Selasa, 20 Februari 2007

when love is not enough....................(13/...)

"Ca!!"

Abrar membuyarkan lamunanku.

"Mikirin besok yah?" sambungnya lembut.

Aku mengangguk. Risa memegang tanganku dan menggenggamnya erat.

"Everything will be fine. Relax....."

Abrar mengangguk setuju dengan perkataan adiknya. Lalu tiba-tiba kulihat Abrar memberikan isyarat kepada seseorang, menyuruhnya untuk datang ke meja kami. Aku berpaling melihat siapa orang tersebut.

Ternyata seorang pemain biola. Ia menghampiri kami dan mulai memainkan sebuah lagu. Lagu yang sangat indah, sebuah lagu klasik yang begitu akrab di telingaku.

Moonlight Sonata.

Abrar tahu aku suka memainkan lagu itu dengan piano kesayanganku. Wajahku langsung bersemu merah, benar-benar kikuk rasanya berada dalam keadaan seperti itu. Aku mencari-cari Risa, berupaya untuk tidak menatap Abrar. Namun, tampaknya Risa sengaja menghilang saat itu, membiarkan diriku hanya berduaan dengan Abrar.

Aku melihat orang-orang di sekeliling restoran itu menatap ke arahku sambil tersenyum. Aku menunduk lagi sebelum akhirnya memutuskan untuk menoleh ke arah Abrar. Ia memang sedang menungguku menatapnya. Ia tersenyum simpul, sedikit terlihat menahan tawa melihat sikapku yang malu-malu itu.

Ia lalu mengulurkan tangannya, mengajakku berdansa. Aku menatapnya terkejut. Aku ingin menolak namun aku tahu berpasang-pasang mata sedang memperhatikan kami saat itu. Akhirnya aku sambut uluran tangannya dan kami beranjak ke lantai dansa.

Musik masih terus mengalun, samar-samar menutupi bunyi detak jantungku. Ia mendekap tubuhku erat, tubuh kamipun bersatu, bergerak perlahan...terbawa suasana. Beberapa pasangan juga mulai turun dan mulai berdansa. Aku tersenyum, merasa agak sedikit rileks. Aku menopangkan daguku di bahunya.

Kudengar ia berbisik pelan, "Terima kasih."

Lalu ia mencium telingaku lembut. Hanya dua kata yang singkat namun membuatku merasa begitu dihargai, begitu dipuja dan di atas segalanya, begitu dicintai. Aku merenggangkan pelukanku. Kuberanikan diriku untuk menatapnya.

Lalu kaki kami sama-sama terhenti. Kami berdua berdiri mematung di tengah-tengah pasangan-pasangan lain yang sedang berdansa. Kami berdua bertatapan cukup lama saat itu. Melihat tatapan matanya yang begitu dalam dan hangat, aku yakin aku adalah gadis yang paling beruntung di dunia ini. Aku percaya, keputusanku untuk menerima pertunangan ini tak akan pernah kusesali.

###

Tidak ada komentar: