Sewaktu aku turun dari kamar, kulihat ia sedang duduk di ruang tamu menantiku. Aku menatapnya dari belakang. Rasanya aku bisa mendengar detak jantungku sendiri saat itu. Pelan-pelan kuhampiri dia dan duduk di hadapannya dengan tatapan yang menghindar darinya. Di luar dugaanku, ia menghampiriku, bersujud di dekat kakiku dan meraih tanganku.
"Sudikah kau bertunangan denganku, Marisca Fransisca Cahyaprakoso?" ia mengecup tanganku lembut lalu menyelipkan sebuah cincin ke dalam genggaman tanganku.
Aku bisa merasakan air mataku kembali menetes dari mataku yang sembab. Tapi kini seuntai senyuman menghiasi wajahku. Ia lalu bangkit dan memelukku.
"Maaf..." kudengar ia berbisik pelan.
Suasana sore itu begitu tenang dan damai. Aku dan Abrar baru saja pulang dari mengurus beberapa keperluan untuk pesta pertunangan kami. Sebenarnya mama Abrar sudah mengurus semuanya, lagipula tidak terlalu banyak yang diurus mengingat pesta ini hanya dihadiri oleh keluarga dan teman dekat saja. Namun, Abrar bersikeras ingin ikut campur dalam segala persiapannya. Hari ini sudah hari Senin. Lima hari lagi adalah hari pertunangan kami. Terus terang, aku merasa ini semua berlangsung terlalu cepat.
"Kok ngelamun, Ca?"
Abrar menyentuh tanganku lembut sambil masih berkonsentrasi menyetir. Aku mengalihkan pandanganku yang sedari tadi memandang ke luar jendela.
"Aku cuma merasa ini tidak nyata. Semuanya terlalu cepat. Maksudku, kita baru berkenalan belum sampai dua bulan tapi kita sudah akan bertunangan lima hari lagi..."
"Kita kan hanya bertunangan, belum menikah. Pertunangan ini kan hanya sebagai tanda ikatan antara kita berdua mengingat aku harus kembali ke Sydney minggu depan. Kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal. Kita tokh tidak perlu buru-buru menikah kan? Atau jangan-jangan kamu dah nggak sabar ya?" pertanyaannya membuat pipiku bersemu merah.
Aku kembali mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
"Brar, kamu belum menjawab pertanyaanku dulu" ucapku memberanikan diri.
"Pertanyaan yang mana, Ca?"
"Kenapa malam itu reaksimu seperti itu?" aku kembali mengungkit persoalan malam ketika ia secara tidak langsung menolak perjodohan kami.
Ia selalu menghindar setiap kali aku mencoba menanyakannya. Abrar menghela napasnya, seolah merasa bosan dengan pertanyaanku.
"Apa itu masih penting sekarang?"
"Masih, karena aku ingin tahu apa yang membuatmu ragu?" paksaku.
"Hmm...entahlah. Life is complicated!" jawabannya masih penuh teka-teki.
"Sudahlah... Aku mohon, jangan bahas ini lagi."
Aku tidak mengucapkan apa-apa lagi. Tampaknya percuma saja. Lagipula memang tidak ada gunanya aku tahu, hal itu tidak akan mengubah apapun. Jadi, kukesampingkan egoku dan membuang keingintahuan itu.
"Besok kita jemput Risa, kamu nggak lupa kan?"
Aku hanya mengangguk.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar