Aku tertegun. Ternyata ada begitu banyak tentang Abrar yang tidak pernah aku tahu.
Apakah karena aku terlalu takut kehilangan dirinya sehingga aku tidak pernah bertanya tentang masa lalunya.
Apakah ini salahku semata?
"Ia berubah sewaktu ia berkenalan denganmu. Ia benar-benar jatuh cinta lagi. Tapi ia takut. Ia pernah berjanji untuk tidak jatuh cinta lagi, lagipula perkenalan kalian terlalu cepat."
Jadi itu sebabnya ia sempat menolak pertunangan kami. Itulah juga sebabnya ia pernah mengatakan padaku.
"Aku suka cewek yang bisa membuatku jatuh cinta."
Aku yang telah membuatnya jatuh cinta, sesuatu yang ia benci.
"Kalau ia memang mencintaiku, kenapa ia melakukan ini padaku?" tanyaku pilu.
Risa menghela napasnya.
"Kamu tahu kenapa ia bersikeras ingin tetap ke Sydney? Karena ia tahu ia belum siap dengan komitmen, karena ia takut ia berharap terlalu banyak darimu. Terlalu banyak pertimbangan yang membuatnya memilih untuk berpisah sementara darimu. Ia telah mencoba sebisa mungkin untuk setia padamu namun....."
Risa terdiam sesaat.
"Ia masih tidak bisa lepas dari bayang-bayang Diana. Terutama belum lama ini seorang teman lama kembali menguhubungi dia. Mengungkit Diana lagi dan ternyata Diana mengetahui pertunangannya denganmu. Aku tidak begitu tahu apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti emosi Abrar langsung jadi labil. Ia kembali seperti dulu."
"Kalau ia merasa belum pasti dan belum bisa melepas kehidupan lamanya, kenapa ia tetap mau bertunangan denganku?" potongku.
Risa membalas tatapan mataku.
"Karena di sisi lain, ia tidak mau kehilanganmu, karena jauh di lubuk hatinya, ia masih percaya kalau Tuhan memberikanmu untuknya. Itulah sebabnya ia terus berupaya terlihat seperti Abrar yang kamu dulu kenal sekalipun..."
"Tidak usah diteruskan!!"
Aku membuang mukaku, menggigit bibirku sendiri.
Mengapa aku merasa ini semua tidak begitu adil bagiku. Aku tak ingin mendengar apa-apa lagi.
Risa meremas tanganku lembut.
"Beri Abrar waktu... Hanya itu yang ia butuhkan. Aku tahu, ia memilihmu lebih daripada Diana walau ia sendiri tidak menyadarinya."
Aku terus diam seribu bahasa.
Bagiku semuanya sudah jelas. Terlalu jelas sehingga hati ini begitu sakit rasanya.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar