Sabtu, 13 Januari 2007

Dosa adalah Dosa....................(02/03)

"Hai, sudah lama nunggu?" Donnie langsung membuyarkan lamunanku begitu ia mengecup keningku dan duduk di sebelahku. Kami memang selalu bertemu di café ini tiap hari Sabtu. Kata Donnie, café ini tempatnya di pinggiran kota dan tidak dikunjungi sembarang orang…, jadi kemungkinan untuk ‘terlihat’ sangat kecil.

"Aku juga baru datang 5 menit yang lalu, kok," kataku menjawab pertanyaannya. Donnie segera memesan secangkir kopi hangat serta makanan kecil; yah, hujan-hujan begini memang paling enak minum yang hangat-hangat.

"Besok gimana? Kamu bisa ambil libur?" tanya Donnie sambil menatapku lekat-lekat. Tatapannya itu…selalu bisa bikin dadaku bergemuruh… Aku menarik napas tanda ragu-ragu. Ia meraih jemariku dan menggenggamnya,

"Aku ada praktek hari Senin," jelasku. Donnie mengarahkan pandangannya ke tempat lain dengan kesal,

"Selalu begitu…, padahal aku sudah bela-belain ambil cuti dari kantor…," keluhnya kecewa.

Aku tidak berusaha menghibur atau membuatnya mengerti. Donnie juga harus mengerti kalau aku pun punya kehidupan, dan ia tidak bisa selalu mendapatkan apa yang ia kehendaki dariku. Aku mencintainya, tapi aku capek. Aku capek harus selalu bersembunyi dari semua orang; pergi berlibur berdua diam-diam pada musim kerja (seperti rencana kali ini), kencan di tempat-tempat sepi dan terkucil… Aku capek harus menahan rinduku saat ingin bertemu dengannya (kami hanya dapat bertemu 2 kali seminggu tanpa saling menelepon). Katakan aku egois, tapi aku memang ingin memilikinya hanya untukku. Aku ingin bisa dengan lantang berkata kepada dunia bahwa ia adalah kekasihku…, bahwa cinta yang kami miliki bukanlah sebuah dosa.

"Maaf…," kataku datar.

Donnie menatapku lama dan ia sepertinya tahu keresahan hatiku, karena sedetik kemudian ia memelukku sambil berbisik pelan,

"Aku hanya ingin berdua denganmu…, kita bisa jauh dari orang-orang…2 hari saja…" Aku mengeratkan pelukannya padaku, seakan tidak ingin berpisah dengannya. Kenapa aku harus menjadi pihak yang terlambat berjumpa dengannya, …kenapa kami sulit sekali bersatu? Akhirnya aku mengangguk,

"Baiklah, tapi hanya 2 hari…," ucapku pelan. Donnie tersenyum senang dan mencium bibirku. Keesokan harinya kami sungguh-sungguh pergi ke villanya yang lumayan besar itu dan menginap di sana. Ini bukan pertama kalinya bagiku…, kami sudah sering menghabiskan malam bersama. Dan malam itu, setelah kami memadu cinta, Donnie berkata padaku,

"Aku sudah menyerahkan surat cerai pada istriku…," aku terheyak. Baru kali ini Donnie berani…

"Dan?" tanyaku penasaran. Tapi dari raut wajahnya yang masam itu rasa-rasanya aku sudah bisa menebak jawabannya,

"Dia menolak mati-matian. Dia bahkan jadi histeris dan melempar barang-barang ke arahku…," cerita Donnie tanpa bermaksud bergurau. Aku pun tak tertawa (karena aku tahu benar pengalaman seperti itu…),

"Apa…dia tahu soal…kita?" Donnie menoleh ke arahku, pandangannya seperti orang yang ingin minta maaf…

"Tidak. Aku tak sampai hati memberitahunya…" Tenggorokanku serasa tercekat. Kami sudah berhubungan kurang lebih 1 tahun tapi istrinya belum tahu apa-apa? Kubayangkan ia pasti remuk redam bila mengetahui suaminya telah berselingkuh selama ini. Dan lagi-lagi, perasaan bersalah itu meliputi diriku…

"Don,…kurasa masih belum terlambat untuk…memperbaiki rumah tanggamu."

Tak kusangka aku bisa berkata begitu. Donnie pun tak kalah terkejutnya…

"Nadya…"

Aku beringsut berdiri dari ranjang saat ia bermaksud memelukku. Aku pun tak berani menatap matanya,
"Kalau dia tidak ingin bercerai denganmu,…itu tandanya…ia masih mencintai kamu. Tidak adil baginya bila aku… tiba-tiba masuk dan merebut kamu… Aku-aku…" Tiba-tiba Donnie menyergapku dari belakang dengan pelukannya yang kokoh sekaligus rapuh…
"Hentikan. Aku tak mau mendengar kata-kata itu dari mulutmu. Aku mencintai kamu, Nad. Hanya kamu. Aku akan berusaha keras supaya bisa terbebas darinya…," ujar Donnie dengan suara agak parau.

"Kalau aku…pasti masih bisa melupakan semua yang pernah terjadi…," kataku lagi. Mungkin…masih lebih baik hidup tanpa keperawanan daripada hidup dengan dihantui perasaan bersalah seumur hidup. Donnie menarikku ke tempat tidur lagi seraya menciumku…

"Aku telah berani mengambil mahkotamu, maka aku juga harus berani bertanggung jawab… Percayalah, Nad…, tunggu aku sebentar lagi…"

Aku tak mampu berkata apa-apa lagi, jadi aku hanya diam di pelukannya dan menikmati kebersamaan kami yang cuma sebentar ini… ***

Tidak ada komentar: