Mataku menerawang kosong. Aku sudah lelah menangis.
Risa sedari tadi merangkulku. Abrar juga hanya duduk memandangku. Belum ada di antara kami yang bicara semenjak Risa mengajakku masuk ke apartment mereka untuk menenangkan diriku. Mereka berdua seolah menungguku untuk bicara terlebih dahulu.
Aku bangkit dari dudukku.
"Aku mau pulang" ucapku mantap.
Sebelum ada di antara mereka yang mencegahku, aku menoleh ke arah Risa.
"Kamu mau antar aku ke airport kan?"
Risa menoleh ke arahku dan kakaknya bergantian.
"Kalau kamu tidak mau, aku bisa pergi sendiri" ucapku.
Lalu aku mengangkat barang-barangku.
"Tunggu."
Kudengar akhirnya Abrar bersuara. Entah mengapa, air mata ini ingin mengalir lagi ketika mendengar suaranya. Aku tidak menoleh. Ia berjalan menghampiriku dan menyentuh tanganku lembut.
"Jangan pergi dulu. Kita harus bicara."
Aku menoleh, menatapnya tajam dan kusentakkan lenganku.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Abrar."
Akupun membuka pintu apartment itu dan melangkah pergi. Risa buru-buru mengambil kunci mobilnya.
"Ca, aku antar kamu....."
Ia membantuku membawa tasku dan berjalan bersamaku, meninggalkan Abrar sendirian.
Ketika pintu lift itu terbuka, kudengar Abrar memanggilku sekali lagi. Aku masih tetap tidak menoleh. Aku tetap melangkah masuk ke dalam lift itu.
"Marisca, aku akan menunggumu, walaupun harus seribu tahun..."
Kudengar suaranya bergetar saat mengucapkannya. Aku tak menjawab. Pintu lift itu tertutup dan barulah aku mulai menangis lagi.
Risa terus memelukku.
Hening...itulah yang aku butuhkan.
###
2 komentar:
huuu baguss!!!!
sy jadi semangat menulis setelah melihat abang menulis.
terus menulis yah bang =D
waduh malunya....^_^!
Posting Komentar