Sabtu, 13 Januari 2007

Dosa adalah Dosa....................(01/03)

Aku berdiri di depan pusaranya. Tak ada yang dapat kulakukan lagi selain menangis dan menyesal. Berulang kali aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa semua itu bukanlah salahku…, tapi aku salah. Aku memang telah berdosa, dan lebih parah lagi aku sudah tahu sejak semula kalau itu dosa. Saranku buat siapapun di sana,…jangan mencoba menolong orang lain kalau kamu bahkan tak dapat menolong dirimu sendiri. ***

Sejak awal aku tahu kalau mencintainya adalah salah. Dia memang gagah, baik, perhatian, bermasa depan cerah sebagai seorang kontraktor di sebuah perusahaan besar,…tapi ia telah menikah. Ketika aku bertemu dengannya, dia sudah 2 tahun berumah tangga. Kami bertemu di pesawat dalam perjalanan pulang dari Hong Kong. Waktu itu aku baru beberapa bulan menyandang gelar psikiater dan tengah melakukan perjalanan liburan seorang diri. Dalam penerbangan beberapa jam itu kami berkenalan, kemudian bercakap-cakap hingga akhirnya saling bertukar kartu nama. Tak kusangka seminggu setelah pertemuan kami dia meneleponku dan kami jadi semakin sering bertemu. Pada suatu hari Donnie (itu namanya) mengaku kalau ia sudah beristri. Tapi saat itu aku sudah terlanjur mabuk kepayang oleh cintanya, dan gilanya…aku tidak keberatan atau protes. Maka kami terus berhubungan diam-diam…dan aku menikmatinya! Donnie pernah bilang bahwa ia sudah tidak mencintai istrinya lagi dan berniat segera menceraikannya kemudian menikahiku. Masalah utamanya sebenarnya sangat cliché, yaitu ketidakmampuan memiliki keturunan (aku tak berani bertanya apakah itu gara-gara dia atau istrinya) serta perbedaan prinsip. Tapi meskipun sudah berkali-kali Donnie mengatakan akan bercerai, jauh di dalam hatiku aku meragukan hal itu dapat terwujud. ***

Tidak ada komentar: