by 'Adinda' yang manggil shaya 'Kakanda', halah...
Entah sudah keberapa kalinya ia menangis dihadapanku seperti ini.
Baginya, dunia bahkan terasa lebih sempit, lebih pengap, dan benar-benar nyaris tanpa celah;itulah yang selalu aku simpulkan dalam tiap episode keluh kesahnya. Semuanya terus bersambung, bagaikan film serial. Apapun alurnya, cerita kehidupan seolah tidak pernah menemui akhir. Antiklimaks hanyalah transisi sesaat, dan sang tokoh utama harus siap untuk menempuh ke puncak emosi berikutnya.
“Silvy, maaf ya..Mbak judheg banget..”
“Ngga kenapa-kenapa Mbak..Pintu saya selalu welcome untuk Mbak kok..Mbak Hesthi, mau ya,aku buatkan lemon tea hangat?? ”
Aku tahu, pasti ini masih kelanjutan dari kisah yang ia ceritakan minggu lalu. Tidak hanya minggu lalu, tetapi juga sebulan yang lalu. Aku selalu menunggu ia yang berbicara terlebih dahulu.
Sembari sesekali menatap ekspresi wajahnya, kupanaskan air yang sudah kusiapkan di dalam teko pemanas. Sambil menunggu air itu memanas, aku meletakkan teh celup lemon ke dalam dua mug berukuran sedang, satu untuk dia dan satu untukku. Aku keluarkan juga toples berisi kue koko krunch-choco-balls favoritku, yang juga favorit Mbak Hesthi, yaitu kue bola bola coklat yang terbuat dari koko krunch, coklat karamel dan susu. Tanpa perlu menunggu lama, air itu memanas juga, dan kutuangkan ke masing-masing gelas. Ia membantuku mengaduk lemon tea tersebut, sementara aku mengembalikan tekoku ke tempat semula.
“Orangtua kami berselisih paham lagi, padahal jika dihitung-hitung, tiga bulan lagi kami akan menikah…” Akhirnya mbak Hesthi mulai membuka topik.
“Kalau boleh tahu, permasalahan utama yang dijadikan perkara oleh orang tua Mas Indra apa ya Mbak?”
“Semuanya dimulai dari hal-hal kecil sebetulnya..Dulu aku ngga terlalu ngeh, ketika Ibunya Mas Indra selalu menjelaskan tentang trah keluarganya yang keturunan ningrat. Tradisi dan ritual rutinnya. Mbak hanya berpikir, mungkin beliau memang cuma ingin menceritakan kepada calon menantunya. Aku selalu positive thinking, Silvy. Hingga setelah semua proses lamaran itu, aku juga baru tahu dari ibu aku sendiri, kalau keluarga Mas Indra, terutama saudara-saudara dari pihak Ibu, suka mengintervensi urusan pernikahan kami. Bahkan ada kalimat tersirat yang mengungkapkan bahwa merekalah yang serba tahu tentang adat, keluarga aku hanya keluarga biasa, keluarga sederhana yang ngga ngerti unggah-ungguh yang seharusnya. Lebih sedih lagi, aku baru tahu juga, kalau ternyata orang tua mas Indra juga ngga saking sregnya sama aku. Karena dianggap ngga selevel..Orang tua kami-ternyata selalu berselisih. Aku bingung, Silvy… Aku baru mengerti, pernikahan memang bukan sekadar penyatuan dua hati. Tetapi masih ada atribut-atribut lain yang ikut dimasing-masing bagian itu. “
Aku hanya diam. Berusaha mencari solusi, tetapi aku tak sanggup.Pikiranku melayang ke Hilmy, pacarku.
Mbak Hesthi, sepertinya aku juga tidak akan jauh berbeda dengan dirimu…Hanya berbeda alasan saja..
***
Pantaskah Aku (2)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar