Aku hampir tidak percaya ketika melihat nama Abrar tertera di layer handphone-ku sore itu. Aku ingin sekali menjawab telpon itu tapi ada sesuatu dalam diriku yang mencegahnya. Kebimbangan terus berkecamuk dalam hatiku sampai akhirnya telpon itu terputus. Kumaki diriku sendiri dan kusesali diriku karena tidak mengangkat telpon darinya.
Kupandangi layar handphoneku terus menerus, berharap ia akan menelponku lagi. Ternyata harapanku membuahkan hasil. Tidak lama ia menelponku lagi. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangkatnya.
"Hallo" ucapku pelan dan agak berhati-hati.
"Ca, pakai gaun biru yang kita beli sama-sama untuk Sabtu depan."
"Apa??" tanyaku kebingungan, kaget dengan ucapan Abrar yang tanpa basa-basi itu.
Kupikir ia akan meminta maaf tentang kejadian waktu itu.
"Sabtu depan kita tunangan!!" kebingunganku sirna, diganti oleh rasa terkejut dan sedikit khawatir.
"Brar...kayaknya kita perlu bicara lagi. Kamu harus jelasin kenapa."
"Aku mencintaimu" potongnya cepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku.
Aku terdiam sesaat. Setelah itu, hanya isakan tangisku yang terdengar. Ia juga diam seribu bahasa. Bibir kami sama-sama terkunci saat itu.
Tidak lama ia datang ke rumahku.
###
2 komentar:
b,,,
lanjutannyaaaaaaaaa,,,,,,,
^o^
besoooookkk!!!
Posting Komentar