Hari itu aku membuka praktek dengan perasaan malas. Aku tidak bisa menutup klinik terapiku sehari lagi, karena aku tahu ada banyak pasienku yang menunggu dengan masalah mereka masing-masing; ada yang punya masalah kejiwaan ringan, masalah keluarga, masalah pekerjaan, macam-macam deh…
"Saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi! Sudah semua cara saya coba untuk rujuk dengannya, tapi itu sia-sia, dan saya… Dok? Apa dokter mendengarkan?"
Aku tersentak oleh panggilan nyonya muda itu, lantas hanya mengangguk,
"Ehm, ya,…saya mendengarkan. Lanjutkan, Sovia," maka wanita berusia kepala tiga itu kembali menyerocos tentang ketidakharmonisan rumah tangganya serta meminta solusi dariku…
Dalam hati aku tertawa mengejek diriku sendiri, bagaimana bisa aku duduk di ruangan ini…, bersikap seolah-olah tahu penyelesaian semua persoalan sementara masalahku sendiri tak terselesaikan… Tapi begitulah dilema seorang psikiater atau ahli kejiwaan, jadi jangan sekali-kali menganggap kami maha tahu atau bebas dari segala masalah… ***
"Sayang, aku berhasil…!" siang itu Donnie tiba-tiba datang ke tempat praktekku sambil melambai-lambaikan secarik kertas. Tentu saja aku kaget…
"Ada apa, Don? Ini tempat praktekku…," sahutku agak keberatan.
Selama ini aku memang tidak pernah membawa teman laki-laki ke tempat praktek (aku merasa itu akan mempengaruhi citraku sebagai seorang psikiater). Donnie terlihat senang sekali dan tanpa basa-basi menciumku dengan mesra di depan pasien-pasienku (memang secara tidak langsung, tapi kamar praktekku terlihat dengan jelas dari ruang tunggu apabila pintunya dibuka). Aku cepat-cepat mendorongnya dan meminta penjelasan,
"Donnie...?" aku sedikit risih oleh perlakuannya.
"Kita bisa menikah sekarang…," ucap Donnie, hampir tak kupercayai kalau saja ia tidak menunjukkan stempel pengadilan yang sah.
"A-pa?"
"Aku resmi menjadi seorang duda…"
Brak! Saat itulah pintu digebrak dan kami menoleh ke arah pintu. Rupanya pasienku Sovia sudah datang. Hari ini memang jadwal terapinya…
"Sovia…, apa kabar? Tunggu sebentar ya, kita bisa memulai terapimu," sambutku seperti biasa.
Tapi kulihat wajahnya menjadi pucat dan matanya menatapku penuh kebencian. Donnie menutup mulutnya dan berdesis,
"Sovi-a?"
saat Donnie menoleh dan melihat reaksinya saat berhadap-hadapan dengan pasienku itu, aku mengerti apa yang selama ini terjadi dan lambungku bagai tertusuk seratus panah sekaligus…
"As...ta..ga…," desisku.
Aku benar-benar tidak menyangka! Pasienku adalah istri (sekarang mantan istri) Donnie! Dan aku telah menolong sekaligus mengkhianatinya dalam waktu yang bersamaan. Wanita itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mulai menangis pilu…
"Sovia,…aku…benar-benar…tidak tahu… Sovia, Sovia!" wanita itu berlari keluar dari tempat praktekku dengan perasaan kacau, aku ingin mengejarnya tapi Donnie cepat-cepat menahanku.
Seandainya saja saat itu aku tidak menghiraukan kata-kata Donnie…
Siang itu juga, begitu keluar dari klinikku, Sovia tertabrak truk dengan kecepatan tinggi… ***
Kulangkahkan kakiku dengan gontai meninggalkan areal pemakaman itu… Setelah ini Donnie memang dapat menjadi milikku, kami memang dapat bersatu dengan sah. Tapi aku dan dia harus hidup dengan kenyataan, kenangan bahwa dulu kami pernah ikut bertanggung jawab atas kecelakaan yang merenggut nyawa Sovia untuk selamanya. ****
2 komentar:
Gw bikin riview ini stelah baca satu cerpen n ada yang pengen gw bahas. Baru aja ngomongin soal usia, ternyata di cerpen DOSA lo pake usia tua. N ngga ngena memang huehe... keren sih idenya tapi ngga..uhm..apa ya.. ngga sekeren 2 cerpen yang gw komentarin diatas..huehe... Kurang "berasa". Ngga dapet emosi para tokohnya. Ngga (skali lagi) kaya 2 cerpen laennya :D
skalian komentar yang laen dsini aja yah...
Gw suka yang sebuah komitmen. "Rasa" nya nyampe banget. Bikin gw ikutan sakit hati huehe... Cerpen2 sebelumnya kurang menggugah. Kaya baca cerita aja tanpa ikut terbawa sama suasana ceritanya. Kalo yang Sebuah komitmen bener2 bikin kenal para tokoh. Tapi mungkin juga coz gaya ceritanya (ato ceritanya sendiri..??) familiar ma gw...huehe, temanya juga ngena banget. Hikz.. gw kan jadi sedih banget abis bacanya..huehehe... Oya sebenarnya gw ngga bisa review dari cara penulisan, tokoh, latar, pesan etc ala bang sigit ya. Gw bisanya kan menikmati cerita2 itu. N yang bisa "nyangkut" cerpen yang itu (gw lon baca cerpen2 diatasnya). Keren...
yaelah ya jelas lah, shaya kan lom pernah ngalamin rasanya gimana...makanya agak susah juga kalo membayangkan shaya jadi tokoh seperti di atas. Kan udah dibilang shaya itu suka ganti-ganti gaya bahasanya, mungkin pake ini bagus dan yang lain gak bisa nyampein pesen, cuman kalo lagi mood bikin pake gaya bahasa satu ya udah yang pake itu terus sampe kelar meskipun susah nyampein, namanya juga amatiran hehehe
Posting Komentar