Senin, 08 Januari 2007

Sore Kelabu

Mereka bergegas menuju lift, salah seorang dari mereka memencet tombol lift, sementara yang seorang lagi masih terus mengunci leherku dengan lengan sebelah kiri, sementara tangan sebelah kanan masih tetap menggenggam pistol dan menempelkannya di kepalaku.
"Waduh..bagaimana ini? Bagaimana aku bisa meloloskan diri dari mereka?"
Sementara beberapa polisi tadi sudah terdengar gedubrakan berlari menuruni tangga, mengarah ke sini.
Pintu lift terbuka....
Seorang dari yang menyanderaku masuk ke dalam lift, sementara yang satunya, yang mengunci leherku dan masih menodongkan pistolnya bergerak mundur menuju lift sambil menyeret tubuhku.
Kesempatan terakhir sebelum masuk lift pikirku.
Tanganku masih basah oleh air toilet tadi, dan semoga perkiraanku tidak meleset,
Bahwa di samping kanan belakangku, di belakang orang yang menodongkan pistolnya di kepalaku, terletak asbak berpasir tempat orang mematikan rokoknya sebelum masuk ke lift.
Aku menggerakkan tubuh dan kakiku menyesuaikan dengan gerak tubuh dan kaki penodongku supaya ia tidak menyadari apa yang aku lakukan. Kaki giri bergerak, tubuh condong ke kiri, kaki kanan bergerak ke belakang, tubuh condong ke kanan sembari tangan kananku kurentangkan menyentuh pasir yang ada di dalam asbak. Masuk ke dalam asbak meski cuma sebentar, tapi sebab tanganku masih basah, pasir-pasir itu menempel di telapak tanganku.
Aku berteriak,"Ampun Tuan..! Ampun Tuan ! Aku tidak bersalah, lepaskan aku !", sambil berteriak begitu, tangan kugerakkan seakan mau angkat tangan gaya menyerah, telapak tangan kanan ku balik dan kudorong sedikit kearah mata penodongku.
Pasir-pasir yang ada di tanganku berhamburan masuk ke dalam mata si penodong. Ia tidak menyadari apa yang terjadi. Hanya saja tiba-tiba matanya perrih dan pedih. Secara reflek ia mengendorkan kuncian tangan sebelah kiri yang ada di leherku untuk mengusap matanya, sementara yang tangan kanan masih memegang pistol.
Kendornya kuncian itu meski sedikit cukuplah bagiku untuk meloloskan diri. Tubuh kurundukkan separo membungkuk, kemudian tangan kananku mengepal, lengan kutekuk ke dalam sehingga siku ada di depan sementara reflek telapak tangan kiriku membuka membentuk gerakan seperti orang cina yang mengucap kankiong-hi..kiong-hi..hi..hi.. itu. Kemudian kudorong telapak tangan kiriku menekan kepalan tangan kanan bersama dengan memindahkan sebagian berat badan kesiku kanan kutekan dan kuarahkan persis di jantung si penodong. Jurus ini adalah paduan dari jurus Garuda Emas dari Shaolin dan jurus Mengangkat Gunung dari aliran Enmei Jepang. Aliran beladiri yang kini dikabarkan sudah punah di Jepang sendiri.
"JDDUUGGG !!".
Aku sudah tahu apa yang akan terjadi,
Dadanya tiba-tiba akan terasa sesak sebab jantung berhenti berdetak selama beberapa saat. Pistolnya terlepas, dan ia tergeletak pingsan.
Aku menegakkan tubuh kembali, menghela nafas panjang..
"Wuuiiihhh....coba kalau seluruh berat badan kupindahkan ke siku kanan dijamin ia akan bertemu dengan el-maut dan pergi untuk selama-lamanya" gumamku
Temannya yang ada di dalam lift - si rambut cepak yang memakai training dan bersepatu karet- hendak membantu tapi tak mungkin sebab perlahan pintu lift telah menutup dan lift bergerak ke bawah. Tapi sempat ia menatapku tajam setelah melihat apa yang aku lakukan pada temannya yang seorang itu. Matanya berkilat-kilat tajam menusuk seperti mata elang yang sedang marah, hawa pembunuhnya muncul lagi lebih dahsyat dari yang kurasakan di awal-awal bertemu dengannya. Seolah ia berkata, "Tunggulah pembalasan dariku !!"
Aku menghela nafas panjang sambil berharap, moga-moga orangnya tidak dendam kepadaku yang gak ngerti ini urusan apaan..
Rombongan polisi dari tangga atas sudah tiba di dekat lokasi itu. Mereka terdiam melihat aku selamat, sementara salah seorang penodongku tergeletak pingsan.
"Aa..apa yang terjadi ?"
Tanya sang komandan polisi.
Aku mengangkat bahu, "Entahlah pak, sepertinya orang ini punya penyakit jantung. Tadi tiba-tiba saja dia kejang dan kemudian tergeletak pingsan seperti ini", jawabku.
"Sementara seorang lagi sudah masuk ke lift tadi dan sekarang menuju ke bawah".
"KEJAARRR !!!", teriak sang komandan.
3 orang polisi bergerak cepat mengejar ke bawah melalui tangga, sementara sang komandan bergerak memeriksa si penodong yang tergeletak di lantai.
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya,
"Iya sepertinya ia terkena serangan jantung mendadak. Jantungnya denyutnya hampir tidak ada.. tapi orang ini pingsan dan tidak mati", sambil berkata begitu, tangannya dengan cekatan mengeluarkan borgol dari pinggangnya dan sirambut cepak diborgol kedua tangannya ditelikung ke belakang.
Di situ juga aku diinterogasi oleh si komandan polisi.
Aku ceritakan sebagian saja, bahwa aku datang berkunjung ke pak Direktur, kemudian terdengar suara gelas jatuh, kemudian aku dan sekretaris pak Direktur masuk menemukan pak Direktur sudah tertelungkup di meja. Kemudian sang sekretaris memanggil polisi sementara aku menunggu di depan ruang direktur.
"Terus kok Anda tadi ada di tangga mau turun ke bawah ?"
"Wah pinter juga polisi ini", gumamku.
"Maaf agak lama saya menunggu, sang sekretaris khok belum datang juga, maka saya turun akan memanggil polisi juga. Biar mana yang cepat datang. Gitu maksud saya Pak"
"Terus mengapa anda tidak memakai lift saja? Daripada turun lewat tangga?"
"Lift sudah berusaha saya pakai, tapi posisi lift ada dibawah sedang naik dan tidak kunjung sampai. Saya tak mau kehilangan waktu untuk segera memanggil polisi. Jadi saya turun lewat tangga"
Sepertinya si komandan Polisi masih belum percaya dengan keterangan saya.
"Tolong tanda pengenal Saudara ?"
"Baik..ini pak", kataku sambil mengambil ID Card dari dalam dompet ke Polisi itu.
Bunyi lift terbuka mengangetkan kami berdua, beberapa polisi yang mengejar satu orang si rambut cepak tadi sudah kembali ke tempat itu.
"Lapor Pak! Buronan lolos, kami tidak berhasil menemukannya"
"Bodoh!..Bodoh semua kalian!! Penjahat sudah di depan mata tidak berhasil kalian tangkap!!" Umpat sang komandan..
"Wah..yang lolos yang pakai training dan sepatu karet itu", gumamku dalam hati,
"Ia lebih berbahaya daripada orang yang sekarang tergeletak pingsan ini.
Sang komandan masih tidak puas dengan keteranganku tadi.
Terpaksa aku diminta ikut dengan mereka ke kantor polisi terdekat.
Tas kuambil dari lantai 17, ID card masih dibawa untuk difotokopi dulu.
Dan matahari yang tenggelam mengiringi perjalananku menuju kantor polisi.
Interogasi berlangsung cukup lama. Tapi tetap aku ceritakan sebagian saja. Tidak perlu aku ceritakan tentang Kertas yang aku temui mengandung Kalium Sianida dan itu yang menyebabkan terbunuhnya sang Direktur, tidak perlu pula aku ceritakan bahwa aku yang membantu mereka lebih mudah menemukan petunjuk dan bukti-buktinya, serta tidak pula aku ceritakan kejadian sesungguhnya yang terjadi pada diri penodongku tadi.
Tidak, semua tidak perlu diceritakan. Hanya sebagian saja yang aku ceritakan, yang wajar-wajar saja.
Sampai akhirnya mereka bener-bener yakin, bahwa aku tidak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan Bapak Direktur Informasi dan Telematika tadi, barulah aku diijinkan untuk pulang.
"Ok pak, terima kasih atas kerjasama Bapak, ini ID Card Bapak, tetapi tetap... seandainya kami minta bantuan Bapak untuk informasi soal ini, Bapak sewaktu-waktu akan kami panggil kembali."
Aku mengangguk.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.27 malam..
Tak terasa cepat juga waktu berjalan..
Lalu lalang kendaraan di jalan sudah banyak bersliweran,
Padat merayap..
Indahnya kota metropolis di waktu malam.
Ketika lampu-lampu saling berpijar seolah berkejaran.
Semoga cukuplah sudah kejadian aneh-aneh seperti sore ini tadi..
Semoga.

Tidak ada komentar: