Aku dan Risa juga masih terus berhubungan. Sadar atau tidak, kami sudah jadi sahabat baik. Anehnya, kami tidak terlalu banyak membicarakan Abrar. Baik aku maupun dia sama-sama tidak pernah menyinggungnya. Aku merasa agak sungkan, lagipula aku tidak mau Abrar berpikir bahwa aku kurang mempercayainya.
Kuliahku berjalan dengan lancar. Aku tidak terlalu merasa tertekan. Entah mengapa, keberadaan Abrar menambah kepercayaan diriku. Aku jadi tidak terlalu minder dan berprasangka buruk terhadap orang-orang di sekitarku.
Sungguh, aku banyak berubah. Aku lebih berani mencekati orang dan ternyata, tidak semuanya berpandangan negatif tentangku. Kupikir, dulu aku hidup dalam ketakutanku sendiri. Aku yang tidak bisa menerima diriku, bukan mereka. Kini di kampus aku punya cukup banyak teman.
Aku sangat menyayangkan karena diriku berubah di saat-saat terakhir kuliahku. Aku jadi tidak pernah benar-benar menikmati masa kuliah. Kadang-kadang Abrar kesal karena semenjak diriku mulai lebih terbuka, sudah ada beberapa teman laki-lakiku yang mencoba mendekatiku. Kalau sudah begitu, katanya aku lebih baik jadi pendiam dan tertutup seperti dulu. Namun aku tahu ia tidak pernah serius dengan ucapannya.
Abrar juga cukup puas dengan pekerjaanya. Ia sudah beberapa kali dapat pujian dari atasannya dan menurutnya, sebentar lagi ia bisa naik jabatan.
Kalau sudah mendengarnya bercerita begitu seru, aku jadi takut sendiri kalau-kalau ia tidak akan kembali. Di sisi lain, aku bangga karena tunanganku bukan laki-laki yang hanya bisa mengandalkan orang tua.
Seperti yang sudah dibilang Risa dulu, banyak sekali gadis yang ngantri untuk mendapatkan Abrar. Bukannya cemburu, aku malah jadi geli sendiri mendengar cerita-cerita lucu tentang gadis-gadis itu. Mulai dari yang mengiriminya foto sampai yang mengirimkannya lagu lewat radio tiap weekend.
Hubungan kami berjalan begitu lancar, begitu sempurna. Hingga tidak terasa aku sudah menyelesaikan kuliahku.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar