada daun pintu yang dibiarkan terbuka.
***
Pantaskah Aku (6)
Kamis, 08 Juli 2010
Pantaskah Aku (4)
Pantaskah Aku (3)
***
Hatiku makin bergejolak. Aku sudah tahu apa yang akan ia utarakan, dan aku sudah tahu juga reaksi yang akan aku rasakan. Sungguh, aku menghargai kebaikan dan ketulusannya, tapi aku selalu memberontak.
Aku memutuskan untuk menolak ajakan Valentine Hilmy. Aku berharap Hilmy akan marah besar. Aku berharap Hilmy akan menganggapku mencampakkan dia. Aku berharap Valentine ini menjadi akhir dari ketakutanku.
Aku lebih rela kebahagiaanku saat ini hilang begitu saja, daripada aku mengelus dada sepanjang hidupku..Aku tidak ingin meletakkan bayang-bayang kisah Mbak Hesthi pada diriku...
Aku terpaksa mencampakkan harapanku sendiri.
Hilmy sepertinya sudah membaca keinginanku. Mulai dari dua minggu yang lalu, kami sama-sama membisu. Tidak ada sms-sms atau telepon rutin seperti biasanya. Tidak ada kunjungan. Aku merasa, kami sedang meraba perasaan masing-masing. Saling menerka. Dan sampai sejauh ini, aku merasa biasa-biasa saja. Mungkin jika dipaksakan, aku memang bisa ya?
Di hari Sabtu ini, bersamaan dengan hari Valentine, hujan turun. Aku melakukan aktivitas rutinku seperti biasa: bangun pagi, mandi, dan sarapan. Kemudian memutar Twilight, film favoritku yang sudah kuputar berkali-kali hingga aku nyaris hafal setiap dialog pada setiap adegannya.
Semakin siang, hujan justru semakin deras. Mataku lelah menatap layar laptopku selama dua jam hanya demi menonton Twilight yang kesekian kalinya. Aku beringsut--bergerak menuju tempat tidurku, dan membuka korden jendela kamarku. Berharap bulir-bulir hujan itu bisa mendinginkan pandanganku. Juga suasana hatiku.
Ternyata, hujan deras itu justru menampilkan pemandangan yang lain.
Dari atas jendela kamarku, aku melihat sebuah city car biru yang familiar, terparkir cukup jauh dari area bangunan kosku. Kemudian aku melihat bayangan payung berwarna hijau dengan cap sebuah nama resort hotel di daerah Anyer-oke.., payung ini juga familiar bagiku-payung itu berjalan menjauhi mobil itu, dan bergerak. Terus bergerak, dan mendekat hingga ke pagar utama pintu kosku.
Jantungku langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku terus menarik nafas, hingga telingaku menangkap bunyi dering handphoneku. Lovely Hilmy is calling..
“Silvy, kamu di kos kan??”
“Iya My..knapa?”
“Am I disturbing you?”
“Ngga My..”
“Aku di depan kos kamu, Silvy..”
Handphone ditutup.
***
Pantaskah Aku (5)
***
Hatiku makin bergejolak. Aku sudah tahu apa yang akan ia utarakan, dan aku sudah tahu juga reaksi yang akan aku rasakan. Sungguh, aku menghargai kebaikan dan ketulusannya, tapi aku selalu memberontak.
Aku memutuskan untuk menolak ajakan Valentine Hilmy. Aku berharap Hilmy akan marah besar. Aku berharap Hilmy akan menganggapku mencampakkan dia. Aku berharap Valentine ini menjadi akhir dari ketakutanku.
Aku lebih rela kebahagiaanku saat ini hilang begitu saja, daripada aku mengelus dada sepanjang hidupku..Aku tidak ingin meletakkan bayang-bayang kisah Mbak Hesthi pada diriku...
Aku terpaksa mencampakkan harapanku sendiri.
Hilmy sepertinya sudah membaca keinginanku. Mulai dari dua minggu yang lalu, kami sama-sama membisu. Tidak ada sms-sms atau telepon rutin seperti biasanya. Tidak ada kunjungan. Aku merasa, kami sedang meraba perasaan masing-masing. Saling menerka. Dan sampai sejauh ini, aku merasa biasa-biasa saja. Mungkin jika dipaksakan, aku memang bisa ya?
Di hari Sabtu ini, bersamaan dengan hari Valentine, hujan turun. Aku melakukan aktivitas rutinku seperti biasa: bangun pagi, mandi, dan sarapan. Kemudian memutar Twilight, film favoritku yang sudah kuputar berkali-kali hingga aku nyaris hafal setiap dialog pada setiap adegannya.
Semakin siang, hujan justru semakin deras. Mataku lelah menatap layar laptopku selama dua jam hanya demi menonton Twilight yang kesekian kalinya. Aku beringsut--bergerak menuju tempat tidurku, dan membuka korden jendela kamarku. Berharap bulir-bulir hujan itu bisa mendinginkan pandanganku. Juga suasana hatiku.
Ternyata, hujan deras itu justru menampilkan pemandangan yang lain.
Dari atas jendela kamarku, aku melihat sebuah city car biru yang familiar, terparkir cukup jauh dari area bangunan kosku. Kemudian aku melihat bayangan payung berwarna hijau dengan cap sebuah nama resort hotel di daerah Anyer-oke.., payung ini juga familiar bagiku-payung itu berjalan menjauhi mobil itu, dan bergerak. Terus bergerak, dan mendekat hingga ke pagar utama pintu kosku.
Jantungku langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku terus menarik nafas, hingga telingaku menangkap bunyi dering handphoneku. Lovely Hilmy is calling..
“Silvy, kamu di kos kan??”
“Iya My..knapa?”
“Am I disturbing you?”
“Ngga My..”
“Aku di depan kos kamu, Silvy..”
Handphone ditutup.
***
Pantaskah Aku (5)
Rabu, 07 Juli 2010
Kasuari dan Dara Mahkota
(dongeng fabel dari Papua)
===== =====
Dahulu kala burung kasuari tidak seperti yang kita kenal saat ini. Dia memiliki sayap yang lebar dan kuat sehingga ia bisa mencari makan di atas pohon yang tinggi tapi juga bisa dengan mudah mencari makan di atas tanah. Kelebihannya ini membuat Kasuari menjadi burung yang sombong. Dia sering berbuat curang saat berebut makanan dan tidak peduli jika teman-temannya yang lain kelaparan gara-gara dia. Sayapnya yang lebar biasa dia gunakan untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya. Atau dengan sengaja dia menjatuhkan buah-buahan ranum itu ke tanah sehingga Cuma ia sendiri yang bisa menikmatinya.
“Biar saja!” pikirnya, “Salah sendiri kenapa mereka punya sayap yang pendek dan badan yang kecil. Siapa cepat dia yang dapat.”
Tentu saja kesombongannya tidak disukai burung-burung lainnya. Mereka menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan keangkuhannya harus segera dihentikan. Akhirnya para burung berkumpul untuk membahas masalah ini. Setelah berbagai cara diajukan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan perlombaan terbang. Namun ternyata sulit menemukan lawan yang sebanding dengan Kasuari.
Tiba-tiba burung Dara Mahkota mengajukan diri untuk bertanding terbang dengan Kasuari. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya karena Dara Mahkota hanyalah burung kecil, tapi Dara Mahkota meyakinkan mereka bahwa dia mampu.
Mereka lalu mengirimkan tantangan tersebut kepada Kasuari. Kasuari yang sangat yakin dengan kemampuannya langsung menyanggupi tantangan tersebut tanpa repot-repot bertanya siapa lawannya.
“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”
“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”
Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya.
“Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.
Seminggu kemudian, warga burung berkumpul untuk meyaksikan pertandingan terbang tersebut. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap Dara Mahkota akan memenangkan pertandingan tersebut. Diam-diam Dara Mahkota menyisipkan sebilah ranting di balik sayapnya.
Kasuari yang baru mengetahui lawannya tertawa terbahak-bahak, “ini lawanku?” katanya sambil tertawa, “mimpi kali kamu ye…? Hei…burung kecil, sayapmu pendek mana bisa menang melawanku!”.
Burung-burung kecil lainnya sebal menyaksikan tingkah Kasuari sementara Dara Mahkota hanya tersenyum menanggapinya.
Kini mereka siap bertanding. Kasuari maju untuk mematahkan sayap Dara Mahkota. KREK! Terdengar bunyi sayap patah. Dara Mahkota pura-pura menjerit kesakitan. Padahal sebenarnya bunyi tadi berasal dari ranting kering di bawah sayap Dara Mahkota yang patah. Kini giliran Dara Mahkota yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga dia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi KREKK yang keras. Kasuari menjerit kesakitan. Sayap Kasuari yang patah tergantung lemas. Tapi Kasuari yang sombong tetap yakin dirinya akan menang.
Sekarang mereka sudah siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, Dara Mahkota dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa. Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap Dara Mahkota telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh berdebum di tanah. Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas.
Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.
===== =====
===== =====
Dahulu kala burung kasuari tidak seperti yang kita kenal saat ini. Dia memiliki sayap yang lebar dan kuat sehingga ia bisa mencari makan di atas pohon yang tinggi tapi juga bisa dengan mudah mencari makan di atas tanah. Kelebihannya ini membuat Kasuari menjadi burung yang sombong. Dia sering berbuat curang saat berebut makanan dan tidak peduli jika teman-temannya yang lain kelaparan gara-gara dia. Sayapnya yang lebar biasa dia gunakan untuk menyembunyikan buah-buahan ranum di atas pohon, sehingga burung-burung lainnya tidak bisa melihatnya. Atau dengan sengaja dia menjatuhkan buah-buahan ranum itu ke tanah sehingga Cuma ia sendiri yang bisa menikmatinya.
“Biar saja!” pikirnya, “Salah sendiri kenapa mereka punya sayap yang pendek dan badan yang kecil. Siapa cepat dia yang dapat.”
Tentu saja kesombongannya tidak disukai burung-burung lainnya. Mereka menganggap Kasuari sudah keterlaluan dan keangkuhannya harus segera dihentikan. Akhirnya para burung berkumpul untuk membahas masalah ini. Setelah berbagai cara diajukan akhirnya mereka sepakat untuk mengadakan perlombaan terbang. Namun ternyata sulit menemukan lawan yang sebanding dengan Kasuari.
Tiba-tiba burung Dara Mahkota mengajukan diri untuk bertanding terbang dengan Kasuari. Meskipun banyak yang meragukan kemampuannya karena Dara Mahkota hanyalah burung kecil, tapi Dara Mahkota meyakinkan mereka bahwa dia mampu.
Mereka lalu mengirimkan tantangan tersebut kepada Kasuari. Kasuari yang sangat yakin dengan kemampuannya langsung menyanggupi tantangan tersebut tanpa repot-repot bertanya siapa lawannya.
“Pertandingannya akan diadakan minggu depan dan akan disaksikan semua warga burung!” kata burung pipit. “Yang bisa terbang paling jauh dan lama yang menang.”
“Ya ampun…kalo begitu pasti aku yang menang. Di hutan ini tidak ada yang memiliki sayap selebar dan sekuat punyaku. Jadi pasti aku yang menang,” kata Kasuari pongah. “Tapi baiklah aku terima tantangannya, lumayan buat olahrga!”
Burung pipit sebal mendengar jawaban Kasuari, tapi dia tahan emosinya.
“Tapi ada ketentuannya. Sebelum bertanding, peserta boleh saling mematahkan sayap lawannya,” kata pipit. Kasuari pun menyetujuinya tanpa ragu-ragu.
Seminggu kemudian, warga burung berkumpul untuk meyaksikan pertandingan terbang tersebut. Meski tidak terlalu yakin, mereka semua berharap Dara Mahkota akan memenangkan pertandingan tersebut. Diam-diam Dara Mahkota menyisipkan sebilah ranting di balik sayapnya.
Kasuari yang baru mengetahui lawannya tertawa terbahak-bahak, “ini lawanku?” katanya sambil tertawa, “mimpi kali kamu ye…? Hei…burung kecil, sayapmu pendek mana bisa menang melawanku!”.
Burung-burung kecil lainnya sebal menyaksikan tingkah Kasuari sementara Dara Mahkota hanya tersenyum menanggapinya.
Kini mereka siap bertanding. Kasuari maju untuk mematahkan sayap Dara Mahkota. KREK! Terdengar bunyi sayap patah. Dara Mahkota pura-pura menjerit kesakitan. Padahal sebenarnya bunyi tadi berasal dari ranting kering di bawah sayap Dara Mahkota yang patah. Kini giliran Dara Mahkota yang akan mematahkan sayap Kasuari. Dengan sekuat tenaga dia menekuk sayap Kasuari hingga terdengar bunyi KREKK yang keras. Kasuari menjerit kesakitan. Sayap Kasuari yang patah tergantung lemas. Tapi Kasuari yang sombong tetap yakin dirinya akan menang.
Sekarang mereka sudah siap untuk bertanding. Ketika aba-aba dibunyikan, Dara Mahkota dengan ringan melesat ke udara. Sayapnya mengepak dengan mudah membawa tubuhnya yang mungil terbang ke angkasa. Kasuari terkejut dan heran karena tadi dia mengira sayap Dara Mahkota telah patah. Dengan panik dia mencoba mengepakan sayapnya dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas. Tapi bukannya terbang tinggi, tubuhnya malah meluncur ke bawah dan jatuh berdebum di tanah. Semua burung bersorak senang sementara Kasuari terkulai lemas.
Dengan perasaan malu dia meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Kasuari tidak pernah bisa terbang. Sayapnya yang dulu lebar dan kuat kini memendek karena sudah patah. Kini meski dia disebut burung namun dia hanya bisa berjalan dan mencari makan di tanah seperti binatang lain yang tidak memiliki sayap.
===== =====
Selasa, 06 Juli 2010
Pantaskah Aku (3)
Pantaskah Aku (2)
***
Tiga bulan berlalu. Mbak Hesthi akhirnya sudah melangsungkan pernikahannya. Ia tinggal di kota yang sama dengan rumah keluarga suaminya, di Surakarta.
Aku baru saja pulang kantor, tetapi aku tidak ingin langsung ke kos. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian ke Plaza Semanggi. Hilmy masih praktek, aku sendiri tidak tahu sampai jam berapa. Tidak ada masalah sih sebetulnya, toh aku sedang ingin sendiri.
Belakangan ini aku memang lebih senang menyendiri. Aku terus berjalan mengelilingi tiap stand di mall ini. Nuansa warna pink terlihat mendominasi dekorasi bangunan ini. Nuansa musiman, pikirku. Lihat saja tiga hari setelah Valentine, toh semuanya akan kembali seperti biasanya. Tidak ada lagi kertas, pita dan coklat berwarna hati itu. Semuanya musiman.
Semuanya hanya musiman. Apakah jika Hilmy mencintaiku selama ini, kebahagiaan itu juga akan berlangsung semusim saja?
Handphoneku bergetar, ada sms masuk. Dari Mbak Hesthi Rosalie.
“Silvy..apa kabar? Sil..aku cape..Mas Indra blum pulang. Ibunya disini terus. Hari hariku penuh ceramah pembekalan..Silvy, aku ngga tau mesti gmn”
Aku tercenung. Mbak Hesthi..aku tidak punya solusi. Akhirnya aku hanya bisa menjawab:
“Mbak Hesthi..yang sabar ya…Allah sayang mbak Hesthi kok.. Semoga Allah selalu memberi yang terbaik untuk Mbak Hesthi..”
Mbak Hesthi, kau membuatku makin takut! Aku hendak memasukkan handphoneku kembali, tetapi ternyata bergetar lagi. Ada sms masuk lagi. Kini dari Hilmy.
“Vy, udah sampai kos..? Lagi ngapain? Vy, if you don’t mind, Valentine nanti, jalan yuk? Ke Bricks Kitchen & Lounge yang di Sky Diningnya Plangi itu? Please Vy..mau ya??Eniwei, miss u Vy..”
Hilmy!!!Aku hanya mampu menjerit dalam hati. Andaikan kamu ngerti….Namun kali ini aku tidak ingin menolak. Tidak juga mengiyakan. Aku hanya membalas,”Iya My, thx a lot..liat pas hari H aja ya..miss u too,My..”
***
Pantaskah Aku (4)
***
Tiga bulan berlalu. Mbak Hesthi akhirnya sudah melangsungkan pernikahannya. Ia tinggal di kota yang sama dengan rumah keluarga suaminya, di Surakarta.
Aku baru saja pulang kantor, tetapi aku tidak ingin langsung ke kos. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sendirian ke Plaza Semanggi. Hilmy masih praktek, aku sendiri tidak tahu sampai jam berapa. Tidak ada masalah sih sebetulnya, toh aku sedang ingin sendiri.
Belakangan ini aku memang lebih senang menyendiri. Aku terus berjalan mengelilingi tiap stand di mall ini. Nuansa warna pink terlihat mendominasi dekorasi bangunan ini. Nuansa musiman, pikirku. Lihat saja tiga hari setelah Valentine, toh semuanya akan kembali seperti biasanya. Tidak ada lagi kertas, pita dan coklat berwarna hati itu. Semuanya musiman.
Semuanya hanya musiman. Apakah jika Hilmy mencintaiku selama ini, kebahagiaan itu juga akan berlangsung semusim saja?
Handphoneku bergetar, ada sms masuk. Dari Mbak Hesthi Rosalie.
“Silvy..apa kabar? Sil..aku cape..Mas Indra blum pulang. Ibunya disini terus. Hari hariku penuh ceramah pembekalan..Silvy, aku ngga tau mesti gmn”
Aku tercenung. Mbak Hesthi..aku tidak punya solusi. Akhirnya aku hanya bisa menjawab:
“Mbak Hesthi..yang sabar ya…Allah sayang mbak Hesthi kok.. Semoga Allah selalu memberi yang terbaik untuk Mbak Hesthi..”
Mbak Hesthi, kau membuatku makin takut! Aku hendak memasukkan handphoneku kembali, tetapi ternyata bergetar lagi. Ada sms masuk lagi. Kini dari Hilmy.
“Vy, udah sampai kos..? Lagi ngapain? Vy, if you don’t mind, Valentine nanti, jalan yuk? Ke Bricks Kitchen & Lounge yang di Sky Diningnya Plangi itu? Please Vy..mau ya??Eniwei, miss u Vy..”
Hilmy!!!Aku hanya mampu menjerit dalam hati. Andaikan kamu ngerti….Namun kali ini aku tidak ingin menolak. Tidak juga mengiyakan. Aku hanya membalas,”Iya My, thx a lot..liat pas hari H aja ya..miss u too,My..”
***
Pantaskah Aku (4)
Senin, 05 Juli 2010
Pantaskah Aku (2)
Pantaskah Aku (1)
***
Mbak Hesthi adalah kakak kelasku semasa SMP. Kami selalu duduk di SMP, SMA, bahkan bangku kuliah yang sama, walau berbeda jurusan. Kini kos-kosan kami hanya dipisahkan oleh satu tikungan, dan kami tetap dekat. Aku selalu menganggap dia sebagai kakak sendiri, sebagaimana ia yang memperlakukan aku seperti saudaranya sendiri.
Terus terang, aku terpengaruh oleh kisah bersambung kehidupan Mbak Hesthi. Tidak hanya kisah mbak Hesthi sih, kisah-kisah desperate couples lainnya juga sering meneror pikiranku. Aku merasa, latar belakang kami serupa..Karena itu juga aku jadi sering berpikir ulang untuk terus mencintai Hilmy, atau memilih untuk menghentikannya.
Butuh hampir setahun lebih bagi Hilmy untuk mendapatkan approval dari aku atas pernyataan cintanya dahulu. Aku selalu takut..aku selalu dikejar kekhawatiranku sendiri. Selalu ada alasan untuk meletakkan kecemasan bersebelahan dengan kebahagiaan yang tidak bisa kupungkiri. Aku takut dengan ke-glamouran Hilmy yang selalu dihadapkan padaku. Aku takut dengan kebaikan keluarganya, seorang direktur rumah sakit ternama di Jakarta yang sesungguhnya sangat welcome padaku. Dan setiap aku menjejakkan kaki di rumahnya, selalu terbayang rumah semi papan milik keluargaku di kota kelahiranku. Kemudian terbayang segala keluhan mbak Hesthi.
Semua ketakutan itu berpengaruh pada perilakuku. Aku masih teringat permulaan aku mulai sering menolak ajakan Hilmy.
“Vy, malam minggu nanti ke Cakewalk yuk?” Ia selalu mengajakku ke tempat-tempat eksklusif, dengan dalih untuk menghidarkanku dari tipes lagi.
“My, ngapain ke Cakewalk? Males..Vy pengen makan somay aja…”
“Vy..bukannya kenapa-kenapa. Terkadang aku butuh tempat yang tenang untuk bicara. Discussing our future. ..Silvy ngerti maksud Hilmy kan?Lagian kamu somay melulu..tipes lagi baru kerasa..”
Justru karena aku ngerti My..makanya aku ngga pernah mau…Do we really have to discuss our future?
Hilmy juga orang yang sangat perhatian dengan hal-hal detail mengenai kesehatan, terutama kepadaku yang penyakitan ini...Aku sudah hapal betul sms regularnya setiap dua bulan, “Vy, suplemen udah habis kan? Aku anterin ya yang baru. Sama ada yang baru lagi nih, bagus buat tulang..” Melihat kondisiku sendiri, sebetulnya aku sangat bersyukur punya pacar dokter, tetapi, setelah aku terbentur dengan ketakutanku..aku selalu menerawang lagi.
Pantaskah aku?
***
Pantaskah Aku (3)
***
Mbak Hesthi adalah kakak kelasku semasa SMP. Kami selalu duduk di SMP, SMA, bahkan bangku kuliah yang sama, walau berbeda jurusan. Kini kos-kosan kami hanya dipisahkan oleh satu tikungan, dan kami tetap dekat. Aku selalu menganggap dia sebagai kakak sendiri, sebagaimana ia yang memperlakukan aku seperti saudaranya sendiri.
Terus terang, aku terpengaruh oleh kisah bersambung kehidupan Mbak Hesthi. Tidak hanya kisah mbak Hesthi sih, kisah-kisah desperate couples lainnya juga sering meneror pikiranku. Aku merasa, latar belakang kami serupa..Karena itu juga aku jadi sering berpikir ulang untuk terus mencintai Hilmy, atau memilih untuk menghentikannya.
Butuh hampir setahun lebih bagi Hilmy untuk mendapatkan approval dari aku atas pernyataan cintanya dahulu. Aku selalu takut..aku selalu dikejar kekhawatiranku sendiri. Selalu ada alasan untuk meletakkan kecemasan bersebelahan dengan kebahagiaan yang tidak bisa kupungkiri. Aku takut dengan ke-glamouran Hilmy yang selalu dihadapkan padaku. Aku takut dengan kebaikan keluarganya, seorang direktur rumah sakit ternama di Jakarta yang sesungguhnya sangat welcome padaku. Dan setiap aku menjejakkan kaki di rumahnya, selalu terbayang rumah semi papan milik keluargaku di kota kelahiranku. Kemudian terbayang segala keluhan mbak Hesthi.
Semua ketakutan itu berpengaruh pada perilakuku. Aku masih teringat permulaan aku mulai sering menolak ajakan Hilmy.
“Vy, malam minggu nanti ke Cakewalk yuk?” Ia selalu mengajakku ke tempat-tempat eksklusif, dengan dalih untuk menghidarkanku dari tipes lagi.
“My, ngapain ke Cakewalk? Males..Vy pengen makan somay aja…”
“Vy..bukannya kenapa-kenapa. Terkadang aku butuh tempat yang tenang untuk bicara. Discussing our future. ..Silvy ngerti maksud Hilmy kan?Lagian kamu somay melulu..tipes lagi baru kerasa..”
Justru karena aku ngerti My..makanya aku ngga pernah mau…Do we really have to discuss our future?
Hilmy juga orang yang sangat perhatian dengan hal-hal detail mengenai kesehatan, terutama kepadaku yang penyakitan ini...Aku sudah hapal betul sms regularnya setiap dua bulan, “Vy, suplemen udah habis kan? Aku anterin ya yang baru. Sama ada yang baru lagi nih, bagus buat tulang..” Melihat kondisiku sendiri, sebetulnya aku sangat bersyukur punya pacar dokter, tetapi, setelah aku terbentur dengan ketakutanku..aku selalu menerawang lagi.
Pantaskah aku?
***
Pantaskah Aku (3)
Minggu, 04 Juli 2010
Pantaskah Aku (1)
by 'Adinda' yang manggil shaya 'Kakanda', halah...
Entah sudah keberapa kalinya ia menangis dihadapanku seperti ini.
Baginya, dunia bahkan terasa lebih sempit, lebih pengap, dan benar-benar nyaris tanpa celah;itulah yang selalu aku simpulkan dalam tiap episode keluh kesahnya. Semuanya terus bersambung, bagaikan film serial. Apapun alurnya, cerita kehidupan seolah tidak pernah menemui akhir. Antiklimaks hanyalah transisi sesaat, dan sang tokoh utama harus siap untuk menempuh ke puncak emosi berikutnya.
“Silvy, maaf ya..Mbak judheg banget..”
“Ngga kenapa-kenapa Mbak..Pintu saya selalu welcome untuk Mbak kok..Mbak Hesthi, mau ya,aku buatkan lemon tea hangat?? ”
Aku tahu, pasti ini masih kelanjutan dari kisah yang ia ceritakan minggu lalu. Tidak hanya minggu lalu, tetapi juga sebulan yang lalu. Aku selalu menunggu ia yang berbicara terlebih dahulu.
Sembari sesekali menatap ekspresi wajahnya, kupanaskan air yang sudah kusiapkan di dalam teko pemanas. Sambil menunggu air itu memanas, aku meletakkan teh celup lemon ke dalam dua mug berukuran sedang, satu untuk dia dan satu untukku. Aku keluarkan juga toples berisi kue koko krunch-choco-balls favoritku, yang juga favorit Mbak Hesthi, yaitu kue bola bola coklat yang terbuat dari koko krunch, coklat karamel dan susu. Tanpa perlu menunggu lama, air itu memanas juga, dan kutuangkan ke masing-masing gelas. Ia membantuku mengaduk lemon tea tersebut, sementara aku mengembalikan tekoku ke tempat semula.
“Orangtua kami berselisih paham lagi, padahal jika dihitung-hitung, tiga bulan lagi kami akan menikah…” Akhirnya mbak Hesthi mulai membuka topik.
“Kalau boleh tahu, permasalahan utama yang dijadikan perkara oleh orang tua Mas Indra apa ya Mbak?”
“Semuanya dimulai dari hal-hal kecil sebetulnya..Dulu aku ngga terlalu ngeh, ketika Ibunya Mas Indra selalu menjelaskan tentang trah keluarganya yang keturunan ningrat. Tradisi dan ritual rutinnya. Mbak hanya berpikir, mungkin beliau memang cuma ingin menceritakan kepada calon menantunya. Aku selalu positive thinking, Silvy. Hingga setelah semua proses lamaran itu, aku juga baru tahu dari ibu aku sendiri, kalau keluarga Mas Indra, terutama saudara-saudara dari pihak Ibu, suka mengintervensi urusan pernikahan kami. Bahkan ada kalimat tersirat yang mengungkapkan bahwa merekalah yang serba tahu tentang adat, keluarga aku hanya keluarga biasa, keluarga sederhana yang ngga ngerti unggah-ungguh yang seharusnya. Lebih sedih lagi, aku baru tahu juga, kalau ternyata orang tua mas Indra juga ngga saking sregnya sama aku. Karena dianggap ngga selevel..Orang tua kami-ternyata selalu berselisih. Aku bingung, Silvy… Aku baru mengerti, pernikahan memang bukan sekadar penyatuan dua hati. Tetapi masih ada atribut-atribut lain yang ikut dimasing-masing bagian itu. “
Aku hanya diam. Berusaha mencari solusi, tetapi aku tak sanggup.Pikiranku melayang ke Hilmy, pacarku.
Mbak Hesthi, sepertinya aku juga tidak akan jauh berbeda dengan dirimu…Hanya berbeda alasan saja..
***
Pantaskah Aku (2)
Entah sudah keberapa kalinya ia menangis dihadapanku seperti ini.
Baginya, dunia bahkan terasa lebih sempit, lebih pengap, dan benar-benar nyaris tanpa celah;itulah yang selalu aku simpulkan dalam tiap episode keluh kesahnya. Semuanya terus bersambung, bagaikan film serial. Apapun alurnya, cerita kehidupan seolah tidak pernah menemui akhir. Antiklimaks hanyalah transisi sesaat, dan sang tokoh utama harus siap untuk menempuh ke puncak emosi berikutnya.
“Silvy, maaf ya..Mbak judheg banget..”
“Ngga kenapa-kenapa Mbak..Pintu saya selalu welcome untuk Mbak kok..Mbak Hesthi, mau ya,aku buatkan lemon tea hangat?? ”
Aku tahu, pasti ini masih kelanjutan dari kisah yang ia ceritakan minggu lalu. Tidak hanya minggu lalu, tetapi juga sebulan yang lalu. Aku selalu menunggu ia yang berbicara terlebih dahulu.
Sembari sesekali menatap ekspresi wajahnya, kupanaskan air yang sudah kusiapkan di dalam teko pemanas. Sambil menunggu air itu memanas, aku meletakkan teh celup lemon ke dalam dua mug berukuran sedang, satu untuk dia dan satu untukku. Aku keluarkan juga toples berisi kue koko krunch-choco-balls favoritku, yang juga favorit Mbak Hesthi, yaitu kue bola bola coklat yang terbuat dari koko krunch, coklat karamel dan susu. Tanpa perlu menunggu lama, air itu memanas juga, dan kutuangkan ke masing-masing gelas. Ia membantuku mengaduk lemon tea tersebut, sementara aku mengembalikan tekoku ke tempat semula.
“Orangtua kami berselisih paham lagi, padahal jika dihitung-hitung, tiga bulan lagi kami akan menikah…” Akhirnya mbak Hesthi mulai membuka topik.
“Kalau boleh tahu, permasalahan utama yang dijadikan perkara oleh orang tua Mas Indra apa ya Mbak?”
“Semuanya dimulai dari hal-hal kecil sebetulnya..Dulu aku ngga terlalu ngeh, ketika Ibunya Mas Indra selalu menjelaskan tentang trah keluarganya yang keturunan ningrat. Tradisi dan ritual rutinnya. Mbak hanya berpikir, mungkin beliau memang cuma ingin menceritakan kepada calon menantunya. Aku selalu positive thinking, Silvy. Hingga setelah semua proses lamaran itu, aku juga baru tahu dari ibu aku sendiri, kalau keluarga Mas Indra, terutama saudara-saudara dari pihak Ibu, suka mengintervensi urusan pernikahan kami. Bahkan ada kalimat tersirat yang mengungkapkan bahwa merekalah yang serba tahu tentang adat, keluarga aku hanya keluarga biasa, keluarga sederhana yang ngga ngerti unggah-ungguh yang seharusnya. Lebih sedih lagi, aku baru tahu juga, kalau ternyata orang tua mas Indra juga ngga saking sregnya sama aku. Karena dianggap ngga selevel..Orang tua kami-ternyata selalu berselisih. Aku bingung, Silvy… Aku baru mengerti, pernikahan memang bukan sekadar penyatuan dua hati. Tetapi masih ada atribut-atribut lain yang ikut dimasing-masing bagian itu. “
Aku hanya diam. Berusaha mencari solusi, tetapi aku tak sanggup.Pikiranku melayang ke Hilmy, pacarku.
Mbak Hesthi, sepertinya aku juga tidak akan jauh berbeda dengan dirimu…Hanya berbeda alasan saja..
***
Pantaskah Aku (2)
Jumat, 05 Maret 2010
Reuni Akbar (Negeri Kue)
sesuai permintaan Intan...
silakan dibaca, hehehe
====================
Alkisah terselenggara sebuah reuni akbar di negeri Kue. Reuni yang menghadirkan seluruh alumni angkatan ‘gorengan’ itu nampak begitu meriah. Dalam reuni tersebut, banyak beraneka ragam kelompok kue yang hadir dan bisa dikatakan semua kue-kue yang hadir telah mengalami banyak perubahan bila dibandingkan pada saat mereka lulus.
Bang Onde-onde masih mempertahankan predikat sebagai 'terimut'. Tampilan bintik-bintik wijen di tubuhnya dan wangi kacang ijo ekstra semakin banyak menambah kharismanya di kalangan manusia.
Kak Pastel yang semakin cantik dengan kulit renyahnya. Sejak kelulusan membuat tubuhnya semakin gemuk. Kegemukan yang menurut kaum Pastel menjadi berkah tersendiri. Ini dikarenakan manusia semakin suka kepadanya dan itu berarti kesuksesan baginya.
Bang Pisgor terlihat sangat berbeda. Sekarang si abang sudah berubah menjadi piscok. Si abang mengakui tidak hanya sebagai piscok, terkadang ia juga menjadi pisbakkej (pisang bakar keju), pisgorpas (pisang goreng pasir), dan tentunya masih banyak perubahan lainnya. Perubahan yang membuat si abang menjadi populer di mata manusia. Sungguh fleksibel sekali bang Pisgor ini.
kak Cucur dengan paras muka yang masih saja berminyak tetap menyajikan muka manis bagi alumni negeri Kue ini. Tak luput dari perubahan, kak Cucur yang dulunya selalu menunjukkan warna kecokelatannya sekarang mulai merias dengan berbagai warna pink atau hijau gelap tanpa menghilangkan kesan manis yang sudah tertanam sejak masa sekolah.
Adek Donat mengalami perubahan paling hebat. Donat yang dulunya masih polos tanpa apa-apa, paling pemalu, tetapi kini menjadi paling sukses. Semua masyarakat di Negeri Kue sudah mengetahui akan hal ini. Setiap hari dia mengubah penampilannya, kadang mengenakan coklat, sesekali menggunakan kacang atau krim dan susu sebagai aksesoris. Apabila ingin terlihat eksklusif, ia kenakan keju maupun strawberi. Saat ingin santai, gula halus bisa dipergunakan. Apa pun yang dikenakan Donat selalu saja cocok. Manusia sangat menyukainya.
Semua yang hadir bersuka cita dan larut dalam cerita perjalanan hidup mereka. Riuh renyah tawa turut menghiasi keceriaan mereka ketika teringat kenangan masa lalu. Ada yang nampak berbeda di antara mereka. Ia adalah Risol.
Sejak kelulusan dia tak membuat penampilannya berubah, masih nampak sama seperti saat dulu. Tetap lonjong, kecoklatan, dan sederhana, tanpa hiasan apa-apa. Sifatnya pun masih tetap sama dan cukup disegani di antara kue-kue yang lain. Tak sedikit yang heran kenapa tidak ada perubahan dalam penampilan Risol?
“Kenapa kau nampak sama seperti dulu, Ris?” tanya Onde-Onde.
“Aku tidak sama seperti dulu bro. Aku pun sudah berubah.” jawab Risol dengan senyum.
“Apanya yang berubah?” tanya Pastel sambil menggaruk-garukkan kapalanya yang tidak gatal, terlihat bingung.
“Iya, sepertinya kau tetap sama, Ris!” Piscok menambahkan. Tangannya sibuk menyeka coklatnya yang lumer jatuh ke lantai.
“Aku berubah. Bukan penampilan luarku yang berubah, tetapi penampilan dalamku yang berubah. Aku tidak lagi hanya berisi bihun. Sekarang aku sudah berisi sayur-sayuran dan daging.” ujar Risol dengan senyum ramah.
“Apakah dengan perubahan di dalammu itu manusia menjadi suka denganmu?” tanya Donat.
“Hm..., entahlah. Angka penjualanku relatif stabil. Namun tidak tinggi seperti yang hadir di sini.”
“Kenapa kau tidak coba mengganti penampilan luarmu juga?” Piscok menyarankan.
“Untuk apa, bro?” Tanya Risol.
“Agar kau lebih populer dan pasti laku di kalangan manusia!” Jawab pastel semangat.
“em…” Risol menarik nafas panjang, lalu melanjutkan, “Aku tidak mau manusia menyukaiku lantaran penampilan luarku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka jikalau penampilanku tidak sebanding dengan rasaku. Aku pun tidak ingin hanya sekedar laris tapi tidak memberi manfaat berlebih bagi mereka. Aku ingin manusia menyukaiku karena manfaat yang kuberikan. Aku ingin mandiri. Tidak bergantung pada penampilan. Bagiku terpenting adalah yang ada di dalam diri.”
Donat berpikir, apa jadinya jika tanpa penampilannya yang sekarang? Ia hanya menjadi donat biasa dengan rasa yang biasa pula. Jangan-jangan manusia menyukainya hanya karena hiasan yang melekat di tubuhnya, bukan pada dirinya. Donatpun mulai cemas. Bang Onde-Onde juga sama, ia berfikir apa jadinya bila ia tanpa wijen? Terlebih apa jadinya ia tanpa kacang ijo? Ia hanya akan menjadi Kue yang hampa. Gorengan yang tidak jelas apa namanya. Bulat, kosong, tanpa wijen. Raut wajahnya sedih, selama ini ia hanya membanggakan wijennya. Membiarkan begitu saja potensi kacang ijonya. Tidak ada improvisasi rasa yang cukup berarti. Terlebih kak Pastel, selama ini ia hanya sibuk terhadap kulitnya. Khawatir kendur dan tidak disukai manusia. Isinya tidak ia hiraukan. Ia juga menipu manusia dengan tubuhnya yang besar, namun isinya sedikit. Sedangkan bang Piscok terlihat syok berat. Teringat masa lalunya yang hanya pisang belaka. Tanpa coklat, tanpa tepung, dan tanpa keju. Selama ini ia tidak cukup pede bila tanpa itu semua. Ia tidak menyukuri kelebihan vitamin D yang Tuhan berikan padanya.
Setelah itu mereka melanjutkan reuni kembali...
====================
silakan dibaca, hehehe
====================
Alkisah terselenggara sebuah reuni akbar di negeri Kue. Reuni yang menghadirkan seluruh alumni angkatan ‘gorengan’ itu nampak begitu meriah. Dalam reuni tersebut, banyak beraneka ragam kelompok kue yang hadir dan bisa dikatakan semua kue-kue yang hadir telah mengalami banyak perubahan bila dibandingkan pada saat mereka lulus.
Bang Onde-onde masih mempertahankan predikat sebagai 'terimut'. Tampilan bintik-bintik wijen di tubuhnya dan wangi kacang ijo ekstra semakin banyak menambah kharismanya di kalangan manusia.
Kak Pastel yang semakin cantik dengan kulit renyahnya. Sejak kelulusan membuat tubuhnya semakin gemuk. Kegemukan yang menurut kaum Pastel menjadi berkah tersendiri. Ini dikarenakan manusia semakin suka kepadanya dan itu berarti kesuksesan baginya.
Bang Pisgor terlihat sangat berbeda. Sekarang si abang sudah berubah menjadi piscok. Si abang mengakui tidak hanya sebagai piscok, terkadang ia juga menjadi pisbakkej (pisang bakar keju), pisgorpas (pisang goreng pasir), dan tentunya masih banyak perubahan lainnya. Perubahan yang membuat si abang menjadi populer di mata manusia. Sungguh fleksibel sekali bang Pisgor ini.
kak Cucur dengan paras muka yang masih saja berminyak tetap menyajikan muka manis bagi alumni negeri Kue ini. Tak luput dari perubahan, kak Cucur yang dulunya selalu menunjukkan warna kecokelatannya sekarang mulai merias dengan berbagai warna pink atau hijau gelap tanpa menghilangkan kesan manis yang sudah tertanam sejak masa sekolah.
Adek Donat mengalami perubahan paling hebat. Donat yang dulunya masih polos tanpa apa-apa, paling pemalu, tetapi kini menjadi paling sukses. Semua masyarakat di Negeri Kue sudah mengetahui akan hal ini. Setiap hari dia mengubah penampilannya, kadang mengenakan coklat, sesekali menggunakan kacang atau krim dan susu sebagai aksesoris. Apabila ingin terlihat eksklusif, ia kenakan keju maupun strawberi. Saat ingin santai, gula halus bisa dipergunakan. Apa pun yang dikenakan Donat selalu saja cocok. Manusia sangat menyukainya.Semua yang hadir bersuka cita dan larut dalam cerita perjalanan hidup mereka. Riuh renyah tawa turut menghiasi keceriaan mereka ketika teringat kenangan masa lalu. Ada yang nampak berbeda di antara mereka. Ia adalah Risol.
Sejak kelulusan dia tak membuat penampilannya berubah, masih nampak sama seperti saat dulu. Tetap lonjong, kecoklatan, dan sederhana, tanpa hiasan apa-apa. Sifatnya pun masih tetap sama dan cukup disegani di antara kue-kue yang lain. Tak sedikit yang heran kenapa tidak ada perubahan dalam penampilan Risol?“Kenapa kau nampak sama seperti dulu, Ris?” tanya Onde-Onde.
“Aku tidak sama seperti dulu bro. Aku pun sudah berubah.” jawab Risol dengan senyum.
“Apanya yang berubah?” tanya Pastel sambil menggaruk-garukkan kapalanya yang tidak gatal, terlihat bingung.
“Iya, sepertinya kau tetap sama, Ris!” Piscok menambahkan. Tangannya sibuk menyeka coklatnya yang lumer jatuh ke lantai.
“Aku berubah. Bukan penampilan luarku yang berubah, tetapi penampilan dalamku yang berubah. Aku tidak lagi hanya berisi bihun. Sekarang aku sudah berisi sayur-sayuran dan daging.” ujar Risol dengan senyum ramah.
“Apakah dengan perubahan di dalammu itu manusia menjadi suka denganmu?” tanya Donat.
“Hm..., entahlah. Angka penjualanku relatif stabil. Namun tidak tinggi seperti yang hadir di sini.”
“Kenapa kau tidak coba mengganti penampilan luarmu juga?” Piscok menyarankan.
“Untuk apa, bro?” Tanya Risol.
“Agar kau lebih populer dan pasti laku di kalangan manusia!” Jawab pastel semangat.
“em…” Risol menarik nafas panjang, lalu melanjutkan, “Aku tidak mau manusia menyukaiku lantaran penampilan luarku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka jikalau penampilanku tidak sebanding dengan rasaku. Aku pun tidak ingin hanya sekedar laris tapi tidak memberi manfaat berlebih bagi mereka. Aku ingin manusia menyukaiku karena manfaat yang kuberikan. Aku ingin mandiri. Tidak bergantung pada penampilan. Bagiku terpenting adalah yang ada di dalam diri.”
Donat berpikir, apa jadinya jika tanpa penampilannya yang sekarang? Ia hanya menjadi donat biasa dengan rasa yang biasa pula. Jangan-jangan manusia menyukainya hanya karena hiasan yang melekat di tubuhnya, bukan pada dirinya. Donatpun mulai cemas. Bang Onde-Onde juga sama, ia berfikir apa jadinya bila ia tanpa wijen? Terlebih apa jadinya ia tanpa kacang ijo? Ia hanya akan menjadi Kue yang hampa. Gorengan yang tidak jelas apa namanya. Bulat, kosong, tanpa wijen. Raut wajahnya sedih, selama ini ia hanya membanggakan wijennya. Membiarkan begitu saja potensi kacang ijonya. Tidak ada improvisasi rasa yang cukup berarti. Terlebih kak Pastel, selama ini ia hanya sibuk terhadap kulitnya. Khawatir kendur dan tidak disukai manusia. Isinya tidak ia hiraukan. Ia juga menipu manusia dengan tubuhnya yang besar, namun isinya sedikit. Sedangkan bang Piscok terlihat syok berat. Teringat masa lalunya yang hanya pisang belaka. Tanpa coklat, tanpa tepung, dan tanpa keju. Selama ini ia tidak cukup pede bila tanpa itu semua. Ia tidak menyukuri kelebihan vitamin D yang Tuhan berikan padanya.
Setelah itu mereka melanjutkan reuni kembali...
====================
Kategori
ceRiTa_/_KarangaN,
iriSaN_Kisah_laLu
Sabtu, 19 Desember 2009
Lukisan Ular
Alkisah ada seorang anak yang sangat pandai melukis. Pada suatu hari di negaranya diadakan pertandingan melukis. Anak berbakat ini turut serta dalam pertandingan tersebut. Hadiah dari pertandingannya berupa beasiswa dari pemerintah.
Dalam pertandingan itu, semua peserta ditugaskan melukis seekor ular. Kriteria penilaian lukisan meliputi lukisan yang harus semirip mungkin dengan ular dan secepat mungkin menyelesaikan lukisan.
Pada hari pertandingan, si anak itu sudah hadir di lapangan pertandingan siap dengan semua alat melukisnya. Ketika aba-aba diberikan, semua peserta serentak mulai melukis. Tak lama kemudian si anak itu selesai melukis seekor ular yang sangat mirip. Begitu hidup lukisannya.
Si anak mendongakan kepalanya, dilihatnya semua peserta yang lain belum menyelesaikan tugas mereka. Lalu si anak menambahkan empat buah kaki pada ular lukisannya yang menimbulkan kesan bahwa ular semakin garang. Ditambahkan pula tanduk di atas kepala ular, diberinya lidah api menyembur keluar dari mulut ular tersebut. Ketika si anak menyerahkan lukisannya itu ke panitia penilai, semua peserta lain belum menyelesaikan tugas mereka.
Sore hari itu juga pemenang pertandingan diumumkan. Pemenangnya adalah anak dari desa lain yang melukis seekor ular kurus yang pucat dan terlihat lemas. Sementara lukisan anak yang sangat pandai itu dinyatakan diskualifikasi walaupun dia adalah orang yang pertama menyelesaikan tugas. Panitia memutuskan lukisannya bukan berupa ular, tetapi seekor naga.
Dalam kehidupan kita sering sekali kita juga terjebak dalam kegiatan seperti anak itu, kita menambahkan hal-hal yang kurang perlu dalam aktifitas dan pekerjaan kita sehingga kita tidak dapat meraih predikat juara. Kadang kita melontarkan kalimat yang menyakitkan orang lain, kadang kita mudah tersinggung, kadang kita terlalu bertele-tele ketika memberikan pendelegasian, kadang kita dikurung dalam berbagai praduga, curiga dan kurang percaya, kadang emosi kita terbawa dalam pekerjaan, dan semua itu menyebabkan karya kita bukan lagi lukisan seekor ular, melainkan seekor naga yang menyemburkan api dalam mulutnya.
Dalam pertandingan itu, semua peserta ditugaskan melukis seekor ular. Kriteria penilaian lukisan meliputi lukisan yang harus semirip mungkin dengan ular dan secepat mungkin menyelesaikan lukisan.
Pada hari pertandingan, si anak itu sudah hadir di lapangan pertandingan siap dengan semua alat melukisnya. Ketika aba-aba diberikan, semua peserta serentak mulai melukis. Tak lama kemudian si anak itu selesai melukis seekor ular yang sangat mirip. Begitu hidup lukisannya.
Si anak mendongakan kepalanya, dilihatnya semua peserta yang lain belum menyelesaikan tugas mereka. Lalu si anak menambahkan empat buah kaki pada ular lukisannya yang menimbulkan kesan bahwa ular semakin garang. Ditambahkan pula tanduk di atas kepala ular, diberinya lidah api menyembur keluar dari mulut ular tersebut. Ketika si anak menyerahkan lukisannya itu ke panitia penilai, semua peserta lain belum menyelesaikan tugas mereka.Sore hari itu juga pemenang pertandingan diumumkan. Pemenangnya adalah anak dari desa lain yang melukis seekor ular kurus yang pucat dan terlihat lemas. Sementara lukisan anak yang sangat pandai itu dinyatakan diskualifikasi walaupun dia adalah orang yang pertama menyelesaikan tugas. Panitia memutuskan lukisannya bukan berupa ular, tetapi seekor naga.
Dalam kehidupan kita sering sekali kita juga terjebak dalam kegiatan seperti anak itu, kita menambahkan hal-hal yang kurang perlu dalam aktifitas dan pekerjaan kita sehingga kita tidak dapat meraih predikat juara. Kadang kita melontarkan kalimat yang menyakitkan orang lain, kadang kita mudah tersinggung, kadang kita terlalu bertele-tele ketika memberikan pendelegasian, kadang kita dikurung dalam berbagai praduga, curiga dan kurang percaya, kadang emosi kita terbawa dalam pekerjaan, dan semua itu menyebabkan karya kita bukan lagi lukisan seekor ular, melainkan seekor naga yang menyemburkan api dalam mulutnya.
Kategori
ceRiTa_/_KarangaN,
iriSaN_Kisah_laLu
Langganan:
Postingan (Atom)