Sabtu, 10 Februari 2007

when love is not enough....................(01/...)

Handphone-ku bergetar.

Dengan enggan kubaca nama penelponnya. Private number. Setelah beberapa saat aku menimang-nimang, akhirnya kuputuskan untuk mengangkat telpon itu.

"Hallo." sapaku.

"Hallo Ca, ini Arisa."

"Arisa?" ucapku agak terkejut.

"Sudah terima undangannya?" tanya Arisa agak terburu-buru.

Suasana hiruk pikuk di sekitarnya terdengar samar-samar.

"Undangan?"

Buru-buru aku berjalan ke arah meja ruang tamu, menahan rasa pusing yang langsung muncul ketika aku bangun dari tempat tidur, langsung mencari-cari undangan yang disebut oleh Arisa. Ternyata house-mateku menaruhnya di bawah tumpukan koran.

"Iya, aku post beberapa hari yang lalu. Harusnya sudah sampai tadi pagi."

"Oh, iya... ada nih. Undangan siapa sih ini?"

Kubuka undangan itu dan terkesiap melihat nama pengantin perempuannya.

"Risa! Kamu mau married? Kenapa nggak pernah cerita diemail? Ngagetin banget.."

Aku masih belum pulih dari keterkejutanku. Kulihat nama pengantin prianya, memang pria yang Arisa pacari dua tahun terakhir ini. Arisa tertawa senang mendengar keterkejutanku.

"Ca, itu undangan belum disebar loh. Aku kasih kamu duluan sekalian bikin kejutan supaya kamu orang luar pertama yang tahu." ucapnya senang.

"Ya ampun Sa. Kamu hampir bikin aku jantungan, tau nggak?" ucapku tanpa bisa menyembunyikan kesenangan yang juga aku rasakan saat itu.

"Ca, aku lagi buru-buru nih. Nanti aku kirim email lagi yah."

Lalu Arisa mengakhiri percakapan singkat kami.

Aku merebahkan diriku di atas sofa. Kupandangi lagi undangan yang masih kupegang. Risa...berapa umurnya sekarang? 23? Waktu memang cepat sekali berlalu. Aku sendiri sudah 27 tahun. Sudah bisa kutebak reaksi mama kalau tahu tentang hal ini nanti. Pernikahan Risa memang alasan yang tepat untuk menyuruhku cepat-cepat cari pacar dan menikah. Aku tahu maksud baik mama, tapi entah mengapa hati ini masih tidak bisa untuk menerima cinta yang lain. Hati ini seolah-olah masih diikat olehnya, oleh pria yang selalu ada di setiap sudut benakku, yang berada nun jauh di sana.

***

Tidak ada komentar: