Kamis, 08 Juli 2010

Pantaskah Aku (4)

Pantaskah Aku (3)

***

Hatiku makin bergejolak. Aku sudah tahu apa yang akan ia utarakan, dan aku sudah tahu juga reaksi yang akan aku rasakan. Sungguh, aku menghargai kebaikan dan ketulusannya, tapi aku selalu memberontak.

Aku memutuskan untuk menolak ajakan Valentine Hilmy. Aku berharap Hilmy akan marah besar. Aku berharap Hilmy akan menganggapku mencampakkan dia. Aku berharap Valentine ini menjadi akhir dari ketakutanku.

Aku lebih rela kebahagiaanku saat ini hilang begitu saja, daripada aku mengelus dada sepanjang hidupku..Aku tidak ingin meletakkan bayang-bayang kisah Mbak Hesthi pada diriku...

Aku terpaksa mencampakkan harapanku sendiri.

Hilmy sepertinya sudah membaca keinginanku. Mulai dari dua minggu yang lalu, kami sama-sama membisu. Tidak ada sms-sms atau telepon rutin seperti biasanya. Tidak ada kunjungan. Aku merasa, kami sedang meraba perasaan masing-masing. Saling menerka. Dan sampai sejauh ini, aku merasa biasa-biasa saja. Mungkin jika dipaksakan, aku memang bisa ya?

Di hari Sabtu ini, bersamaan dengan hari Valentine, hujan turun. Aku melakukan aktivitas rutinku seperti biasa: bangun pagi, mandi, dan sarapan. Kemudian memutar Twilight, film favoritku yang sudah kuputar berkali-kali hingga aku nyaris hafal setiap dialog pada setiap adegannya.

Semakin siang, hujan justru semakin deras. Mataku lelah menatap layar laptopku selama dua jam hanya demi menonton Twilight yang kesekian kalinya. Aku beringsut--bergerak menuju tempat tidurku, dan membuka korden jendela kamarku. Berharap bulir-bulir hujan itu bisa mendinginkan pandanganku. Juga suasana hatiku.

Ternyata, hujan deras itu justru menampilkan pemandangan yang lain.

Dari atas jendela kamarku, aku melihat sebuah city car biru yang familiar, terparkir cukup jauh dari area bangunan kosku. Kemudian aku melihat bayangan payung berwarna hijau dengan cap sebuah nama resort hotel di daerah Anyer-oke.., payung ini juga familiar bagiku-payung itu berjalan menjauhi mobil itu, dan bergerak. Terus bergerak, dan mendekat hingga ke pagar utama pintu kosku.

Jantungku langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku terus menarik nafas, hingga telingaku menangkap bunyi dering handphoneku. Lovely Hilmy is calling..

“Silvy, kamu di kos kan??”

“Iya My..knapa?”

“Am I disturbing you?”

“Ngga My..”

“Aku di depan kos kamu, Silvy..”

Handphone ditutup.

***

Pantaskah Aku (5)

Tidak ada komentar: