Sesaat sebelum aku hendak masuk ke bagian imigrasi.
"Ca, maafkan aku....." ucap Risa.
Aku tersenyum kecil.
"Aku mengerti Sa. Kamu ada dalam posisi yang sulit."
"Ca, kamu masih sahabatku kan?"
Ia meraih tanganku dan menggengamnya erat.
Aku mengangguk.
"Tentu Sa, tapi beri aku waktu dulu ya? Aku ingin melupakan semua ini..."
Risa mengangguk dan memelukku sebelum akhirnya kami berpisah.
Kupandangi awan-awan putih yang menutupi bumi dari balik jendela pesawat.
Percakapanku di mobil dengan Risa tadi masih terngiang jelas di benakku.
"Sudah berapa lama, Sa?" tanyaku getir.
Risa diam sebentar, seolah bimbang haruskah ia berkata jujur atau haruskah ia membela kakaknya.
"Kita sahabat, kan?" desakku.
"Paling hanya dua minggu, Ca. Kakakku tidak pernah serius dengan mereka" jawab Risa akhirnya.
"Mereka?"
Aku tersentak kaget. Risa jadi gelagapan.
"Maksudku...bukan begitu....."
Ia lalu memukul setirnya kesal.
"Baiklah, aku katakan sejujurnya Ca! Aku pikir kamu berhak tahu semuanya."
Risa berhenti sesaat, menunggu reaksiku. Aku diam, membiarkannya melanjutkan kalimatnya.
"Seumur hidupnya, selain dirimu, ia hanya pernah mencintai satu perempuan lagi. Namanya Diana. Mereka sudah berpacaran cukup lama ketika kakakku tahu kalau Diana ternyata sudah hampir menikah dengan orang lain. Kakakku hanya dijadikan pacar gelapnya. Kakakku pun tidak tahu apakah Diana pernah benar-benar mencintainya seperti ia pernah mencintai perempuan itu. Diana meninggalkannya begitu saja. Ia hampir jadi gila saat itu. Semenjak itu ia berubah."
Risa berhenti sesaat.
"Ia terus mempermainkan perempuan. Ia memacari mereka, meniduri mereka lalu meninggalkan mereka begitu saja. Ia ingin menyakiti selayaknya ia pernah disakiti. Baginya cinta sejati itu sudah tidak ada..."
###
2 komentar:
kok crtanya jadi sedih b,,,><
tapi gapapa,,
asal happy ending,,,hahaha,,,
ayo b,,,posting lagi,,,:D
yeee protes.....
tamat aja belom....
Posting Komentar