Pantaskah Aku (5)
***
“Hilmy mau kan lemon tea anget?” Aku bertanya, jika sekiranya Hilmy ada pilihan lain.
“Mau Vy..Apapun..asal buatan kamu..”Hilmy ternyata terus menatapku sedari tadi. Aku jadi agak kikuk dan salah tingkah. Nyaris air panas di tanganku tumpah.
“My, harusnya kan kita makan di Sky Dining Plaza Semanggi”
“Ho-oh..”Hilmy menjawab singkat.
“Endingnya kita malah beli bubur kacang ijo Mang Otong..Pake ujan-ujanan lagi..Gara-gara aku nih..Kamu ngga marah kan My?Maaf..” Jujur, aku merasa bersalah melihat kondisi Hilmy hari ini, meskipun sesungguhnya, aku malah merasa lebih bahagia. Aku melihat sisi lain Hilmy yang belum pernah kuketahui,pikirku.
“Apapun makanannya, yang penting makannya sama kamu Vy..” celetuk Hilmy, asal..
“Apaan sih lu My…ada-ada aja..”Aku tersenyum.
Sepertinya, kami menyerah setelah sekian hari kami membisu dalam pikiran kami masing-masing. Percakapan itu kembali mengalir normal. Bahkan, terasa lebih menyenangkan dari sebelumnya. Akupun mulai melupakan kekhawatiranku. Kami saling menanyakan suasana pekerjaan kami masing-masing. Sesekali mengomentari acara televisi. Menikmati bubur kacang hijau dan lemon tea kami. Menikmati kebersamaan kami. Hingga aku mendadak tercekat sendiri ketika Hilmy memulai pertanyaan utamanya.
“Vy, may I ask you something?”
“What?”
“Tapi jangan kaget dulu, aku pengen kamu pikir baik-baik..”
“Oke..emang pertanyaannya apa?”
“Silvy dear..” Hilmy diam sebentar,kemudian melanjutkan..
“Will you marry me? Spending your entire life together with me?”
Spontan aku meletakkan mangkukku. Tanganku, kemudian diikuti seluruh badanku, semuanya mendadak dingin. Bergetar aku meraih gelas lemon tea-ku, berusaha menenangkan kekalutanku dan sekelebat bayang-bayang itu muncul lagi. Skenario kisah mbak Hesthi. Kondisi aku, kondisi kedua orang tuaku, kondisi orang tua Hilmy, segala prestasi Hilmy…
Pening..Rasanya tidak ada darah yang mengalir di tubuhku..Hilmy langsung memegangi tanganku.
“Vy..aku tahu kok. Aku tahu tentang mbak Hesthi. Maaf banget, waktu aku betulin handphone kamu yang hang dulu itu, aku penasaran karena di inbox dan sent item kamu banyak nama Mbak Hesthi. Disitu aku tahu kamu lagi berusaha menenangkan mbak Hesthi. Tanpa kamu sadar, bahwa justru kamu itu ikut-ikutan memiliki perasaan seperti mbak Hesthi… Silvy, yang dihadapi mbak Hesthi itu kenyataan, tetapi yang kamu rasakan sekarang itu prasangka…”
Aku tak tahan lagi. Aku menangis..Hilmy terus menggenggam tanganku.
“Silvy pernah baca Edensornya Andrea Hirata kan? ‘Jangan pernah mendahului nasib’. Silvy..situasi kamu tuh berbeda dengan mbak Hesthi…”
“Tapi My..kamu tahu sendiri kan? Aku siapa? Aku cuma anak yang lahir di ujung gunung. Sampai saat ini aja, aku kerja bukan buat aku. Aku bukan orang yang berdiri untuk diriku sendiri, Hilmy…Kamu tahu sendiri kan kondisi ekonomi orang tuaku? Kamu harusnya tahu, kalau aku sebetulnya kurang pan..”
“Vy, stop merendahkan diri sendiri! Please Vy..”
Aku sudah tidak sanggup menatap Hilmy lagi.Aku terus menangis sejadi-jadinya.
“Vy, harusnya kamu bersyukur sama Yang DiAtas..Dia menciptakan kamu istimewa Vy..Istimewa sekali. Silvy harus percaya itu. Kenapa aku bisa bilang istimewa? Pertama, dari segala keterbatasan keluarga kamu, kamu terlahir sehat, setidaknya tidak cacat. Kedua, kamu punya keluarga yang bahagia…selalu ada di deket Silvy..Pernahkah Silvy membayangkan ditinggalkan Ayah dua tahun, ke luar negeri? Itu terjadi sama aku waktu kecil, dua tahun aku tinggal bertiga doang, karena Ayah melanjutkan studi. Aku sempat merasakan penderitaan ibuku ngurusin aku dan adikku yang masih kecil-kecil..Ketiga, kamu diberi kesempatan untuk dapet pendidikan yang baik. Vy, jika kamu menyebut diri kamu orang ujung gunung, kamu itu masuk orang ujung gunung yang isitimewa, karena bisa ngerasain diwisuda. Bisa ngerasain kerja di perusahaan multinational. Keempat, gabungan dari semuanya, sekarang udah jarang Vy, orang yang punya gabungan antara behavior, attitude, intelektual, dan kharisma..Dan kamu memilikinya..Makanya, aku mengkategorikan kamu sebagai orang istimewa..Satu hal yang penting lagi Vy, orang tua aku sudah nerima kamu sepenuhnya. Aku, aku sendiri Vy, Hilmy Permana, I love you so much..Di mata kami, Silvy itu istimewa…Please Silvy, kamu harus percaya..kamu istimewa..”
Aku masih terdiam, antara percaya dan tidak. Benarkah semua perkataan Hilmy?
“Vy, orang tuaku bahkan udah merencanakan kunjungan ke keluarga kamu..”
Aku akhirnya menoleh kearah Hilmy, memandang matanya, berusaha mencari kebenaran dari setiap perkataannya.
“Vy, please trust me..”
Masih mencari kebenaran di sudut matanya, perlahan hatiku membuat keputusan. Keputusan yang aku yakin akan merubah hidupku.
“Hilmy..” Pelan aku berucap.
“Iya Silvy?” Hilmy terus menggenggam tanganku.
“I do..”Aku menghela nafas, air mataku mengalir lagi, tetapi aku merasa lega.
“Terimakasih banyak, Silvy..Thank you for trusting me..”
“Thank you for this great Valentine day..”
“Ngga hanya hari ini, Silvy dear..Our Valentine day will last forever..”
Forever.
Happy Valentine..
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar