Jumat, 12 Januari 2007

Sahabat Sejati....................(02/05)

Persahabatan itu berlanjut hingga SMA. Diyan, walaupun tergolong pandai dan cakep, belum punya pacar juga. Maklum, dia memang cewek yang rada introvert. Teman-temannya kadang menganggap dia sombong, padahal sebenarnya dia cuma males aja terlalu terbuka sama orang yang belum seberapa dekat dengannya. Ia telah belajar dari pernikahan orang tuanya yang gagal total. Setiap hari ia harus mendengar orang tuanya bertengkar & berteriak satu sama lain. Diyan udah nggak percaya lagi cinta itu ada. Hanya seorang sahabat seperti Anto-lah yang ia butuhkan. Sekarang ortunya telah bercerai dan Diyan ikut ayahnya. Sangat berbeda dengan Anto, yang memang supel dan kocak serta didukung oleh wajahnya yang boleh dibilang berkelas coverboy. Anto menjadi idola di sekolahnya (SMA Anto dan Diyan berbeda). Sudah beberapa kali ia pacaran dengan cewek-cewek sekolahnya, tapi selalu saja tidak berhasil. Entah apa yang dicarinya, tapi Anto merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Bagaimanapun persahabatannya dengan Diyan tidak seperti dulu lagi. Ketika mereka masih kecil dulu, mereka masih bisa secara bebas memanjat pohon bersama, naik genteng, atau main tembak-tembakan. Tapi saat keduanya mulai beranjak remaja dan dewasa, kebiasaan itu harus berhenti. Mereka memang masih sering pulang bersama naik bus, jalan-jalan, hiking bareng atau kemping. Hanya saja Anto tidak boleh terlalu kasar memperlakukan Diyan selayaknya seorang laki-laki. Ibunya pernah mengingatkan dia bahwa Diyan itu bagaimanapun juga adalah cewek yang butuh dilindungi dan diperhatikan. Tapi bagi Anto , Diyan yang sekarang tetap Diyan yang dulu dikenalnya.

Anto heran kenapa Diyan nggak pernah mencoba pacaran, beberapa kali bahkan Anto mengajak teman-teman cowoknya ke rumah Diyan, tapi tatkala ingin mengenalkan mereka kepada Diyan…Anto merasa sangat-sangat tidak enak…lebih tepatnya merasa tidak rela. Aneh memang, tapi perasaan itu menyusup begitu saja didalam hatinya. Kemudian Anto mulai mencari-cari pelampiasan perasaannya; ia mendekati cewek-cewek. Dan dia dapat cewek yang okey memang: cakep, modis dan nggak lembeng bahkan! Kayaknya ‘ni cewek (namanya Rita) memang sudah cocok dengannya. Lantas hal itu diungkapkan Anto pada Diyan.

"Dee, menurut kamu Rita itu gimana anaknya ?"

"Ehmm, lumayan cakep. Okey juga pilihan kamu…," puji Diyan saat mereka pulang jalan kaki.

"Oya? Terus, kalo obrolannya gimana?"

"Yaa…’nyambung sih. Tapi kayaknya dia kurang simpati sama aku deh," ujar Diyan.

Anto menghela napas.

"Selalu aja ‘gitu, orang-orang tuh selalu menyangka kita tuh pacaran…" Diyan diam saja.

"…padahal kita khan emang bener-bener sobatan," lanjut Anto.

Diyan mengangguk pelan.Sepertinya dia terpikirkan sesuatu, tapi kemudian…

"Eh, entar sore main ke rumahku , yuk! Kita main bilyard…," ajak Diyan.

"Huuu, kemaren masih kalah aja ‘mo nantang lagi," sindir Anto. Diyan nggak terima,

"Apaan! Aku udah banyak latihan nih, pasti nggak bakal kalah lagi," timpal Diyan.

"Aih, aih…masa sih" Anto masih menggoda.

"Kita buktikan aja nanti…" Diyan terus menantang.

"Okey, siapa takut ? jam 07.00," janji Anto.

Begitulah sehari-hari obrolan mereka yang jarang serius. Bisa sih serius kalau memang ada masalah yang pelik atau lagi belajar. Lepas dari itu hidup mereka penuh canda-tawa. Tapi akhir-akhir ini tidak begitu yang dialami oleh Diyan. Ia mulai merasakan sesuatu yang ‘lain’ pada diri Anto. Ini disadarinya saat ultahnya yang ke-17 kemarin. Di pesta itu, ketika semua undangan telah pulang dan tempat pesta sudah sepi Anto datang dan mengucapkan selamat ulang tahun. Caranya memang biasa, hadiahnya juga tidak mewah, tapi entah mengapa Diyan merasakan jantungnya berdebar kala Anto menyalami tangannya. Bahkan kini Diyan mulai menyadari bahwa Anto itu sebenarnya keren dan …lumayan ganteng. Dia kini heran dengan caranya memandang Anto… ‘Kok ya baru sadar sekarang kalau dia itu tampan?’ pikirnya dalam hati. Diyan merasa sangat tidak enak dengan perubahan perasaannya ini. Makan jadi tak enak, tidurpun tak nyenyak. Tiba-tiba telepon berdering di kamarnya.

"Hallo...," sambut Diyan. Rasa-rasanya yang tau telepon kamarnya itu cuma…

"Hoi, Anto…ada apa?" Diyan mencoba bersikap sewajarnya, meskipun kini tangannya sudah sedikit bergetar.

"Iih, nggak biasanya ‘nanyain maksud,…kamu kaku amat…eh, Dee, besok rasanya aku nggak bisa temenin kamu cari senar, deh…"

Diyan diam aja, walaupun dalam hati ia rada-rada kecewa (dulu inipun tak pernah dirasakannya).

"…anu, Rita minta dianterin ke Mall. Sorry yach…" Diyan masih berusaha bersikap sewajarnya.

"Okey, nggak ‘pa ‘pa …bener kok," jawab gadis itu.

"Hmm, ya…kalo gitu udah dulu ya."

Begitu telepon ditutup Diyan langsung melempar bantalnya jauh-jauh. Diyan kesal kenapa dia harus mulai menyukai Anto disaat cowok itu sudah mulai serius dengan cewek. Rasa-rasanya sekarang dia mulai cemburu deh ! ***

Tidak ada komentar: