"Hahahaa…gila, gila…, aku nggak pernah segila ini kalo nggak denganmu," sahut Anto setelah Diyan mengajaknya menyelam di kedalaman 50 meter.
Benar-benar menegangkan! Peralatan yang mereka kenakan tadi mereka pinjam dari Dinas Penyelaman Pantai. Diyan hanya tersenyum melihat Anto, senang rasanya dapat membuat cowok itu tertawa…Diyan merasa sangat dibutuhkan saat itu. Tapi ia tetap berusaha menghindari tatapan Anto, karena Diyan tahu kalau ia pasti akan salting nggak karuan. Ketika mencapai daratan Anto menggandeng tangan Diyan…dan Diyanpun tak menolaknya. Ia ingin menikmati kebersamaannya dengan Anto selagi hal itu mungkin terjadi.
Sekali-lagi Anto menatap Diyan dengan tatapan yang menyimpan sejuta arti. Tapi gadis itu tak ingin membalasnya. Entah mengapa, ketika menggenggam jemari Diyan di depan pintu tadi, serta ketika mereka berdua bertatapan dekat, Anto merasakan sesuatu yang…berbeda. Kini pun ia mulai merasakannya lagi, saat keduanya menyelam ke dasar pantai serta ketika mereka bermain ciprat-cipratan air di dekat daratan hingga ombak datang dan mereka lari terbirit-birit ke pinggiran. 'Benar-benar cewek luar biasa'…baru kini Anto menyadari sisi kelembutan Diyan, dan ia mulai menanggapi Diyan selayaknya seorang wanita. Ternyata tangan Diyan tak kalah halus dan mungil dari Rika atau Fika atau Vonny atau sejuta gadis yang pernah dikenalnya, wajahnya pun tidak lebih buruk.Mungkin kesalahannya selama ini adalah mengabaikan sisi kewanitaan Diyan. ‘Astaga, mungkinkah ini terjadi? Aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri dan baru menyadarinya setelah menghabiskan bertahun-tahun bersama. Ini mustahil! Diyan pasti akan menolak dan kemudian menjauhiku, sehingga aku nggak mungkin bisa berteman dengannya lagi. Baru setelah kepergiannya aku menyadari bahwa aku sangat membutuhkannya’. Keduanya berjalan menyusuri pantai dengan membawa pikiran kalut masing-masing,…tak ada yang tahu kecuali sang bulan yang tengah tersenyum trenyuh menatap kedua insan muda itu.
"Hmm, malam ini benar-benar menegangkan, ya? Baru kali ini aku berani menyelam sejauh itu, tanpa memikirkan tabung persediaan Oksigen-ku sedikitpun. Berkat kamu…," kata Anto senang.
"Yaah, anggap aja balasanku setelah kamu mengajakku ke Sentosa tempo hari".
Memang beberapa hari sebelumnya mereka pernah naik patung singa Merlion setinggi 30 meter dan berteriak-teriak sepuasnya melepaskan segala kepenatan di sana. Sesaat Anto menatap Diyan, kali ini benar-benar menyiratkan kasih sayangnya pada gadis itu. Diyan yang saat itu tidak siap menjadi gugup dan menjatuhkan kunci apartemennya,
"Oo-a, mau masuk? Aku punya secangkir kopi hangat buatmu"
Ia tak ingin suasana malam ini berakhir, Diyan ingin Anto selalu menemaninya meskipun hatinya menyangsikan. ‘Mana mau dia bertamu? Pasti Anto ingin segera pergi saja dari tadi. Sudahlah…’ Anto pun sebenarnya ingin tinggal lebih lama, tapi ia kuatir Diyan hanya berbasa-basi dan sebenarnya tidak mengharapkan kehadirannya. Ini sudah pk. 21.17 dan seorang ‘sahabat’ tidak seharusnya bertamu selarut ini…
"Aa-thanks. Kurasa aku harus kembali ke hotel sekarang. Selamat malam…," pamit Anto pelan.
Diyan menelan ludah, ‘Tuh khan…dia menolak.Bodoh, kenapa nggak kamu suruh pulang aja, supaya perasaanmu nggak terhanyut lebih dalam lagi…’
"Anto…," panggil Diyan ragu-ragu.
‘Oh, Diyan memanggilku! Apakah dia membutuhkanku atau memintaku mampir?!’ seru Anto girang dalam hatinya.
"Ya?"
"Kalau kamu sudah pengen pulang, aku nggak ‘pa ‘pa kok …Bilang aja sama papi aku baik-baik aja disini, seperti kamu lihat," ujar Diyan pelan.
‘Hhh, ternyata dia memang tidak menginginkan aku tinggal lebih lama lagi. Lebih baik aku membiarkan dia tenang disini dan mulai menjalani hidupku sendiri,’ keluh Anto. Baru ketika sampai di tangga akhir pemuda itu menyadari kalau pasport-nya tertinggal di apartemen Diyan.
‘Sial, kenapa musti aku bawa masuk! Sekarang aku harus kembali kesana dan menemukan tatapan ‘bersahabat’ miliknya. Aku tak ingin itu, aku menginginkan lebih dari itu…,’ umpat Anto dalam hati seraya bergegas kembali ke kamar Diyan.
Tapi saat hendak mengetuk pintu kamar Diyan, Anto mendengar suara tangisan dari dalam. Diyan menangis? Mengapa ? Dicobanya membuka pintu kamar Diyan dan ternyata tidak terkunci. Anto memutuskan untuk masuk dengan diam-diam dan menemukan Diyan di dapur,
"Diyan?" panggil Anto.
Diyan menoleh dan gelagapan menyadari Anto melihatnya menangis. Dia tak mengharapkan pemuda yang dicintainya itu melihatnya dalam keadaan kacau begini, maka ia segera menghapus airmatanya dan berusaha menghadirkan senyum palsu untuk Anto,
"Anto! Ngapain kamu balik kesini? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Diyan masih dengan suara sedikit sengau.
"Aku…’ninggalin pasporku disini…"
Diyan segera mencari pasport Anto di laci dan menyodorkannya. Pemuda itu berkerut kening lantas menggenggam tangan Diyan,…dingin dan sedikit bergetar.
"Kamu nggak bisa bohong lagi sama aku. Aku mendengarmu menangis…" Anto tidak ingin melanjutkan kata-katanya.
Diyan tertawa dan menyangkal,
"Apaan sih, To! Aku tadi sedang membereskan meja bekas makan".
"Bohong! Trus kenapa tissue-tissue itu berceceran? Kamu bahkan belum makan." Kali ini Diyan memilih diam saja karena ia merasa kehabisan kata-kata dan tenaga.
"Diyan,ini aku… Anto, sahabatmu. Kenapa kamu nggak mau mempercayaiku lagi? Kemana semua kepercayaanmu padaku?"
Diyan menangis. Mendadak Anto merasa hatinya seperti tersayat-sayat pisau melihat gadis yang diam-diam dicintainya itu seperti itu…Ketika Anto bermaksud memeluknya, Diyan malah mendorongnya kuat-kuat.
"Maaf…,aku nggak bisa mengatakannya, tinggalkan aku sendiri, To…"
"Nggak! Kamu punya masalah dan aku harus tinggal diam, ‘gitu? Aku nggak bisa, aku-aku…"
Baru saja Anto berniat mengatakan perasaannya yang sesungguhnya, tapi ia nggak mampu,
"Sudahlah, pergi ! Kamu nggak akan mengerti…," isak Diyan.
"Setidaknya biarkan aku membantumu melepaskan kesedihan itu…," bisik Anto.
Dengan seluruh keberaniannya ia meraih Diyan ke dalam pelukannya. Anto sangat cemas Diyan akan marah atau menganggapnya kelewat batas, namun ternyata Diyan malah menumpahkan seluruh beban kesedihannya ke dadanya. Anto kini merasakan degup jantung dan getaran di dadanya semakin menjadi…
"Hei…,"
Anto membelai rambut sahabatnya itu dengan lembut. Diyan tak ingin lagi menyembunyikan kegelisahan hatinya selama ini dan bergumam lirih,
"Jangan tinggalin aku, To..."
Diyan tak peduli sudah Anto akan marah atau menjauhinya, melainkan makin mengeratkan pelukannya pada Anto. Ia sudah nggak tahan lagi terus-menerus memendam perasaan cinta yang menyesakkan dadanya itu, ia butuh kelepasan…
"A-paa?" gumam Anto tak percaya.
Tapi Diyan tak bergeming ataupun mengucapkan sepatah katapun, ia terlalu malu untuk bergerak. Anto tersenyum bahagia dan membelai rambut Diyan. Dia mengerti semuanya. Jadi selama ini Diyan menyimpan perasaan yang sama dengannya dan karena pertunangannya dengan Rita lantas gadis itu pergi jauh untuk menghindari dirinya. Oh, Tuhan…, serumit itukah hati manusia? Seandainya dari dulu ia mengetahuinya ia tak perlu buang-buang waktu mencari cinta yang lain. Anto sadar selama ini Diyan-lah yang ia cari dan baru kali ini ia sangat yakin tentang perasaannya kepada seorang wanita. Anto mengangkat dagu Diyan dengan lembut,
"Sejak...kapan?" suara Anto parau dan ia seperti kehilangan kata-kata saking bahagianya.
Diyan terkejut melihat reaksi yang sama dari Anto, ‘Astaga,..benarkah? Dia tampak bahagia …,terima kasih Tuhan.’
"Sejak ulang tahunku yang ke-17…,"jawab Diyan nyaris berbisik.
Ia menduga wajahnya kini pastilah semerah kepiting rebus.Anto sendiri merasa sangat bersalah dan menyesal telah membuat Diyan menunggu dan menderita…4 tahun, begitu lamakah waktu yang diperlukan untuk menyadari perasaan kita pada orang yang tepat? Anto kembali mendekap Diyan,
"Mengapa nggak kamu katakan sejak dulu? Astagaa, seandainya aku tahu aku pasti akan…"
Diyan menunggu perkataan pemuda tampan itu namun Anto tidak melanjutkannya melainkan perlahan-lahan mendekatkan wajahnya hingga menciumnya lembut sekali. Ciuman pertama yang telah lama Diyan impikan selama ini,
"Diyan, aku mencintaimu juga. Maafkan aku karena lama baru menyadarinya…"
Diyan menggeleng terharu. Baru kali ini ia merasa sangat bahagia, ternyata dirinya tak pernah kehilangan Anto. Anto menciumnya sekali lagi,
"Hei, sekarang kamu nggak sendiri lagi…,kamu bisa selalu ‘ngandalin aku. Jadi selama ini kamu menolak cinta Tommy, Rico, Leo dan entah siapa lagi...hanya untuk…menungguku?"tanya Anto masih skeptical.
Sekali lagi Diyan mengangguk malu-malu,
"Gilaa, aku nggak percaya ini…Apa jadinya kalo aku dulu benar-benar menikah?" sesal Anto.
Anto menatap kekasih sekaligus sahabatnya dengan penuh kasih sayang, ia nggak bisa menyembunyikan kebahagiaannya yang meluap-luap…
"Dee, menikahlah denganku…" Diyan tergagap.
Benar-benar serius secepat itu?
"Anto!! Kita bahkan baru menyadari perasaan masing-masing beberapa menit yang lalu," pekik Diyan.
Anto merangkul pinggang gadis itu,
"So what? Kita udah berteman selama hidup kita. Kita sangat mengenal satu sama lain, jadi nggak ada alasan lagi buat menundanya…"
"Tapi berhubungan denganmu sebagai seorang sahabat dan sebagai pacar itu sangat berbeda."
"Maka jadilah sahabat dan pacarku. Mudah, khan?" Diyan menjitak kepala Anto.
"Sekarang pulanglah, sudah malam," tutur Diyan.
"Apakah itu berarti ‘ya’?" desak Anto sebelum pergi.
Diyan hanya tersenyum seraya mengerling nakal,
"Kita jalani dulu saja…,"jawab gadis itu. ***
Empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 11 Februari, Anto dan Diyan mengakhiri hubungan persahabatan diantara mereka atau…sebenarnya justru semakin mempererat? (Karena mereka kemudian menikah dan membentuk sebuah keluarga baru.) Entahlah, yang jelas buat para sahabat hati-hatilah... karena mungkin saja pasangan jiwamu sesungguhnya adalah orang yang selama ini ada dekatmu.
"A good relationship started from a nice friendship…"
4 komentar:
Uhm.. sebenarnya dari cerpen komitmen sih, gw berasa familiar ama para tokoh. Di sahabat sejati juga... Ko kayanya gw kenal banget ama tu tokoh. Kayanya ada kesalahan di tengah cerpen, yang bilang Diyan mo ke Kanada, trus lanjutannya ke Sing. Trus gw rada bingung ama plot waktunya. Diyan critanya pindah kuliah? Umur Anto tunangan di waktu dia masih kuliah juga? Uhm.. kurang jelas kayanya. Tapi diakhir cerita dijelasin sih umurnya. Standart ya.. pasti di umur2 penulis juga :P Ato usia di bawahnya. Gw juga kalo nulis ga kebayang cara pikir n kehidupan manusia usia 40 th-an. Kalo cerita anak sma ya ngerti lah... Kalimat di akhir cerita, yang warning buat para sahabat...whakaka..kocak. Lo pernah ngalamin sendiri ya suka ma sobat???
suka sama sahabat? ya iya lah... my first love is my best friend of course..... eh ada yang salah ya? huhuhu bingung soalnya kalo nyeritain selain Singapore :p, tadinya gak pengen Singapore seh huehuehue. Dan perlu dicatat bahwa shaya suka loncat-loncat plot hehehe
Loncat2 plot sih keren. Asal ga bikin bingung yg baca aja. Ato gw nya aja yang oon n ga nangkep kali ya..huehe...
Ow.. jadi terinspirasi kisah pribadi yah...? gw pikir sama kaya tokoh gw, cuma beda kehidupan..whekeke... Keren... :)
Yaa pengennya seh seminimal mungkin memberikan hint tempat, tapi pasti kadang awal kadang akhir :D
Bukan kisah pribadi.....tapi nama-nama di cerpen biasanya asli nama temen-temen shaya sendiri.....yang deket-deket terutama.
Posting Komentar