Minggu, 11 Februari 2007

when love is not enough....................(02/...)

Umurku kira-kira sama dengan Risa waktu papa mama mengenalkanku dengannya. Aku sedang kuliah tahun terakhir saat itu. Ia sedang liburan di Jakarta, dan orang tuanya yang merupakan teman baik orang tuaku membawanya ke rumah kami. Aku masih ingat kesan pertama yang kudapat sewaktu melihatnya. Tampan namun angkuh.

"Marisca, kenalan sini sama Abrar."

Aku baru saja pulang dari kampus waktu mama memanggilku. Aku duduk di sebelah mama dan mengulurkan tanganku kepada laki-laki yang dimaksud mama itu.

"Marisca" ucapku singkat.

"Abrar."

Ia membalas uluran tanganku singkat lalu melepaskannya lagi.

"Marisca, Abrar ini lagi liburan dari Sydney. Kuliah kamu kan juga sebentar lagi libur, bisa kan kamu temenin Abrar kalau dia mau jalan-jalan?"

Aku menatap mama heran karena permintaan mama terdengar janggal sekali.

"Ok" jawabku singkat, malas memperpanjang percakapan di depan orang yang tidak kukenal.

"Abrar, kamu catet donk nomor telponnya Marisca" mama Abrar tiba-tiba angkat bicara.

Aku baru ingat bahwa aku belum berkenalan dengan dua orang lagi yang duduk di sebelah Abrar. Buru-buru aku berdiri dan menyalami mereka.

"Kayaknya kita yang tua-tua ngobrol di belakang aja yuk..."

Papa lalu membawa orang tua Abrar ke taman belakang, meninggalkanku bersama Abrar berduaan. Sejujurnya aku merasa canggung sekali karena aku memang bukan orang yang mudah bergaul.

"Ca" panggilannya membuatku sedikit terkejut.

"Ya?"

Ia lalu melambai-lambaikan handphonenya.

"Nomormu?" tanyanya singkat, seraya memberikan benda itu kepadaku.

"Oh..." jawabku gugup.

Kusimpan nomor handphoneku di memori buku telponnya.

"Kamu misscall ke handphone kamu aja supaya kamu juga punya nomorku" ucapnya sewaktu aku hendak mengembalikan handphonenya.

"Oh..." ucapku lagi.

Aku benar-benar merasa bodoh sekali. Malu mungkin lebih tepat.

Lalu kudengar tawanya meledak. Aku menatapnya heran.

"Untung mama kamu dah bilang kalau kamu anaknya pendiam dan pemalu" ucapnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri yang kecoklatan.

Aku dapat merasakan pipiku memerah saat itu.

Anaknya ternyata cukup menyenangkan, tidak angkuh seperti yang aku bayangkan. Kami ngobrol cukup lama. Walaupun aku agak kaku pada awalnya, ia berhasil membuat suasana lebih santai dengan cerita-cerita konyolnya.

***

7 komentar:

Unknown mengatakan...

kok namanya abrar,,,
jadi rada gmanaaaaaa gtu bacanya,,,:D

- HQ - kiko - mengatakan...

santai Tess, gak usah mbayangin si Abrar itu :p

dina mengatakan...

apalagi abrar yg tba2 pm :

'reza mo knalan'

'reza sapa?'

'reza d bhro'

gubrakss...cman jarak seblok doang ngapain knalan.?? :D

- HQ - kiko - mengatakan...

itu BIPU!!!!
bukan Abrar kaleee.....

Anonim mengatakan...

waktu masih episode 1...saya seneng baca cerpen ini....

aku pikir...pasti ni cerpen bakalan asyik deh....

setelah launching episode 2....tersentak diriku....kok pemerannya namanya abrar.....hueeee....

tapi gpp....malah bagus kok....btw....kalo baca ini perlu nge-bayangin abrar juga....biar "setting" nya lebih kena.....

btw...ada yg aneh bung...

"Kamu misscall ke handphone kamu aja supaya kamu juga punya nomorku" ucapnya sewaktu aku hendak mengembalikan handphonenya.


miskol ke hape sendiri ? buruan di-edit gih....

yak...sekian komentar saya....

saya tunggu episode berikutnya....sapa tau cerpen ini nanti diangkat jadi drama jepang...hehehe

nanti panggilnya " abrar-kun"

hahahaha

- HQ - kiko - mengatakan...

gak ada yang salah Yos....
baca kalimat sebelumnya, ditelaah donk....

{
Kusimpan nomor handphoneku di memori buku telponnya.

"Kamu misscall ke handphone kamu aja supaya kamu juga punya nomorku" ucapnya sewaktu aku hendak mengembalikan handphonenya.
}

Unknown mengatakan...

ahh,, ne penulis sembarangan rubah nama pemeran nya.. cerita asli nya nama cowok utama itu Jason... nd nama cew utama nya Bianca.. Jangan ngasal deh ubah cerita... jadi BT wa