Tampilkan postingan dengan label iriSaN_Kisah_laLu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iriSaN_Kisah_laLu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Oktober 2012

sodara... yang lama tak jumpa

Keluargaku baru dirundung kesedihan. Salah satu pamanku dan salah satu budheku meninggal dunia. Innalillahi.

Keluarga besarpun berkumpul. Besarnya nggak nanggung-nanggung. Ada 12 bersaudara. Mungkin lebih. Aku kurang tau pasti. Dan... ditambah posisiku yang selalu jarang di kampung halaman sejak masa SMA dan kuliah maupun kerja, alhasil aku nggak ingat lagi bagaimana raut muka saudara-saudara sepupu maupun paman-paman, bulik-bulik, pakdhe-pakdhe, dan budhe-budhe. Kalo nenek-nenek dan kakek-kakek pasti ingat, hampir rutin tiap pulang berkunjung ke sana.

Barusan aku telpon rumah, karena lagi kumpul bersama dan aku gak bisa ikut. Nah, akan tetapi aku malah kena sentil. Sentilan ibuku waktu ditelpon, 'Nek ketemu sedulur neng dalan mesti ora niteni.'

Ha ha ha ha ha...

Sindirian halus yang nancep...  "Kalau ketemu saudara sendiri di jalan pasti tidak akan mengenali."
Benar, aku memang top 1 dari keluarga besar yang paling jarang kumpul, paling jarang nongol, dan paling tidak update dalam hal berkembangan keluarga di kampung.

Keluarga tetaplah keluarga, bagaimana pun keadaaan kita.

Yosh...
Next lebaran, aku musti kenalan lagi satu per satu.

-kiko-

Sabtu, 07 April 2012

long wiken == mudik ??

No way!

Long wiken bukan waktu yang tepat buat mudik!
Well, gw bukan salah satu yang ngikut budaya mudik tiap ada long wiken.

1. Tiket mahal
2. Macet sudah jelas
3. Capeknya bisa terasa walo belum mulai
dan
4. Pulang mudik nggak perlu pas long wiken

Long wiken itu waktunya istirahat!
atau
Vacation in case kantong memenuhi.

Long wiken dua minggu lalu?
Pindah kost. Tepatnya pindah kamar, masih dalam satu kosan seh.

Long wiken minggu ini?
Nonton. Ngegame. Gramedia. Baca buku.

2012 1st week April

TV Series update

01. Criminal Minds S7: none
02. Criminal Minds - Suspect Behaviour S1: none
03. CSI: Crime Scene Investigator S12 - E19: Split Decision
04. CSI Miami S10: none
05. CSI New York S8 E15: Kill Screen
06. Dexter S6: none
07. Fringe S4 E17: Everything in its Right Place
08. Primeval S5: none
09. Supernatural S7: none
10. The Mentalist S4 E20: Something Rotten in Redmund

Minggu, 18 Maret 2012

ngegym + body combat vs pola makan (diet)

Well, sejak Oktober tahun lalu, gw bisa dibilang rajin pergi ke tempat fitness di kantor. Pada awalnya hanya join body combat tiap Kamis, dengan alasan

1. gratis
Jelas, kalo bayar jadi mikir dua tiga kali untuk join.

2. nunggu lalu lintas sepi
Ntah kenapa justru hari Kamis malam situasi lalu lintas Gatsu macet separah Jumat malam. So body combat bisa gw gunain sebagai pengalih waktu menunggu. Setidaknya hingga waktu Isya masuk baru mulai jalan pulang.

Seiring waktu berjalan, kebutuhan akan ngegym makin terasa. Terlebih beberapa teman kantor mengajak untuk melakukan fitness pada waktu istirahat siang. Tidak heran memang kalo di ruang fitness bakalan sunyi senyap tanpa orang. Dan kita bisa memakai alat sepuasanya meskipun hanya satu jam.

Makin ke belakang, ada juga yang mengajak ngegym pagi hari. Untuk kali ini gw masih mikir-mikir. Gimana nggak, rumah nun jauh di pelosok Jakarta Timur, untuk bisa ngegym pada pukul 6 (secara pukul 7 masuk kantor) harusnya beranjak dari rumah setelah Subuh. Tapi beberapa kali gw join untuk season pagi. Surprisingly, ramenya minta ampun. Musti ngantri kalo make alat.

Bagaimana dengan sekarang? Gw sekarang ngekost deket kantor. Mo ngegym pagi tinggal ngesot, mo siang tinggal juga ok. Tapi untuk sore agak berat, alasannya ya gw pengen mengalokasikan waktu sore untuk yang lain. Tahu sendiri anak kosan musti apa-apa sendiri.

Untuk fitness gw memang sengaja tidak mengambil kelas private. Tanpa pelatih (kecuali body combat). Alasannya simple: gw cuman pengen menyegarkan badan sahaja. Tidak lebih. Pengaturan makan aka diet bisa gw lakuin sendiri. Penggunaan alat-alat pada ruang fitness juga tertentu saja. Gw gak terlalu minat untuk membesarkan otot maupun tujuan umum orang mengikuti fitness.

Bagaimana pola makan gw?
Gw sadar dengan suasana kerja kayak gw dengan berbagai fasilitas bisa menyebabkan kebengkakan badan. Bayangin aja kalo gw kagak fitness. Beuh, melarr-lar. Padahal gw udah mengurangi nasi, sengaja tidak memilih menu daging (selalu ikan), dan perbanyak minum. Pola yang susah dihindari:

1. ngemil
di kantor ada istilah kurap aka kue rapat. kalo projek lagi jalan bakalan tiap hari ada meeting disertai kue-kuenya...

2. gorengan
susah banget menolak untuk tidak mencicipi gorengan, hehehe

Tapi semoga dengan kerutinan yang sekarang sedang dijalankan bisa membuat badan gw lebih segar sehingga lebih bersemangat untuk bekerja dan mempertahankan berat badan. Lebih bagus lagi turun menuju ideal aka normal BMI. Sekarang masih tergolong overweight huhuhu...

Senin, 12 Maret 2012

mana yang lebih baik dalam organisasi

Dalam suatu organisasi, manakah yang lebih baik?

1. Mengisi posisi-posisi pelaksana (paling bawah) kemudian dilanjutkan dengan melengkapi para koordinatornya kemudian melengkapi posisi-posisi di atasnya lagi?

atau

2. Mengisi posisi-posisi pengawasnya dahulu kemudian koordinator hingga melengkapi para pelaksana kegiatannya?


Pendapat pribadi: nomor 2
Alasan: karena gw selalu di posisi bawah terlebih dahulu akan melihat siapa 'atasan' gw? kalo tidak ada hirarkinya menjadi kacau. secara pertanggungjawaban tidak bagus.

Beda orang, beda cara berpikir sehingga beda juga tipe kepemimpinannya.

selamat pagi Mampang

Well, new place... new life begin.

"Kehidupan elo tu downgrade jadinya ya?"

Kata-kata itu serasa menampar pipi gw?

Hah? Kenapa?

Waktu kuliah elo hidup di negara maju, tinggal di residence dan berlanjut ke apartment, dan semua fasilitas ada.
Lulus kuliah balik ke negara berkembang, tinggal di rumah biasa, tapi facilitas masih bisa dibilang lengkap.
Nah sekarang, lo ngekost, dan apa-apa lo musti nyediain sendiri.

Itu namanya mandiri cuy!

Whatever, kenapa seh lo gak balik ke sono?

Ngusir gw lo, heh???

Peace!!

Kamis, 08 Maret 2012

kembali

bismillah

semoga bisa eksis kembali di blog ini.
well, mari dimulai.

Senin, 05 Desember 2011

Sensus Penduduk Indonesia 2010

sumber: http://sp2010.bps.go.id

1. Jumlah dan Distribusi Penduduk

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 adalah sebanyak 237 641 326 jiwa, yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 118 320 256 jiwa (49,79 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 119 321 070 jiwa (50,21 persen).

Penyebaran penduduk menurut pulau-pulau besar adalah: pulau Sumatera yang luasnya 25,2 persen dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh 21,3 persen penduduk, Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.

2. Jenis Kelamin Penduduk

Penduduk laki-laki Indonesia sebanyak 119 630 913 jiwa dan perempuan sebanyak 118 010 413 jiwa. Seks Rasio adalah 101, berarti terdapat 101 laki-laki untuk setiap 100 perempuan.

Seks Rasio menurut provinsi, yang terendah adalah 94 di Provinsi NTB dan tertinggi adalah 113 di Provinsi Papua.

Seks Rasio nasional pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 93 sampai dengan 109, dan umur 65+ sebesar 81.

3. Umur Penduduk

Median umur penduduk Indonesia tahun 2010 adalah 27,2 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Indonesia termasuk kategori menengah (intermediate). Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun.
Rasio ketergantungan penduduk Indonesia adalah 51,31. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 46,59 sementara di daerah perdesaan 56,30.
Perkiraan rata-rata umur kawin pertama penduduk laki-laki sebesar 25,7 tahun dan perempuan 22,3 tahun (perhitungan Singulate Mean Age at Marriage/SMAM).

4. Penduduk Migran Risen

Jumlah penduduk yang merupakan migran risen terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil SP2010 mencatat 5 396 419 penduduk atau 2,5 persen penduduk merupakan migran masuk risen antar provinsi. Persentase migran risen di daerah perkotaan tiga kali lipat lebih besar migran risen di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 3,8 dan 1,2 persen. Menurut gender, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan, 2 830 114 berbanding 2 566 305 orang. Seks rasio migran risen adalah 110,3. Data-data tersebut menunjang teori, bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak yang melakukan perpindahan. Beberapa provinsi merupakan daerah tujuan migran, seperti: Kepulauan Riau, Papua Barat, dan DI Yogyakarta. Daerah-daerah ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya alasan utama pindah para migran ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan, atau sekolah.

5. Penduduk Migran Seumur Hidup

Jumlah penduduk yang merupakan migran seumur hidup terus meningkat dari waktu ke waktu. Hasil SP2010 mencatat 27 975 612 penduduk atau 11,8 persen penduduk merupakan migran masuk seumur hidup antar provinsi. Persentase migran seumur hidup di daerah perkotaan hampir tiga kali lipat migran seumur hidup di daerah perdesaan, masing-masing sebesar 17,2 dan 6,3 persen. Menurut gender, jumlah migran laki-laki lebih banyak daripada migran perempuan, 14 736 632 berbanding 13 238 980 orang. Seks rasio migran seumur hidup adalah 111,3. Data-data tersebut menunjang teori, bahwa migran lebih banyak di daerah perkotaan dan laki-laki lebih banyak yang melakukan perpindahan. Beberapa provinsi merupakan daerah tujuan migran, seperti: Kepulauan Riau, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur. Daerah-daerah ini mempunyai daya tarik tersendiri bagi migran. Pada umumnya alasan utama pindah para migran ini adalah karena pekerjaan, mencari pekerjaan, atau sekolah.

6. Pendidikan

Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar (Pasal 6 UU No. 20 tahun 2003). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 7-15 tahun yang belum/tidak sekolah sebesar 2,51 persen dan yang tidak sekolah lagi sebesar 6,04 persen.
Ukuran/indikator untuk melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) yang terkait pendidikan antara lain pendidikan yang ditamatkan dan Angka Melek Huruf (AMH). Berdasarkan hasil SP2010, persentase penduduk 5 tahun ke atas berpendidikan minimal tamat SMP/Sederajat sebesar 40,93 persen. Ini menunjukkan kualitas SDM menurut tingkat pendidikan formalnya relatif masih rendah. AMH penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 92,37 persen yang berarti setiap 100 penduduk usia 15 tahun ke atas ada 92 orang yang melek huruf. Penduduk dikatakan melek huruf jika dapat membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya.

7. Jumlah Angkatan Kerja Mencapai 107,7 Juta Jiwa

Berdasarkan hasil SP 2010, jumlah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) adalah sebesar 169,0 juta jiwa, terdiri dari 84,3 juta orang laki-laki dan 84,7 juta orang perempuan. Dari jumlah tersebut, jumlah angkatan kerja, yakni penduduk 15 tahun ke atas yang aktif secara ekonomi yaitu mereka yang bekerja , mencari pekerjaan atau mempersiapkan usaha sebesar 107,7 juta jiwa, yang terdiri dari 68,2 juta orang laki-laki dan 39,5 juta orang perempuan. Dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, jumlah angkatan kerja yang tinggal di perkotaan sebesar 50,7 juta orang dan yang tinggal di perdesaan sebesar 57,0 juta orang. Dari jumlah angkatan kerja tersebut, jumlah penduduk yang bekerja sebanyak 104,9 juta jiwa dan penganggur sebesar 2,8 juta jiwa. Dari sisi pengangguran (mencari kerja) mencapai 2,8 juta jiwa.

8. Perumahan Penduduk Indonesia

Peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang pesat menjadikan kebutuhan tempat tinggal semakin meningkat pula. Hasil SP2010 memperlihatkan rumah tangga yang menempati rumah milik sendiri sebesar 77,70 persen. Dari angka tersebut, 55,28 persen diantaranya telah memiliki bukti hukum yang kuat, yaitu memiliki sertipikat hak milik (SHM) baik itu atas nama anggota rumah tangga ataupun bukan atas nama anggota rumah tangga. Sebagian besar rumah tangga menempati bangunan tempat tinggal dengan luas lantai perkapita 13 m2 atau lebih (56,98 persen) serta sumber penerangan utamanya adalah listrik (93,89 persen).

Sabtu, 19 November 2011

at Batang...

This city is my hometown.
Same old... same old...

with classic train stasiun, crowded wet market, same 'Beringin' tree... etc

Sabtu, 12 November 2011

membeli atau koleksi

Membeli bisa diartikan dengan membuang-buang uang.
Buku. Benar kalo dibilang saya suka membeli buku. Hanya sekedar membeli karena ingin koleksi. Bukan karena ingin membaca. Persis seperti seorang klepto yang hanya ingin mengambil karena untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya.

Dampaknya: buku numpuk dengan status unread. Ntah soon, or never be readed.

Jumat, 21 Oktober 2011

frase yang dicari

Ada sebuah frase yang perlu dicari: Sepoci Kopi

Kamis, 20 Oktober 2011

berapa jam saya effektif bekerja?

Saat ini saya bekerja di kawasan Wisma Mulia. Sebagian besar orang-orang yang bekerja di sini umumnya mempunyai jam kerja sebagai berikut

1. masuk kerja pada pukul 07:00
2. istirahat siang antara pukul 11:00 hingga 12:00
3. pulang kerja pukul 16:00

Mari kita lihat faktanya. Ini berdasarkan apa yang saya lakukan.

1. Berangkat kerja
Tinggal di daerah Cipayung, bekerja di daerah Gatot Subroto. Diperlukan waktu sekitar satu hingga dua jam untuk menempuhnya. Kalo lagi beruntung ya bisa 30 menit saja, tapi keberuntungan memang tidak selalu datang.
Jam enam, saya mulai menempuh hiruk pikuknya lalu lintas Cipayung-Cawang-Kuningan.
Biasanya pukul 07:30 saya sudah berada di kantor. Dan... masih sepi.

Bagaimana yang tinggal di daerah Depok, Bogor, maupun Banten?
Mungkin, sekitar jam 8 sampai di kantor.

2. Istirahat siang
Makan siang memang bisa dimulai dari jam 11:00, tapi saya selalu menunggu waktu untuk sholat Dzuhur terlebih dahulu, baru kemudian hunting kuliner. Jadwal sholatnya sekitar pukul 12:00 yang seharusnya jam istirahat sudah selesai justru saya baru mulai. Biasanya keluar ruangan 11:30.
Kembali bekerja sekitar pukul 12:30.

3. Pulang kerja
Kadang tenggo, kadang nunggu maghrib. Hanya ada dua pilihan.
Tenggo jam 4. Nunggu maghrib sekitar pukul 18:30 baru pulang.

4. Pengurang waktu kerja
a. Waktu Ashar
Pukul 14:45 menuju masjid. Hanya sekitar 15-20 menit balik lagi.
b. Sarapan
Orang mulai bekerja rata-rata pada pukul 08:00 setelah kembali dari sarapan. Kalo saya sarapan di rumah.
c. Tidur Siang
Nggak sedikit pula yang menyempatkan untuk melepas lelah di siang hari untuk tidur siang sekitar 10-20 menit.
d. Tea break, coffee break
Sore hari, ngobrol di pantry, sebelum waktunya balik. Sekitar 10 menit
e. Browsing
Cek email selain urusan kantor, baca berita, blog, dll

5. Kompensasi
Ada sebagian orang juga yang melakukan kompensasi jika telah membuang waktu pada waktu jam bekerja dengan pulang lebih lambat tanpa klaim overtime.

Mari dihitung.
(1). Rata-rata jam kerja saya
Total jam kerja: 9 jam
dikurangi istirahat: 1 jam
dikurangi telat masuk: 30 menit
dikurangi untuk ashar: 15 menit
dikurangi untuk browsing: 30 menit
teng-go
Hasilnya 6 jam 45 menit

(2). Orang ndableg
Total jam kerja: 9 jam
dikurangi istirahat: 2 jam
dikurangi telat masuk + sarapan: 1 jam 30 menit
dikurangi ashar: 20 menit
dikurangi browsing: 1 jam
dikurangi tea break: 30 menit
teng-go
Hasilnya 3 jam 40 menit

Bagaimana dengan Anda ?

Minggu, 16 Oktober 2011

bingung...

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia."

Jumat, 14 Oktober 2011

FLF

Laughing

Fighting

Loving

all comes from the same place

== PASSION

Selasa, 11 Oktober 2011

new office

Here it is.
My office currently at Wisma Mulia. Guess which company? hehehe

Welcome to my self.
Welcome to the new job.
Welcome, hey, new colleages...

Rabu, 05 Oktober 2011

the new day in the old town

new day include:
- new opportunities
- new friends
- new plans
- new goal

old town always with
- traffic jam
- air pollution
- not so comfy public transportation
- spending about one per eight of my day in the way

Selasa, 04 Oktober 2011

someone special, not sumwan

Baru saja menamatkan Luntang-Lantungnya Roy Saputra.
Well, it's true great joke inside... and kind a 'gokil'.

Ada sebuah quote di dalamnya, begini bunyinya:
"To make someone special you just need to add another egg. Just like martabak, heh?"

Asli, abis baca itu emang ngakak...

==========

Another egg, huh?
Yes, I have 'the eggs' given by besties. And I do have many more to give for...

Senin, 03 Oktober 2011

Top 12 Things Not To Put On Your Resume

Taken from http://sg.finance.yahoo.com/news/Top-12-Things-Not-To-Put-On-investopedia-3652624969.html?x=0


Jobs are scarce these days and competition for every opening is fierce. Employers have reported that for every position advertised, hundreds of people send in applications for the job along with their resumes. The majority of these applicants are rejected, of course, because only one person is needed. Many applicants may be rejected for the job because of what they've put into their resumes. If you've been putting in any of the material cited below, stop! You may be hurting your chances of getting hired.


Unrelated Part Time or Temporary Work
Whatever job you're applying for, your employer is not interested in your jobs mowing the neighbor's lawn, washing dishes after school in a local restaurant and other simple odd jobs that do not relate to the job advertised.

Unrelated Interests
Your interests or hobbies won't help you nail the job if they're unrelated to the position offered. Collecting rocks, for example, might help you secure a job as a geologist, but it won't help with most other positions. Mention only interests that make you a more attractive candidate for the job and exclude all the rest.

Boring Words and Resume Cliches
Words such as "team player", "detail-oriented" and other similar resume cliches are no longer effective in selling yourself to a prospective employer. Use powerful verbs to say the same thing. Find appropriate words in a thesaurus if necessary. For "team player", write: "cooperates and collaborates easily with other staff" or "scrupulously vigilant about details" instead of "detail oriented". A resume that's different than the usual run-of-the-mill submissions will grab the attention of HR people or whoever does the hiring.

High School Diploma
If you only have a high school education, it may be prudent not to include that fact, unless you are currently a college student in pursuit of a degree.

Vague Objectives
If you list your objectives, make them concrete. For example, something similar to the following can be very effective: Objective: To contribute to the success and profitability of the company through my effort, expertise and experience. A vague objective, such as the following, should not be in your resume. Objective: To help the company through my hard work.

Your Photo
Don't send your photo along with your application. Your face is unimportant to a potential employer, unless a picture is requested, which is a rare occurrence. Some people who have sent photographs with job applications and have not been hired have brought lawsuits for discrimination against the company which declined to hire them. The employer is likely to ignore all applications with a picture of the applicant attached.

Personal Qualities
Your age, race, religion, medical condition, disability, height, weight and sexual orientation are irrelevant. The law requires employers to disregard these qualities in their hiring decisions. Nevertheless, many of them ignore the law, and base their application rejections on one or all of these factors.

Weaknesses
Don't broadcast your weaknesses. For example, don't write something like: "I'm good at word processing, but not quite up to par on Excel and Power Point." Lead from your strengths. Don't give an employer an excuse to reject you. If you're asked, however, after you've applied for a job, don't lie or exaggerate - your weakness will become evident in time, and could lead to your dismissal, if not disclosed initially if asked.

Negative Comments
Don't bad-mouth your previous boss. Don't complain about your financial troubles. If you were fired from your last position for pilfering paper clips, don't mention it. If you were dishonorably discharged from the military, or did a prison stretch, don't mention it. You can be truthful about any of these issues only if asked.

Lies and/or Exaggerations
Don't lie about your experience, education or achievements. Don't inflate your previous salary. Employers in these tough times have been verifying facts on applicants resumes, and almost every lie and exaggeration will be nailed.

Self-Serving Goals
If you're applying for a job in a certain industry, just to learn that business as a stepping stone to another position, don't mention that. Many younger applicants cite their long-term goals in their resumes which result in their rejection. Employers want applicants to focus on the job they're offering, not on some future job.

Politics, Prejudices and Personal Preferences
Whatever your political persuasion, and whatever or whoever you dislike, should not be included in your resume. You may like or dislike the current government administration, but your potential employer will probably not care.

The Bottom Line
Landing a job is tough enough these days without the added disadvantage of a resume with material in it that should've been left out. Leave out the items mentioned above and you'll have a better chance of getting the job you applied for. Good luck.

Sabtu, 01 Oktober 2011

besok...

Besok mo pake batik gak ya?

Minggu seh...

Jumat, 30 September 2011

look available, be unobtainable

Minggu kemaren liat serial CSI, ada satu quote yang menarik yaitu

Look available, be unobtainable

Ada beberapa orang yang terkesan bahwa dia available aka jomblo, tapi ada kesan sampingan bahwa dia sulit untuk didapatkan.
Menurut saya orang semacam ini mempunyai beberapa sifat.

1. ekstrovert
pengungkapan secara langsung bahwa dia available terlihat jelas

2. perfeksionis
untuk mencapai sifat be unobtainable, dia selalu mempertahankan ke-sempurna-annya dengan melihat bahwa hanya orang-orang yang mampu berdiri seimbang dengannya baik secara kemampuan dan kemauan yang dapat memilikinya, sementara orang biasa hanya bisa memandang dengan suatu harapan

3. dominan atau ingin didominasi
orang seperti itu mampu mendominasi orang, sebaliknya jika bertemu dengan 'klik'-annya maka dia memberikan sinyal-sinyal untuk ingin didominasi, hal itu dimaksudkan bahwa 'klik'-annya dianggap mampu mendapatkannya

==========

Siapa contohnya ya?
Terus terang dalam keseharian saya belum pernah menemukan orang seperti ini. Kesan yang ditimbulkan awalnya hanya Jual Mahal dan Sombong. Tapi, dibalik itu tiga sifat di ataslah yang menentukan jalan pikirannya begitu kita memasuki dunianya.

Bagaimana kalo bertemu dengan orang seperti ini?
Dia tetap akan menganggapmu teman atau atasanmu. Namun, segala macam effort kita untuk melakukan pendekatan terhadapnya tidak akan digubris selama sifat kita tidak sama dengan dia. Silakan dicoba saja kalo bertemu tipe seperti ini. Good luck, wakakaka...