part 1: Bintang Jatuh
by Çece
“Insyaallah tahun depan Tha”
“Amiin… “ ujarku langsung, sambil tertawa..
“Hei..aku serius Tha..”
“Iya.. kan aku bilang amiin.. semoga dikabulkan Allah rencana kamu” balas ku sambil menyisakan tawa.
Tapi tunggu dulu… dia serius?? Beneran? Trus..?? Alhamdulillah seharusnya… tapi kenapa kedua kaki ku lemas?? Tunggu, tunggu.. jangan…!! ini terlalu mirip dengan film, `My Best Friend Wedding`, bedanya kalau Julia Robert tahu seminggu sebelumnya, maka aku tahu setahun sebelumnya. Dan kalau merujuk pada film favorit ku itu, aku sudah mengetahui akan berakhir seperti apa.
Sahabatku itu, Rimba, masih mengeluarkan kata-kata yang sedikit pun tak singgah di otakku. Pikiranku sekarang dipenuhi pertanyaan.
Kenapa aku harus kaget seperti ini? Kenapa kaki ku lemas? Kenapa perutku mulas?? Kenapa reaksi ku seperti ini?? Rimba cuma sahabatku, tidak lebih..!! Kenapa ada perasaan seakan-akan aku sebentar lagi tersingkir dari kehidupannya?
Ok! Pertama; tenang..
'kuasai dirimu dan tetap tersenyum, Bitha', perintahku pada diri sendiri, tapi kaki dan perut ku sepertinya menolak dengan keras perintah dari otak itu. Aku menyeret perlahan sebuah kursi lalu terduduk dengan senyum palsu masih menghiasi wajah. Aku tak mau Rimba mengetahui keterkejutanku yang tak wajar ini.
“Tha..?”
“Tha.. kamu kok diam aja??”
“Eh kenapa-kenapa? Sorry teleponnya rada kurang bersih..” dusta ku sambil tetap mempertahankan senyum.
Menurut temanku yang kuliah di Psikologi, seseorang yang sedang ditelepon bisa menyadari lawan bicaranya sedang tersenyum atau tidak dari nada suara yang didengarnya. Oleh karena itu aku tidak mau menghilangkan senyum palsu ini, walaupun Rimba tidak bisa melihatnya dari seberang line telepon. Kalau dari nada suara yang dihasilkan, kupikir orang tak akan tahu aku sedang tersenyum tulus atau palsu.
“Kamu lagi dimana nih?”
“Wartel “ jawabku riang.
Terlalu riang barangkali terdengarnya.
“Kan udah malam Tha? Tar kamu cerita lewat e-mail aja deh kalau masih ada masalah… Atau waktu aku ke Bandung minggu depan aja. Biar nanti ku telepon mastiin jadi ngganya ya?”
“Ok, asal kamu ngga janji-janji palsu lagi..”
“Ya nggalah, aku ke Bandungnya kan urusan perusahaan….”
Oya? Kapan dia bercerita mau ke Bandung untuk urusan perusahaannya? Sepertinya tadi, sewaktu otakku tak mau bekerja sama.
“Iya deh.. yang udah ngantor..” ledekku...sebal…
”Doain aku cepet beres skripsinya ya..”
“Pasti..”
“Ya udah....dadagh…”
“Dagh... hati-hati dijalan ya..”
“Assalamualaikum…”
Aku tak sempat mendengar balasan salamku karena langsung memutus sambungan. Sambil menatap gagang telepon, aku berpikir untuk menelepon sahabatku yang lain. Tadi aku menelepon Rimba sekedar untuk berkeluh kesah tentang kesuntukan ku menyusun skripsi. Aku berharap dapat pulang dengan semangat baru memperbaiki draft skripsi. Tapi yang terjadi sekarang aku malah terpuruk sendiri mendengar kabar baru darinya. Apa sekarang aku menelepon Rafid? Yang empat tahun menjadi sahabatku di kampus dan 4 bulan yang lalu masih berstatus pacar ku? Hmm.. tapi aku malas menelepon dia, sepertinya tidak semudah dugaanku untuk kembali bersahabat setelah sepakat memutuskan status pacaran kami.
Sebaiknya aku langsung pulang, pikirku sambil melangkah keluar wartel. Kulirik warung tenda di depan wartel tempat ku memesan pecel lele sebelum menelepon tadi. Sekarang aku tak memiliki minat sedikitpun untuk makan. Sudahlah, pesanan tadi kubiarkan saja, putusku. Lumayan duitnya bisa untuk makan besok pagi. Dari pada pesanannya kuambil, tapi tak ku makan. Terserah si Mang pecel lele, mau diapakan pesananku tadi. Mudah-mudahan dia kasih ke pelanggan lain. Dengan keputusan yang sedikit merugikan penjual pecel lele itu, aku melangkah perlahan kembali ke kostan.
Pukul setengah sembilan malam didaerah Sayang, yang merupakan permukiman padat anak kost, riak kehidupan masih terlihat ramai. Para mahasiswa dengan pakain santainya beseliweran untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Baik itu sekedar ke wartel, ke warnet, membeli makan malam, mengerjakan tugas, mengetik di rental-rental komputer yang berserakan di pinggir jalan, atau sekedar menghabiskan malam. Aku mengengadah melihat ke langit malam. Sedikit berawan, tapi beberapa kerlip bintang masih terlihat. Andai aku melihat bintang jatuh, mungkin aku bisa berdoa agar… agar…. Sebenarnya aku ingin berdoa agar rencana Rimba untuk menikah tahun depan gagal. Tapi terdengarnya sangat jahat, bahkan dikupingku sendiri. Lagipula untuk apa aku mendoakan hal seperti itu terjadi pada sahabatku sendiri? Lebih baik aku berdoa supaya skripsi ku cepat beres.
Tapi…? Ah, sudahlah… tidak ada bintang jatuh, dan seharusnya berdoa kan hanya kepada Allah, bukan pada bintang jatuh. Tapi ini kan sekedar iseng belaka, dalihku sendiri. Ketika terjadi perang dengan diri sendiri itulah mataku menangkap satu cahaya yang bergerak perlahan… Bintang jatuh… pikirku…!! Batinku kembali bertengkar untuk mengajukan permohonan yang mana. Tapi apa itu? Satu titik merah terlihat berkedap-kedip didekat bintang jatuh. Bergerak seiring laju bintang itu. Aku memusatkan perhatian pada peristiwa aneh ini, sekerjap melupakan permohonan yang akan kuajukan. Dan detik berikutnya aku tersadar. Itu bukan bintang jatuh! Tapi cahaya dari pesawat yang sedang terbang rendah!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar