"Sydney, say hi to me.." pekikku girang dalam hati.
Aku memandang bangunan tinggi yang menjulang di hadapanku. Taksi yang mengantarku sudah berlalu dari tadi. Kulihat lagi kertas bertuliskan alamat apartment Abrar dan Risa. Memang benar ini yang aku cari.
Ketika aku sudah hendak menekan interkom apartment mereka, kulihat sepasang suami istri berjalan keluar dari pintu utama. Lalu ide iseng muncul di benakku. Sebelum pintu itu tertutup, aku buru-buru menyelinap masuk.
"Kalau aku langsung muncul di depan pintunya tentu lebih mengejutkan lagi" pikirku nakal.
Kutekan tombol lift yang sesaat kemudian mengantarku ke lantai teratas dari bangunan tersebut. Sewaktu aku mengetuk pintu itu, aku merasa jantungku yang justru terketuk. Lama tak terdengar jawaban.
"Mungkin mereka masih tidur."
Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan jam sembilan pagi lewat sedikit. Hari ini hari minggu jadi wajar saja kalau mereka bangun agak siang.
Kucoba lagi mengetuk pintu itu, agak lebih keras kali ini. Tak lama, Risa membuka pintu itu, masih dengan pakaian tidur dan rambut yang agak berantakan. Matanya terbelalak ketika melihatku.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar