Rabu, 14 Februari 2007

when love is not enough....................(06/...)

"Kapan kamu balik ke Sydney?" tanyaku membuka percakapan kami.

"Kenapa? Udah bosen nemenin aku ya?"

"Eh, bukan begitu lah. Cuma.... mau tau aja."

Abrar menyenderkan tubuhnya ke kursi dan menghela napasnya.

"Sekitar satu atau dua minggu lagi."

"Ohh" hanya itu yang keluar dari mulutku.

Ia lalu memajukan tubuhnya, mendekatkan dirinya.

"Kalau aku pergi, kamu kesepian?" ia tersenyum nakal.

Aku sungguh tidak bisa menjawab apa-apa. Bibirku seperti terkunci dan aku hanya bisa menunduk. Aku juga tidak mengerti mengapa aku jadi seperti itu. Sungguh memalukan!!

"Ca, kamu suka cowok kayak apa sih?" tanyanya mengalihkan topik. Namun, pertanyaannya masih membuat jantungku berdetak kencang.

"Aku? Uhhmm... Aku... suka....." aku berpikir sebentar.

"Aku suka cowok yang mau menantiku selama seribu tahun lamanya!!" jawabku akhirnya dengan mantap.

Ia menatapku heran.

"Aku tidak pernah dengar jawaban seperti itu sebelumnya."

"Memangnya sudah berapa orang yang kamu tanya seperti itu?" tanyaku memberanikan diri.

Ia tertawa ringan. Ia tidak menjawab apa-apa.

"Kalau kamu? Kamu suka yang seperti apa?" tanyaku balik.

"Aku?" ia diam sebentar.

"Aku suka cewek yang bisa membuatku jatuh cinta padanya." sambungnya.

"Jawabanmu lebih aneh lagi" aku tertawa kecil, merasa agak sedikit lepas dari kegugupanku.

Abrar mengangkat bahunya cuek.

"Ca, kamu lebih cantik kalau kamu panjangin rambutmu" ucapnya tiba-tiba.

Kini aku yang terdiam.

"Kenapa kamu belum punya pacar?" tanyanya kemudian.

"Aku yakin banyak cowok ngantri untuk jadi pacarmu."

"Aku belum menemukan yang pas" jawabku diplomatis.

"Pernah jatuh cinta?" tanyanya lagi, menyudutkanku.

"Rahasia..." jawabku malu-malu, mengaduk-aduk minuman yang baru diantar.

Walaupun kepalaku tertunduk, aku tahu ia sedang menatapku. Sejujurnya, saat itu aku sadar bahwa aku sudah mulai jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Lalu kita pulang menuju rumahku.

###

Tidak ada komentar: