Hanya ada satu orang yang pernah mengalahkan Sherlock Holmes. Orang itu adalah Irene Adler. Dan Holmes tidak akan pernah melupakan dia.
Akhir-akhir ini aku jarang bertemu Holmes. Setelah aku menikah, aku pindah ke bagian lain dari kota London. Sementara Holmes tetap tinggal di rumah kami di Baker Street. Di samping itu aku juga bekerja keras sebagai dokter sehingga aku sering tidak mempunyai waktu luang untuk mengunjungi dia.
Tetapi di suatu malam di bulan Maret aku pergi ke Baker Street dari mengunjungi seorang wanita yang sakit. Saat aku melewati rumah lamaku aku melihat ke atas. Ada sebuah cahaya dari kamar Holmes dan aku dapat melihat dia sedang bekerja di kamar itu. Holmes sedang berdiri dengan kedua tangannya berada di belakang dan kepalanya sedang menunduk. Jelas-jelas dia sedang berpikir mengenai sebuah masalah baru. Masalah apa yang sedang dia kerjakan ? Aku memutuskan untuk mengunjungi dia untuk mencari tahu.
Holmes sedang berdiri di dekat perapian dan sedang berpikir dengan keras. Dia tidak berkata apa-apa jadi aku langsung saja duduk. Holmes selalu bersikap seperti itu kalau dia sedang memikirkan sebuah masalah. Tetapi kupikir dia juga senang bertemu dengaku. Akhirnya dia mengambil selembar kertas. "Lihatlah ini, Watson," katanya. "Apa menurut pendapatmu mengenai hal ini?"
Aku mengambil kertas itu. Isinya sebuah pesan. Tidak ada alamat, tanggal, dan tanda tangan.
"Seorang pria akan datang mengunjungimu malam ini pada pukul 19.45," begitu pesan itu. "Jangan terkejut jika dia akan mengenakan sebuah topeng. Dia tidak akan memberitahukan siapa nama dia yang sebenarnya dan dia memerlukan bantuan Anda dengan sebuah masalah yang sangat penting. Tolong jangan beritahukan kepada siapapun mengenai kunjungan pria tersebut."
"Ini sebuah misteri," kataku. "Apa artinya ini Holmes?"
"Kita akan segera mengetahuinya," jawab Holmes sambil melihat keluar jendela. "Sebuah kereta kuda baru saja berhenti di depan pintu. Sebuah kereta kuda yang indah. Tamu kita adalah orang yang sangat penting."
Beberapa saat kemudian kami mendengar langkah-langkah kaki di luar pintu.
"Masuklah!" seru Holmes.
Orang yang datang itu sangat tinggi badannya. Dia mengenakan sebuah topeng dari pakaian yang dikenakannya kelihatannya dia adalah orang asing.
"Apakah Anda menerima pesan saya? tanya pria itu. Bagiku suaranya terdengar seperti suara orang Jerman.
"Ya," jawab Holmes. "Silakan duduk. Ini teman saya dokter Watson. Pesan Anda tidak ditandatangani. Sudikah Anda memberitahukan siapa nama Anda?"
"Anda dapat memanggil saya Count Von Kramm. Saya datang dari Bohemia. Saya harus datang untuk meminta bantuan Anda. Tetapi Anda tidak boleh bilang kepada siapapun tentang kedatangan saya ini. Hal ini harus dirahasiakan seperti halnya permintaan seorang raja. Dapatkah saya berbicara dengan bebas di hadapan teman Anda ini?"
"Tentu saja," jawab Holmes. "Dokter Watson sering membantu pekerjaanku. Anda dapat berbicara dengan bebas dan pada kenyataannya Anda memang seorang raja, bukan begitu?"
Pria itu loncat dan berdiri dari kursinya serta melepaskan topeng dari wajahnya. "Anda betul," katanya. "Saya memang raja dari Bohemia. Bagaimana Anda mengetahuinya?"
"Itu hal yang mudah," kata Holmes. "Anda memiliki kereta kuda yang indah berikut dua ekor kuda yang cantik-cantik. Anda orang kaya. Sangat jelas kalau Anda adalah orang yang sangat penting."
"Tetapi itu tidak menjelaskan ....."
"Anda harus datang untuk meminta bantuan saya," lanjut Holmes. "Anda mengatakan bahwa saya harus tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai kunjungan Anda ini. Anda berbicara tentang permintaan seorang raja .... Anda datang dari Bohemia. Saya telah membaca di surat kabar bahwa Raja dari Bohemia berada di kota London saat ini. Jadi saya tahu Andalah raja itu. Tolong beritahukan kepada saya apa yang dapat saya lakukan untuk Anda?"
"Fakta-faktanya begini," Raja mulai bercerita. "Sekitar lima tahun yang lalu saya bertemu dengan seorang wanita bernama Irene Adler. Mungkin namanya berarti sesuatu untuk Anda?"
"Saya akan memeriksa catatan saya dulu," jawab Holmes. Holmes kemudian pergi mengambil sebuah kotak yang penuh dengan kartu yang berisi catatan mengenai ratusan orang. Setelah beberapa saat kemudian, Holmes mengambil sebuah kartu. "Irene Adler," dia membacanya. "Lahir di New Jersey pada tahun 1858. Seorang penyanyi. La Scala dan Warsawa. Sekarang tinggal di kota London."
Holmes berpaling kepada Raja.
"Lima tahun yang lalu Irene Adler tinggal di Warsawa. Apakah Anda bertemu dengan dia di sana?"
"Ya," kata Raja.
"Anda jatuh cinta dan menulis beberapa surat untuknya. Dan sekarang Anda menginginkan surat-surat itu kembali."
"Ya. Tapi bagaimana .....?"
"Apakah ada pernikahan yang dirahasiakan?"
"Tidak."
"Apakah Anda menandatangani sesuatu ... . kertas?"
"Tidak satu pun."
"Kalau begitu tidak ada masalah."
"Tetapi surat-surat itu ....."
"Anda dapat berkata bukan Anda yang menulis surat-surat tersebut."
"Wanita itu memiliki sebuah foto," kata Raja dengan sedih.
"Mungkin dia membeli foto itu."
"Tetapi kamu berdua ada di dalam foto itu."
"Oh!" seru Holmes. "Itu lain ceritanya. Kalau begitu Anda harus membeli foto itu darinya."
"Saya sudah mencoba melakukan hal itu tetapi dia menolak untuk menjual foto tersebut."
"Kalau begitu dicuri aja foto itu."
"Sudah dua kali saya membayar orang-orang untuk mencuri foto tersebut tetapi orang-orang itu tidak dapat menemukan di mana foto itu berada di rumah Irene Adler."
Holmes tertawa. "Kita punya masalah kalau begitu," katanya. "Apa yang akan dia lakukan dengan foto itu?"
"Raja dari Skandinavia mempunyai seorang puteri. Saya akan menikahi puterinya. Irene Adler akan menggunakan foto tersebut untuk menggagalkan pernikahanku."
"Saya mendengar Anda akan menikah," ujar Holmes. "Bagaimana Irene Adler akan menggagalkan pernikahan Anda?"
"Dia akan mengirimkan foto itu ke Raja Skandinavia. Raja Skandinavia sangat takut akan sehala jenis skandal dan dia tentunya akan membatalkan pernikahan itu."
"Dan kenapa Irene Adler tidak menginginkan Anda menikahi puteri Raja Skandinavia?"
"Alasan yang biasa. Dia jatuh cinta padaku dan dia menginginkan saya menikahinya."
"Apakah Anda yakin foto itu sedang tidak dalam perjalanan menuju ke Skandinavia?"
"Saya yakin."
"Kenapa?"
"Irene menunggu sampai tanggal pernikahanku terpampang di surat kabar. Hal itu akan diumumkan Senin depan. Baru kemudian dia akan mengirimkan foto itu ke Raja Skandinavia."
"Kalau begitu kita memiliki waktu tiga hari lagi," kata Holmes. "Apakah Anda akan tinggal di kota London?"
"Tentu saja. Saya menginap di Hotel Langham."
"Kalau begitu saya akan menulis surat dan mengirimkannya untuk Anda di hotel tersebut. Saya akan segera mempunyai berita untuk Anda. Sekarang pertanyaan mengenai uang."
"Anda dapat menyebutkan berapa pun yang Anda minta," kata Raja. "Saya akan memberikan apapun untuk mendapatkan foto itu."
"Saya memerlukan sejumlah uang sekarang," ujar Holmers. "Saya harus membayar beberapa bantuan."
Raja mengeluarkan uang dari sakunya dan menghitungnya. "Ini ada beberapa ribu poundsterling," katanya. "Saya harap ini cukup."
Holmes mengambil uang tersebut. "Di manakah alamat tempat tinggal wanita itu?" tanyanya.
"Briony Lodge, Serpentine Avenue, St. John's Wood."
Holmes kemudian membuat catatan berdasarkan ucapan Raja. "Satu pertanyaan lagi," kata Holmes. "Seberapa besar foto tersebut?"
"Cukup besar. Kira-kira dua belas kali delapan inci."
"Kalau begitu selamat malam. Saya akan segera memberi kabar untuk Anda. Dan selamat malam, Watson," tambah Holmes setelah Raja menutup pintu. "Maukah kamu menemaniku besok siang pukul 3? Aku mengharapkan bantuanmu."
========== !!! ==========
bersambung .......... part 2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar