Senin, 12 Februari 2007

when love is not enough....................(03/...)

Abrar el Guapo. Ia besar di Sydney dan jarang pulang ke Jakarta. Ia sudah menyelesaikan kuliahnya dan sedang mencoba mencari pekerjaan. Papanya sebenarnya menginginkan ia membantu usaha keluarga mereka namun ia bersikeras ingin mencari pengalaman dulu di sana. Sementara ia menunggu lamarannya diterima, ia pulang kembali ke tanah air.

Dimulai dengan telpon-telponan tiap malam dan sesekali pergi bersama keluarganya, kami mulai jadi dekat. Sekali waktu, Ia bahkan nekat menjemputku di kampus. Sesuatu yang membuat geger anak-anak di kampusku. Kejadian itu masih segar dalam ingatanku, karena pada hari yang sama itulah, sesuatu merubah hidupku. Ia bersandar ke mobil mewahnya dengan gayanya yang angkuh. Tangannya dimasukkan ke saku celananya dan dari balik kacamata hitamnya, matanya seperti sibuk mencari-cari sesuatu. Aku hampir tidak percaya ketika melihatnya di lapangan parkir kampus sore itu. Buru-buru aku menghampirinya.

"Abrar? Ngapain di sini?" sapaku sambil tertawa kecil, menyembunyikan rasa grogiku.

"Ca, aku mau ajak kamu jalan."

Ucapnya dengan senyum lebar tersungging di bibir merahnya. Aku terkesiap mendengarnya. Ini pertama kalinya dia mengajakku pergi berdua saja. Aku melirik ke mobilnya, mencari-cari supirnya.

"Supirnya mana?" tanyaku polos.

"Aku yang nyetir donk!" ucapnya bangga.

"Hah? Nggak mau ah... Kamu kan nggak bisa nyetir di sini" sahutku pura-pura panik.

"Jangan takut, aku dah latihan dari kemaren" ia lalu berjalan melewatiku dan membukakan pintu mobil untukku.

"Silahkan masuk, tuan putri."

Aku bisa merasakan tatapan-tatapan yang tertuju padaku saat itu.

Bagaimana tidak, sore itu lapangan parkir sedang ramai-ramainya dan tiba-tiba saja ia datang dengan semua keglamourannya. Ditambah lagi statusku yang memang kurang mengenakkan di kampus ini. Merasa tidak enak, aku memilih untuk buru-buru masuk ke mobil sebelum mereka menganggap aku sedang pamer cowok.

###

Tidak ada komentar: