Sabtu, 13 Januari 2007

Sahabat Sejati....................(04/05)

" Om Greg, Om tahu nggak alasan Diyan tiba-tiba pengen pergi ke luar negeri?" tanya Anto suatu hari saat berkunjung ke rumah Diyan dan bercakap-cakap dengan papa Diyan.

"Tidak. Malahan Om pikir dia cerita ke kamu, biasanya kalian khan deket sekali…" Anto semakin bingung ‘apa benar hanya karena ingin belajar ke luar negeri Diyan sampe merahasiakannya dariku?’ pikirnya.

"Yang Om tahu, sebelum pergi Diyan sempat Om lihat menangis…memangnya ada masalah apa sih, Anto ?" tanya Greg bingung.

"Terus terang saya juga bingung, Om. Akhir-akhir ini memang saya perhatikan kelakuan Diyan agak lain dari biasanya.Suka murung…"

"Gimana kalo Anto tengok kesana? Mungkin dia akan mau bicara langsung bila bertemu dengan kamu…" Anto mengangguk-angguk setuju, dalam hati dia pun sudah nggak sabar pengen minta penjelasan dari ‘tu anak. ***


Clementi, salah satu daerah padat di Singapore. Hanya untuk minta penjelasan sama temen, Anto tak mau membuang-buang waktu sedetik pun, ia langsung mencari tempat tinggal Diyan. Menurut papanya, Diyan tinggal di apartemen khusus buat mahasiswa. Anto mencari kamar apartemen Diyan di lantai 2. Saat itu Diyan sedang masak buat makan malam, disini-mau nggak mau mesti masak ‘ndiri, kalau masih mau hidup…hihihi…

‘Ting-tong’ bel apartemen Diyan berbunyi.

"Just a minute…" Diyan mengecilkan api kompornya

‘Ting-tong, ting-tong’ bel berbunyi lagi.

"Iya, ‘bentar! Sabar kenapa sih. Gue maki-maki pake bahasa Jawa…," dengan kesal Diyan berjalan ke pintu. ‘Dia nggak berubah’ batin Anto geli.

"Dee! Apa kabar?! Baik-baik? Gimana, kaget yah liat aku disini…," sapa Anto heboh.

Tapi berbeda dengan Anto, Diyan melongo aja ngeliat Anto udah ada di hadapannya. Dia nggak tersenyum, apalagi tertawa…usahanya untuk menghilang gagal total! Malahan Anto tahu tempat tinggalnya. Semuanya hancur sudah, dia tak mau menatap Anto. Jantungnya serasa nggak karuan,

"Dee, kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini kamu selalu murung," tanya Anto serius akhirnya.

Diyan tidak ingin Anto tahu kekalutan hatinya, maka ia mencoba bersikap wajar dan tersenyum,

"Hmm, kamu tahu dari mana alamatku? Apa kamu sengaja mencariku kemari?" tanyanya Ia masih berusaha menghibur diri, ‘setidaknya dia sudah datang kemari susah payah karena perhatian denganmu. Tanggapilah dengan baik…’batin Diyan.

"Ayahmu mengatakan alamatmu padaku. Beliau kuatir padamu, jadi kutengok kamu…lagian, kenapa sih pake rahasia-rahasiaan segala kalo ‘mo pergi?" tanggap Anto. Diyan menghela napas,

"Ternyata kamu disuruh papi, ya…" ‘Kupikir kamu memang merindukanku’ pikir Diyan kecewa.

"Ehm, aku ‘mo makan nih. Ikut aja !" ajak Diyan pura-pura nggak ada masalah. Tapi Anto yang sudah lama kenal watak Diyan tahu kalau cewek ini menutupi sesuatu…Ketika mereka tengah enak-enak makan Anto tiba-tiba berkata dengan santai,

"Dee, aku broke-up sama Rita." Diyan yang saat itu tengah enak-enak minum tentu saja tersedak,

"(Uhuk-uhuk) Apaa?! Kapan? Kenapa?!" pekik Diyan. Seharusnya ia senang mendengar berita tersebut, tapi ia turut prihatin pada sobatnya ini…

"Di hari pertunangan kami, aku meninggalkannya…," gumam Anto. Diyan diam saja, dia tak ingin menanyakan sebabnya, karena rasa-rasanya ia sudah bisa menebak…

"Hei, ada apa sih ? Ayahmu berkata dia melihat kamu…ehmm, menangis. Setahuku kamu nggak pernah menangis lagi sejak…jatuh dari atap waktu kls I SD, hahaha…ayolah, aku kan sahabatmu, cerita dong sama aku" kata Anto hati-hati.

Diyan berusaha keras tetap konsentrasi pada makan malamnya. Anto merasa cemas dan kesal, ia meraih lengan Diyan untuk menghentikan suapannya. Diyan ingin melepaskan cengkraman tangan Anto tapi ia tak cukup kuat untuk berbuat itu…

"Apaan sih, lepasin ah! Gila, sakit tau"

"Baru kulepas kalo kamu cerita. Hei, tanganmu dingin seperti waktu dulu aku memegang tanganmu." Rupanya Anto masih ingat peristiwa dulu.

"Kamu sakit ya? Ayo, kuantar ke dokter…," ajak Anto. Diyan hanya melengos dan menepiskan pegangan Anto,

"Aku nggak sakit. Kalo kamu bener-bener pengen aku baik-baik aja, tinggalin aku sendiri!" bentak Diyan.

"No way! Aku udah tahu gelagatmu kalo kamu suntuk. Kamu bakal berbuat aneh-aneh, tahu?!" seru Anto jengkel karena gadis itu keras kepala. Ia rada bingung juga, sebab baru kali ini ia melihat Diyan kayak begini…

"Oke,oke, sorry, aku nggak bermaksud membentakmu…, aku cuma rada ‘konslet’ aja sekarang." Anto tersenyum senang Diyan sudah sadar. Kemudian dia menarik lengan gadis itu dan mengajaknya keluar,

"Ayo, kita jalan-jalan…, siapa tahu udara segar akan membuatmu lebih baik."

"Tapi nggak seru ah, disini nggak ada atap yang bisa dinaiki," tukas Diyan. Anto terbahak,

"Yah,…seperti kata pepatah…tak ada rotan akar pun jadi!!" seru Anto seraya menarik Diyan agar mengikutinya. Di luar Diyan menahan langkah Anto sebentar,

"Ee…aku harus kunci pintu dulu." Kemudian (masih dalam gandengan Anto) Diyan mengunci pintu apartemennya dengan tergesa-gesa dan begitu selesai ia berbalik dan…hampir bertemu muka dengan Anto. Diyan nggak mengira Anto berdiri begitu dekat dari tempatnya berpijak.

Keduanya sempat berpandangan sejenak, lalu karena tak ingin cowok itu mendengar debaran jantungnya Diyan segera menarik Anto untuk berlalu dari tempat itu. ***

Tidak ada komentar: