Singapore...
Sudah lebih dari dua tahun aku menghabiskan kehidupanku di sini. Aku tidak pernah pulang ke Jakarta, untuk liburan sekalipun. Walaupun sebenarnya sekolahku sudah selesai, berkat rekomendasi dan praktek kerjaku dulu, aku berhasil memperoleh pekerjaan sementara di sini. Sebentar lagi batas waktunya habis dan aku harus pulang ke Jakarta, mulai membantu usaha papa.
Sejujurnya, aku tidak rela melepaskan apa yang aku miliki di sini. Aku menikmati pekerjaan dan pergaulan yang aku miliki di sini. Budaya orang-orang di sini membuatku merasa lebih bebas dan tidak tertekan.
Bagaimana Abrar sekarang? Apakah ia masih bekerja di Sydney atau apakah ia sudah pulang dan membantu usaha papanya di Jakarta? Ah...ingin rasanya aku bertanya tentang Abrar kepada Risa namun ego ini terlalu besar.
Aku perhatikan lagi detail di undangan Risa. Pernikahannya masih tiga bulan lagi. Pestanya akan diselenggarakan di Jakarta. Hmm...itu berarti aku harus pulang agar dapat hadir di pesta itu.
Tiba-tiba aku tersentak. Bukankah itu berarti aku akan bertemu dengan Abrar? Jantungku berdebar-debar sendiri. Bodohnya diriku!!
Tak lama kudengar ada yang membuka pintu depan. Kuintip sedikit siapa yang datang, ternyata Enry. Ia muncul dengan mendekap bungkusan besar penuh belanjaan.
"Kok nggak tiduran? Ngapain bengong di ruang tamu?" tanya Enry sambil terus berjalan ke arah dapur.
"Pusingnya udah mendingan?" sambungnya lagi sambil membereskan belanjaannya.
Aku berjalan malas-malasan dan duduk di dapur, kering seraya menatapnya yang masih sibuk sendiri dengan barang-barangnya.
"Udah lumayan lah..." jawabku sambil menguap.
"Kalau udah mendingan, sini bantuin aku masak!!"
"Nggak jadi Ry, pusingnya kumat lagi ngeliat kamu!!" jawabku sambil ngeloyor pergi ke kamar.
Aku hanya tersenyum mendengar Enry ngomel-ngomel sendiri.
Enry. Sahabat baikku. Kami berkenalan dalam suatu acara yang diadakan oleh komite anak-anak Indonesia di KBRI. Waktu itu ia juga sedang melanjutkan masternya, namun jurusannya berbeda denganku. Rupanya rumah kami di Jakarta berdekatan, dan dari situ pembicaraan kami mulai berlanjut. Aku merasa cocok sekali bergaul dengan Enry. Aku tidak pernah merasa risih untuk menceritakan apapun padanya walaupun ia laki-laki. Mungkin karena gayanya yang seperti perempuan membuatku tidak pernah menganggapnya sebagai seorang laki-laki tulen. Walaupun begitu, aku yakin ia juga bukan seorang gay karena ia pernah menceritakan kisah cintanya dulu padaku. Hanya kepada Enry aku bisa leluasa menceritakan masa laluku dengan Abrar, sesuatu yang tidak pernah diketahui oleh teman-temanku di sini. Hanya dengan dia, aku bebas melakukan apa yang aku mau. Marah...menangis...berteriak... Semuanya.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar