Pantaskah Aku (1)
***
Mbak Hesthi adalah kakak kelasku semasa SMP. Kami selalu duduk di SMP, SMA, bahkan bangku kuliah yang sama, walau berbeda jurusan. Kini kos-kosan kami hanya dipisahkan oleh satu tikungan, dan kami tetap dekat. Aku selalu menganggap dia sebagai kakak sendiri, sebagaimana ia yang memperlakukan aku seperti saudaranya sendiri.
Terus terang, aku terpengaruh oleh kisah bersambung kehidupan Mbak Hesthi. Tidak hanya kisah mbak Hesthi sih, kisah-kisah desperate couples lainnya juga sering meneror pikiranku. Aku merasa, latar belakang kami serupa..Karena itu juga aku jadi sering berpikir ulang untuk terus mencintai Hilmy, atau memilih untuk menghentikannya.
Butuh hampir setahun lebih bagi Hilmy untuk mendapatkan approval dari aku atas pernyataan cintanya dahulu. Aku selalu takut..aku selalu dikejar kekhawatiranku sendiri. Selalu ada alasan untuk meletakkan kecemasan bersebelahan dengan kebahagiaan yang tidak bisa kupungkiri. Aku takut dengan ke-glamouran Hilmy yang selalu dihadapkan padaku. Aku takut dengan kebaikan keluarganya, seorang direktur rumah sakit ternama di Jakarta yang sesungguhnya sangat welcome padaku. Dan setiap aku menjejakkan kaki di rumahnya, selalu terbayang rumah semi papan milik keluargaku di kota kelahiranku. Kemudian terbayang segala keluhan mbak Hesthi.
Semua ketakutan itu berpengaruh pada perilakuku. Aku masih teringat permulaan aku mulai sering menolak ajakan Hilmy.
“Vy, malam minggu nanti ke Cakewalk yuk?” Ia selalu mengajakku ke tempat-tempat eksklusif, dengan dalih untuk menghidarkanku dari tipes lagi.
“My, ngapain ke Cakewalk? Males..Vy pengen makan somay aja…”
“Vy..bukannya kenapa-kenapa. Terkadang aku butuh tempat yang tenang untuk bicara. Discussing our future. ..Silvy ngerti maksud Hilmy kan?Lagian kamu somay melulu..tipes lagi baru kerasa..”
Justru karena aku ngerti My..makanya aku ngga pernah mau…Do we really have to discuss our future?
Hilmy juga orang yang sangat perhatian dengan hal-hal detail mengenai kesehatan, terutama kepadaku yang penyakitan ini...Aku sudah hapal betul sms regularnya setiap dua bulan, “Vy, suplemen udah habis kan? Aku anterin ya yang baru. Sama ada yang baru lagi nih, bagus buat tulang..” Melihat kondisiku sendiri, sebetulnya aku sangat bersyukur punya pacar dokter, tetapi, setelah aku terbentur dengan ketakutanku..aku selalu menerawang lagi.
Pantaskah aku?
***
Pantaskah Aku (3)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar