…funny how I feel more myself with you
…than anybody else that I ever knew
…I hear it in your voice, see it in your face
…you’ve become the memory I can’t erase…
Diyan dan Anto sudah berteman sejak kecil. Walaupun secara biologis jenis kelamin mereka berbeda, tapi Anto tak pernah menganggap Diyan lebih lemah. Maklum, selain Diyan memang super tomboy dan nggak cengeng, mereka juga sama-sama latihan taekwondo. Tak jarang Diyan bertanding dengan Anto, kadang ia kalah kadang juga menang. Kalau sehari-harinya Anto naik genteng, maka ia juga akan mengajak Diyan sehingga mereka berdua dapat bermain bareng di atas sana (sehari-hari artinya hampir tiap hari!). Menurut mereka dari genteng semuanya bisa terlihat, dari mulai tetangga yang lagi njemur, suami-istri cekcok, sampai orang pacaran. Tapi karena rumah-rumah di situ tergolong besar mereka harus susah payah dulu naik ondo (tangga) trus jalan melewati gentingnya sendiri. Oiya, Anto dan Diyan ini tetangga , rumah mereka hanya terpaut 2 nomor. Walaupun akhirnya semenjak kelas V SD kebiasaan naik genteng itu mesti dihentikan mereka berdua tetap berteman akrab. Setiap hari Anto tetap rutin menjemput & mengantar Diyan pulang. Sederhana aja dengan naik sepeda, naik bis, atau jalan kaki.Perawakan Diyan nggak tembem, meskipun bokapnya termasuk pemilik saham sebuah hotel wisata terkenal tapi dia nggak pernah minta macam-macam. Dia baru minta sesuatu kalau Anto beli sesuatu atau ada barang baru yang bisa dimainin berdua. Pokoknya selalu kompak deh. Keduanya juga tetap nggak peduli tatkala temen-temen di SMP ngejodohin mereka dengan hebohnya. Habis, gimana enggak… dimana ada Diyan di situ ada Anto, begitu juga sebaliknya… Tapi gosip itu mereda juga ketika terbukti Anto jadian sama Fika, primadona di sekolah mereka.
Mulanya Anto ragu menyatakan perasaannya pada Fika, namun berkat dorongan Diyan akhirnya ia berhasil & benar juga kata Diyan waktu itu kalau Fika juga menaruh hati padanya,
"Dee, rasa-rasanya aku naksir sama anak baru itu, deh…," ucap Anto pada Diyan saat mereka pulang sekolah.
Diyan yang lagi mikirin hasil ulangan tadi siang kaget mendengar pengakuan Anto.
"Haa? Hahaha…ka..mu naksir Fika?"
"Lho? Duuh…kok malah diketawain sih?!" tukas Anto kesal. Diyan berhenti ketawa.
"Nggak deh,… nggak ketawa. Tapi emang lucu sih, soalnya aku nggak percaya kamu bisa juga fall in love," goda Diyan sambil memperagakan sebuah pose dramatis.
"Tapi emang iya Dee, buktinya tiap kali aku ketemu ‘tu cewek, gilaa…’ni jantung pada nggak karuan diskonya, belom lagi kalo denger suaranya, buseet…fly,deh!"
Diyan ketawa makin jadi. Anto jadi cemberut dan keki.
"Loe nggak malah bantuin, malah ‘ngetawain lagi," gumam Anto dongkol.
"Iya deh, bantu…bantu apaan sih?" akhirnya Diyan agak normal.
"Apa ya? Mmm, tulisin surat cinta donk…," pinta Anto.
"Yee, emang aku biro jodoh. Kamu kira gampang buat cewek nulis surat cinta ke sesama jenis, kecuali kalo kelainan…," tukas Diyan sewot.
"Bukan begitu, biasanya cewek khan selalu pengen dipuji atau apaa gitu, kamu khan cewek… jadi pasti lebih tau dari aku."
Diyan mikir-mikir sejenak,
"Emang kamu berani ganti rugi berapa?"
"Eehm, traktir di ‘Canadian Pizza’ ,deh…ayo donk, pleaseee…," rengek ‘tu cowok.
Diyan mikir-mikir, jarang banget ‘ni anak pelit rela ‘nraktir pizza. Sekedar info nih, pizza tuh makanan favorit Diyan. Apalagi kalo sama Super Supreme…wuiih, satu Big loyang bisa bersih kali! (Herannya nggak gemuk-gemuk juga) Akhirnya.....
"OK deh, tapi bayar dimuka…," tantang Diyan.
"Berees…"
Maka mereka berdua langsung cabut ke ‘Round Table Pizza’. Selanjutnya, giliran Diyan yang musti nulisin surat cinta buat Fika. Pertamanya dia bingung ‘mo nulis apa, tapi akhirnya semua kata rayuan tercanggih ia tuliskan, dan…berhasil ! ‘Gak kebayang senangnya Anto dapat primadona se-SMP,
"Aduh Dee, thanks banget ya ! Aku sekarang bisa jalan sama Fika. Eh, malahan kita mulai nonton film minggu ini," kata Anto happy.
"Oya, kapan?" tanya Diyan ikut senang.
"Ehm, Sabtu ini, kenapa?"
"Bukannya kita janjian nonton layar tancap di kampung belakang?"
"O iya,…mmh, gimana kalo Fika juga kuajak?" usul Anto.
"Terserah, sampai nanti ya…"
Bener juga, Fika diajak Anto nonton layar tancap. Betapa terkejutnya Fika ketika ia diajak naik pohon, tentu saja gadis itu menolak dan segera minta diantar pulang. Padahal Diyan dan Anto sudah biasa banget berbuat begitu…
"Makanya, laen kali jangan bawa-bawa pacar kamu bareng," ujar Diyan.
"Yaa, aku khan nggak tau kalo dia bakalan merengek-rengek begitu…"
Diyan tertawa geli melihat tekukan bibir Anto. Kalo cemberut ‘gitu Anto jadi tambah cute deh !
Begitulah, Anto dan Fika putus gara-gara Fika nggak tahan dengan sikap Anto. Lagipula, sepertinya Anto lebih mementingkan menjemput Diyan daripada menjemputnya, latihan taekwondo bareng Diyan daripada apel ke rumahnya, dan tiap kencan selalu saja bercerita tentang kekonyolan-kekonyolan yang pernah ia dan Diyan lakukan…***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar