Pantaskah Aku (4)
***
Aku tahu Hilmy..Tapi aku takut..Aku bahkan sulit menggerakkan kakiku. Semuanya terasa cramp.
Aku masih melongok keluar jendela. Hujan makin deras. Payung hijau itu tetap bertahan di tempatnya, tidak bergeming.
Mendadak aku merasa menggigil. Batinku terus melakukan pergolakan. Perdebatan. Dan akhirnya keluar juga pemenangnya..
Segera aku turun dari tempat tidur. Mengambil jaket. Menggulung celana trainingku. Terburu-buru aku melangkah menuruni tangga, menuju pintu depan.
“Hilmy..”ucapku lirih. Aku lupa sudah berapa lama aku membiarkannya terlantar di depan gerbang, kehujanan. Hilmy dan payungnya. Wajahnya basah dan pucat, antara terkena percikan air dan kedinginan. Ia memandangiku dengan cara yang sama. Tidak ada raut wajah marah. Tidak ada kekesalan. Sepertinya yang ada hanyalah....sebuah harapan.
Aku lari menghampiri Hilmy, tanpa menggunakan payung. Melihat keadaanku, Hilmy langsung reflek menyambutku. Aku tidak bisa lagi untuk tidak menahan air mataku. I miss him much..Namun Hilmy tidak berkomentar banyak..Kami saling berpandangan, sementara tangan kami juga terus saling menggenggam.
“Udah makan Vy?”
“Belum..”
“Beli makan yuk. Yang deket kos aja. Yang enak dimana Vy?”
“Kamu yakin Valentine gini mau makan disini?”
“Emang kenapa? Ga masalah kan? Jadi yang enak apa?Atau kamu pengen makan apa?”
“Emm..ada sih yang menurutku enak. Bubur kacang ijo Mang Otong. Tempatnya di ujung jalan situ, deket pasar. Tapi emang kamu suka? Warungnya rada-rada bau minyak tanah lohh..”
“Loh, emang kenapa? Bubur kacang ijo enak kan?”
“Tapi ngga higienis My..Kamu ngga takut diare? Kamu ngga takut tipes?Ngga takut radang usus?”
“Lah kamu selama ini makan bubur itu ngga takut tipes?”
“Ngga My….Soalnya..”Aku memberi jeda pada ucapanku
“Kenapa?”
“Andaikan aku tipes, aku tahu pasti ada obatnya. Obatnya kan ada di depan mataku sendiri..HIhihihi...” Aku menampilkan senyuman innocent aku. Maaf My…
“Heuhh…dasar bandel.,”Hilmy spontan mengacak-acak rambutku,”Berarti hari ini kita memiliki probabilitas untuk tipes bersama. Ahh biarin.…Peduli amat. Yuk kesana..”
Kami memutuskan untuk membungkus bubur tersebut dan memakannya di kos-ku. Belum pernah aku melihat Hilmy sedekil ini: kaki penuh lumpur, rambut basah, dan celana tergulung asal. Sisi belakang kausnya pun basah, karena payung ini ternyata tak cukup mampu menghalau derasnya hujan. Sampai di halaman kos, kami mencuci kaki di kran air depan. Aku masuk ke kosku, Hilmy mengikutiku di belakang. Lalu aku menyalakan tivi, memberikan tissue pada Hilmy, mengeluarkan mangkuk, dan memanaskan air minum.
Hilmy duduk bersandar pada daun pintu yang dibiarkan terbuka.
***
Pantaskah Aku (6)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar