19 Juni
"Kehidupan Kota"
langkahnya gontai tak berasa
yang ada hanya tekad membara
mengais harta diantara derita
hidupnya sangat sederhana
berbaur dengan kehidupan keras metropolitan
hatinya berontak, namun ia tetap kuasa
menerima segala takdir Sang Pencinta
bajunya yang keruh
raut mukanya yang kelam
menandakan tingkatan sosialnya
bekerja diantara duka
banting tulang demi si buyung
ya inilah kisah para pemulung
tak peduli berkorban jiwa raga
mencari sesuap nasi
dan kadangkala berkhayal sebongkah permata
tiada lagi asanya
tak ada peduli sesamanya
melihat sudah disangka maling
tak ada lagi tempat
yang dapat menahannya
bbbbbbbbbbbbbbbbbbbb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar