Selasa, 27 Februari 2007

when love is not enough....................(19/...)

"Marisca!!" teriaknya tertahan.

Aku tersenyum dan langsung memeluk Risa. Lalu kulihat Abrar muncul, hanya mengenakan celana boxer pendek. Aku tersenyum dan hampir memanggilnya ketika aku sadar ia sedang merangkul seorang perempuan yang tidak pernah aku kenal. Perempuan itu juga hanya mengenakan pakaian tidur seadanya. Abrar masih mengucek-ucek matanya.

"Siapa Sa? Kok bisa masuk sini?" tanyanya pada Risa.

Sementara yang ditanya tidak berani menoleh ke belakang. Tersentak, kulepaskan pelukanku. Abrar juga rupanya segera menyadari kehadiranku di situ dan buru-buru melepaskan rangkulannya.

Terlambat...aku sudah melihatnya.

Belum sempat seseorang mengucapkan sepatah kata pun, aku langsung berbalik dan berlari pergi, menekan-nekan tombol lift dengan tidak sabar.

"Marisca! Tunggu!"

Kudengar Abrar berlari dan mengejarku. Ia lalu mencengkeram lenganku keras, membuatku tak mampu berontak. Aku berbalik menatapnya, namun pandanganku kabur, tertutup oleh air mata yang sudah siap mengalir. Ia tidak mengucapkan apa-apa. Ia menarikku ke pelukannya dengan paksa. Aku hanya bisa menangis seraya sesekali memukul bahunya yang bidang itu.

Perempuan itu beranjak mendekati kami. Ia berdiri di belakangku, tepat berhadapan dengan Abrar.

"Ini pacarmu?" tanyanya sinis.

"Bukan."

Abrar menjawab mantap.

"Ia tunanganku."

Sambungnya seraya mempererat pelukannya seolah ingin melindungiku. Tangisku makin menjadi mendengar jawaban Abrar itu. Perempuan itu mendegus marah.

"Kalau begitu, kau dalam masalah besar sekarang. Bagus, kau rasakanlah akibat dari perbuatanmu sendiri!" bentaknya setengah berteriak.

Lalu aku mendengar suara tamparan. Aku menolehkan wajahku dan melihat Abrar sedang memegang sebelah pipinya.

"Tamparan itu untukku. Dan ini untuk tunanganmu."

Ia lalu menampar Abrar lagi. Kulihat mata perempuan itu menyala oleh api amarah, tapi aku tahu ia juga tengah menahan air mata yang sudah mulai membasahi matanya. Aku tahu, ia sama sedihnya denganku. Hanya saja, ia sedikit lebih kuat dariku. Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.

"Kurasa kau pun tahu, jahanam ini tidak pantas untukmu" ucapnya sebelum berlalu.

Kulihat ia masuk ke dalam lift yang sudah terbuka sambil menenteng pakaian dan tasnya. Ia sama sekali tidak menoleh lagi ke arah kami.

###

Tidak ada komentar: