Senin, 05 Maret 2007

when love is not enough....................(24/...)

Hanya itu satu-satunya email yang ia kirimkan padaku. Ia sama sekali tidak menyebutkan tentang kejadian yang Risa ceritakan padaku. Ia sama sekali tidak menceritakan tentang percakapannya mengenai Diana yang merubah dirinya, yang merubah kesetiaannya padaku. Ia membuat kesan seolah-olah semua ini tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Diana.

Aku kecewa.

Setelah itu ia tidak pernah mencoba menghubungiku dengan cara apapun juga. Aku agak sedikit lega karenanya tapi aku juga jadi kecewa. Entah mengapa aku ingin ia terus menerus menghubungiku, setidaknya mengirimiku email menceritakan keadaannya sekarang.

Bodoh memang, tapi itulah aku.....

Lain halnya dengan Risa. Ia selalu mengirimiku email yang menceritakan tentang kehidupannya sendiri. Ia sama sekali tidak pernah menyinggung tentang Abrar. Sedikitpun tidak. Terkadang aku membalas emailnya walau hanya singkat dan sebatas formalitas. Aku juga tidak pernah menceritakan diriku sendiri terlalu mendetail karena aku tahu Risa pasti menyampaikan isi emailku kepada Abrar.

Harus kuakui, aku sempat berpikir bahwa dunia ini sudah berakhir. Aku sudah tidak ingin lagi hidup. Berminggu-minggu aku mengurung diri di rumah, tenggelam dalam kesedihan dan kesepian. Aku merasa tercampakkan dan tak berguna. Walaupun Abrar mengatakan ia masih mencintaiku tapi apakah itu masih ada gunanya setelah ia menyia-nyiakan kepercayaan yang aku berikan?

Walaupun aku mengerti keadaannya, tapi salahkah aku apabila aku menjadi sedikit egois dalam hal ini? Aku hanya ingin dicintai selayaknya aku mencintai. Sejujurnya, aku juga merasa sangat cemburu dengan yang namanya Diana.

Baik dari cerita Risa maupun email Abrar, Diana terdengar begitu berarti bagi Abrar. Perempuan yang berhasil mengubah kehidupan Abrar begitu drastis tentulah bukan sembarang perempuan bagi Abrar. Aku yakin, ia masih memiliki tempat di hati Abrar, tempat yang selamanya tidak pernah tergantikan olehku.

Aku merasa terkalahkan dan putus asa.

Lalu aku tersadar. Aku tidak boleh jatuh selamanya. Justru aku harus buktikan pada Abrar bahwa aku bisa berdiri sendiri tanpa dirinya di sisiku. Atau aku hanya sekedar ingin menguji kesungguhan cintanya?

Aku sendiri tidak mengerti. Sebagian hatiku menginginkan dirinya, namun sebagian lagi tertahan oleh egoku. Aku tak ingin ia memiliku lagi dengan mudah setelah apa yang ia lakukan padaku.

Jadi aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku di luar negeri. Ingin mencoba suasana baru dan memulai hidup yang baru. Aku bukannya ingin mencari cinta yang lain karena bagiku, Abrar lah satu-satunya cintaku. Cintaku hidup dan mati bersamanya.

Maka, berangkatlah aku ke Singapore dengan sejuta harapan tersimpan dalam diri ini.

###

Tidak ada komentar: