Ketika Abrar harus pergi dari sisiku, aku melepas kepergiannya dengan tabah. Aku tahu tangisanku tidak akan mengubah keputusannya. Sebaliknya, aku tersenyum karena aku tahu ia akan kembali ke sisiku.
Mungkin perpisahan sementara ini adalah yang terbaik bagi kami berdua. Mungkin dengan begitu, cinta yang murni bisa berkembang di antara kami. Apabila kami bisa melewati semua ini, maka tidak ada lagi yang bisa memisahkan kami nantinya.
"Aku nggak nyangka kamu tidak nangis?"
Abrar tersenyum meledekku. Ia sudah hendak check in namun ia minta waktu untuk bicara berdua saja denganku.
"Aku menangis di sini..."
Aku menunjuk hatiku. Kurasakan suaraku bergetar saat mengucapkannya.
Abrar menarik tubuhku mendekat kepadanya. Ia lalu sedikit membungkuk dan menempelkan keningnya di keningku. Matanya menatapku begitu dalam seolah ingin melihat apa yang ada di balik bola mataku.
"Terima kasih! Seandainya kamu menangis, hatiku juga jadi susah."
Ia lalu mengecup keningku.
"Aku pasti kembali lagi. Jaga cinta kita!!"
Dan ia memelukku begitu erat. Kugigit bibirku kuat-kuat untuk menahan air mata yang sudah di pelupuk mataku.
"Sudah...ayo check in sana... Risa udah nungguin, nanti langsung telpon aku yah?"
Kulepas pelukannya dan kucoba mengucapkan kata perpisahan dengan nada ceria. Ia tersenyum dan mengangguk pasti.
Ia lalu berjalan ke arah Risa dan mereka berdua melambaikan tangan padaku. Ketika mereka berdua berlalu dari pandanganku, air mataku tumpah.
###
Tidak ada komentar:
Posting Komentar