Senin, 26 Februari 2007

Panggilan dari Dunia Lain....................(03/...)

"Mas Bayu ada di mana?"

"Bentar ya? Bentar lagi sampai kok, kira-kira 5 menit. Iwan pesen dulu aja."

"OK."

Sambungan HP kuputus. Cafe bermuda memang tempat nongkrong yang paling enak. Tipe cafe open space dengan meja-kursi ukiran khas yang dipesan dari Jepara. Ditata secara acak diselilingi taman yang ditanam berbagai jenis bunga seperti bunga melati, mawar, dan bougenville. Anehnya menu yang dihidangkan rata-rata dari negara tetangga, khususnya ASEAN.

Mas Bayu datang dengan berpakaian safari.

"Anda lagi tidak kerja rupanya."

"Tidak juga. Sekarang lagi ada tugas peninjauan tempat kejadian perkara."

"Oww. Kasus apa emangnya?"

"Pembunuhan. Sebenarnya kasusnya udah dipecahin. Kita udah dapet tersangkanya dan sekarang masih buron."

"Hhuumm....mecahin kasus lebih gampang ya daripada nyari buronan ya?"

"Iya kali ya??" timpal Mas Bayu.

"Lah...kok Anda malah balik nanya??"

"Saya ini kan cuma perwira biasa, kasarannya jadi asisten dari detektif."

'Detektif kah?'

"Ceritain kasusnya donk Mas! Pengen tahu neh, tapi jangan kasih tau pelakunya dulu....siapa tahu kalo saya nyoba-nyoba bisa mecahin juga."

"Nggak boleh. Ini bukan main-main."

"Yaelah, cuman pengen tahu aja gitu loh. Anda ini pelit amat. Gini aja, kalo tebakan saya salah ntar Anda sama Vita saya ajak makan di Korean Resto. Gimana?"

"Traktir kan?" tanyanya.

"Seep."

"OK! Hhmm...kalo tebakannya bener BS-BS ya?" tawar Mas Bayu.

"Yeee, Anda donk ya nraktir.....Anda kan dah kerja gitu, saya kan masih kuliah."

"Dasar ngeles! Bentar ya?"

Mas bayu mengeluarkan dokumen dari dalam tas hijaunya.

"Kasus ini terjadi 2 tahun yang lalu. Kasus pembunuhan. Korbannya dibuang ke sungai Serayu, daerah Kabupaten Magelang. Lebih tepatnya dibuang dari desa Banyu Urip kemudian mayatnya terseret arus sungai sampai desa Randu Kuningan. Hal ini diperkuat dari bercak darah di pinggir sungai desa Banyu Urip yang diperkirakan sebagai tempat kejadian perkara pembunuhan. Dari ciri-ciri fisik korban akhirnya kita berkesimpulan bahwa dia itu seorang pengusaha perambah hutan. Namanya pak Siregar."

"Pak Siregar?"

'Ohh hantu itu....hiihihi'

"Kenapa Wan?"

"Ah nggak, di sini ada satu cerita tentang mediang pak Siregar itu. Dia sering minjemin duit ke orang-orang. Salah satu orang yang berhutang mengaku ditagih dia beberapa hari yang lalu."

"Ooo itu juga saya sudah mendengar. Mang Didin kan?"

"Iya. Kok bisa tahu Mas?"

"Dia pernah lapor polisi soal hal itu. Tapi, dia tidak bisa memberikan bukti yang valid. Makanya kita menganggap dia berhalusinasi saja."

"Kapan dia lapor?"

"Sekitar 3 bulan lalu. Berhubung pak Siregar tidak diketahui asal usulnya maka Mang Didin bingung musti berbuat apa"

"Terus?"

"Kok kita jadi ngomongin Mang Didin? Lanjutin cerita tentang kasus tadi donk, Mas!"

"Oh iya. Sampai mana ya tadi?"

Mas Bayu mencoba mengingat-ingat.

"Anda cuman menceritakan korbannya doank."

"Terus.......waktu kejadiannya diperkirakan sekitar pukul 1 malam hari Sabtu."

"Ada saksinya?"

"Tidak ada saksi yang melihat secara langsung."

"Masa orang desa tidak ngeh kalo ada orang asing datang ke situ?"

"Bener juga kamu! Tapi sayangnya waktu itu desa Banyu Urip sedang ngadain syukuran. Kayaknya mereka tidak terlalu memperhatikan kalau ada orang asing masuk ke desanya malam itu. Kita juga sudah mencari saksi dari desa itu tentunya. Cuma tidak ada satupun yang melihat. Kita juga sudah mencari barang bukti, tapi semua benda yang diketemukan di situ semuanya milik korban termasuk sebuah mobil."

Mas Bayu menenggak teh Srilangka sebentar.

"Benda yang dipakai untuk membunuh?"

"Tidak langsung diketemukan. Waktu itu bendungan di hulu sungai sedang dibuka sehingga arus sungai deras sekali. Kita perkirakan alat pembunuhnya sudah dibuang duluan."

"Tapi udah ketemu?"

"Yup, tapi pencariannya memakan waktu 4 hari. Bener-bener capek deh nyari pisau itu."

"Ohh pisau ya?"

"Tahu kenapa lama nyarinya?" tanya Mas Bayu.

"Dibungkus gabus terus dibuang ke sungai biar hanyut jauh. Makanya kalau dicari di sekitar situ pasti gak ketemu."

"Wuduu....tepat jawabanmu."

Mas Bayu agak kaget mendengar jawaban gue.

"Jadi kamu tahu dari mana kita tahu siapa pembunuhnya?"

"Ada sidik jari di pisaunya? Kalau ada sidik jari asing dalam hal ini maksudnya bukan milik korban terdapat di pisau itu ya kemungkinan besar itu adalah milik pembunuhnya dan misal terdapat lebih dari satu ya salah satunya milik pembunuhnya. Alesannya misalkan pembunuhnya pake sarung tangan, sidik jarinya bisa saja kehapus. Nah kalau di pisau itu ada sidik jari korban berarti pembunuhnya orang yang rada 'dekat' dengan korban karena pisaunya sudah pernah dipegang dengan si korban."

"Lho kan bisa aja pembunuhnya menempelkannya di tangan korban." sangkal Mas Bayu.

"Tapi ada kan sidik jarinya pak Siregar?" tanya gue penasaran.

"Iya."

"I see. Alasan saya adalah karena tempat kejadiannya itu lho, Mas. Pengusaha besar seperti pak Siregar ngapain jauh-jauh datang ke desa Banyu Urip. Yang ada dibayangan saya sekarang adalah dia diundang oleh teman dekatnya atau orang yang dia kenal deket ke suatu tempat terus dibunuh dan dibuang mayatnya dibuang ke sungai."

"Encer juga otak kamu."

Mas Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jadi hintnya apa neh?"

"Pembunuhnya?"

"Yup"

"Hhhmm.....gimana ya cara bilangnya?"

Mas Bayu kebingungan.

"Hhmm.....kayaknya saya ada gambaran siapa yang membunuhnya."

"Kamu udah tau?" tanya Mas Bayu.

"Mungkin seh. Pertama, pak Siregar itu tidak diketahui asal-usulnya, tentunya yang tau adalah partner kerja dia. Kedua, alasan sidik jari tadi. Ketiga, ini kemungkinan kecil tapi bisa jadi petunjuk juga. Malam itu pak Siregar pasti janjian sama tersangka dan saya tahu pak Siregar itu termasuk perokok berat terlihat waktu ada infotainment tentang dia. Nah, kalo sedikit ditelaah lebih lanjut yaitu ada seorang pengusaha, perokok besar, malam hari, ketemu teman deket ......kalo saya jadi dia pasti saya akan datang ke sebuah cafe, dari situ kita pasti dapat saksi kunci dari semua ini."

"OK. Kamu benar. Jadi kamu tahu siapa pelakunya?"

"Kalau perkataan saya tadi benar adanya. Ya kesimpulan saya hanya ada satu orang. Pak Dimas Rizky."

"Mantab!!! Hanya sedikit hint kamu bisa tau semuanya."

"Kayaknya Anda memberikan banyak hint deh."

"Oh iya ya?"

Mas Bayu menggaruk-garuk kepalanya.

"Lho si Vita mana Mas? Jadi ke sini gak seh?"

"Gak tau tuh anak."

"Lama amat......."

"Kamu udah jadian sama adek saya?"

"Hehh?? Nggak kok!!"

"Halah jadian juga nggak papa."

Percakapan kita terpotong oleh bunyi hape mas Bayu. Mas Bayu lalu menuju ke taman terdekat untuk mengobrol dengan si penelponTak lama dia kembali dan minta pamit pulang duluan.

"Vita bentar lagi ke sini. Ban motornya kena paku di jalan, lagi nungguin di bengkel tuh anak. Saya mendadak dipanggil atasan neh. Pergi dulu ya!"

"Saya jemput Vita aja deh. Jadi.....Sabtu ini ya Mas?"

"Kenapa?"

"Halah gak usah sok lupa. Anda kan nraktir!!!!"

"Ohh itu, gampang. Tapi, saya gak mau jadi obat nyamuk."

"Huhuhu dibilangin lom jadian."

"Tapi mau kan?" goda Mas Bayu.

"Taaaau'....."

"Yasuda. Bye."

"Mas, kalo ada progress tentang kasus itu kabarin ya??"

"Kamu tertarik?"

"Nggak juga seh, cuman......"

Mas Bayu menatap gue dengan serius.

"Pak Rizky itu pamannya Gunawan."

###

2 komentar:

MimiAji mengatakan...

gunawan tu sopo??
iwan kah??

- HQ - kiko - mengatakan...

beda orang....

keh keh keh

memang membingungkan.....