Kamis, 11 Januari 2007

Sebuah Komitmen

Dulu…, lama sebelum kami berpacaran, aku pernah melihat sepasang kekasih mengakhiri hubungan mereka di sini. Di terowongan sepi dekat danau ini. Aku benar-benar heran melihat pemandangan saat itu; mereka tidak saling berteriak atau menampar, melainkan hanya diam dan saling berpelukan lamaa… Waktu itu aku masih belum mengerti secuilpun tentang yang namanya cinta, cemburu,atau patah hati, tapi aku berpikir alangkah manisnya bila aku bisa berbuat seperti mereka. Yah, bukankah saling menyakiti itu tak ada gunanya? Dalam hati aku berjanji jika saat menyedihkan itu akhirnya harus kualami sendiri, aku akan melakukannya tanpa menyakiti siapapun. ***

Pukul enam lewat sepuluh menit. Dengan cepat kusambar tas di atas ranjangku dan berlari ke pintu. Namun kemudian aku jadi ragu-ragu lagi, aku berhenti dan mundur selangkah ke depan cermin riasku yang lumayan besar. Aku kembali menyisir rambut lurusku yang tak seberapa panjang untuk yang kesekian kalinya. Kuoleskan kembali lip gloss rasa strawberry mint di bibirku yang sudah mengkilap. Kupandangi wajahku baik-baik. Kucoba mempraktekkan senyum termanisku, tapi aku tak mampu. Yang terlihat malah seulas senyum sinis yang seakan-akan ingin mengejek. Aku tak peduli lagi,…Randy pasti sudah menungguku…dan aku akan membuat malam ini sangat istimewa hingga ia tak akan pernah melupakannya.
"Hei, bulat…"
"Berhentilah memanggilku begitu. Aku tidak suka!" aku hapal benar suara nge-bass milik Randy.
Nadanya begitu khas dan lain daripada yang lain,…setidaknya menurutku.
"Tapi aku suka, kok…," kilahnya sambil cengengesan. Dia memang senang bikin aku sewot. Mentang-mentang wajahnya lonjong dan lancip sempurna…
"Ada apa?! Mau pinjam catatan lagi?" tanyaku galak. Randy tersenyum nakal lantas menjawab,
"Yaa…, itu juga sih, tapi ada yang lebih penting…," katanya.
"Apaan?" tanyaku heran.
"Nonton bioskop besok. Aku jemput, ya, jam enam… Daag!" tau-tau Randy sudah ngeloyor pergi.
Aku sampai teriak-teriak memanggil dia yang telah meninggalkan dua buah tiket bioskop di tanganku.
"Ini pemaksaan namanya…," protesku saat keesokan harinya ia menjemputku. Cowok itu tetap berlagak cuek bebek…
"Biar aja…"
"Aku turun, nih…," ancamku. Randy jadi agak panik,
"Eeh, jangaan…," cegahnya saat aku membuka pintu mobilnya.
"Kenapa?"
"Soalnya aku pengen kamu jadi pacarku." Waktu itu aku masih duduk di kelas satu SMU dan dia setahun di atasku. Kami jadi lebih dekat sejak malam itu dan…harus kuakui… dialah cinta pertama danterakhirku hingga detik ini…
***

"Kenapa sih suka banget pergi ke danau ini?Ada apa-apanya, ya?"
Randy tak habis pikir mengapa aku sering mengajaknya menghabiskan waktu di pinggir danau sambil menatap bulan purnama. Aku memang suka bulan purnama; kalau kita melihat cukup lama ke arahnya kitabisa melihat apapun yang kita inginkan. Kelinci, putri raja, bahkan monster… Gunakan saja imajinasimu. Aku sendiri menganggap sinar bulan purnama sangat romantis bila memantul di air pada saat malam hari…
"Suka aja. Sepi, nyaman… Tempat ini sering lho didatangi cewek-cowok. Kayak kita sekarang…"
"Ooh…," gumam Randy.
"Oya, Ran, janji ya…kalau suatu saat kita bertengkar trus terpaksa pisah…"
"Eh, kenapa musti ‘gitu?" putusnya segera.
"Misalnya aja…Kita nggak pernah tahu hari esok, kan? Jadi daripada saling menyakiti, lebih baikbilang aja, "Aku pengen balik ke terowongan," kataku sambil menunjuk ke arah terowongan. Randy diamsaja tak merespon…
"Gimana?" tanyaku lagi.
"Terserah kamu," jawabnya pendek.
"Kupikir itu jauh lebih baik daripada mengatakan hal-hal yang menyakitkan…," gumamku.
"Kalau ‘gitu jangan katakan..!" tukas Randy seperti orang sewot. Aku tersenyum senang karena Randy ternyata tidak memikirkan perpisahan sama sekali.

"Hai, sudah lama?" sapaku begitu melihat Randy berdiri di samping mobilnya. Dia melihatku dan tersenyum sambil menggeleng…
"Baru lima menit…" Kami segera naik mobil dan Randy menyalakan mesin…
"Mau ke mana kita?" tanyanya.
"Gimana kalau ke…sini?" aku menunjukkan dua buah tiket taman hiburan di tanganku. Randy tersenyum,
"Boleh…," maka kami segera melaju di jalan besar. Aku sungguh berharap malam ini tidak cepat berakhir…

"Kita tunangan, yuk."
"Apaa? Kamu ngelindur, ya?" Kupegang dahi Randy ketika suatu malam ia mengatakan ingin melamarku di hadapan kedua orang tuaku.
"Nggak, dong. Aku dua rius nih,…mau, kan?" tanyanya halus. Aku menggaruk-garuk kepala bingung,…aku masih belum siap menikah di usiaku yang ke-18!
"Kenapa mesti sekarang?" tanyaku.
"Vid, aku tahu ini tiba-tiba, tapi aku pengen di antara kita ada kepastian. Aku bakal pergi ke Amrik buat sekolah, dan aku pengen setelah pulang nanti kita…" Wajahku kontan terasa memanas mendengar rencana jangka panjang Randy. Aku tidak menyangka ia memikirkan masa depan kami…
"Vid?" aku menengadah mendengar tegurannya.
"Hmm,…baiklah, kalau itu maumu…" Randy tersenyum senang seraya menciumku.
Suasana malam ini benar-benar mendukung. Tempat yang kami kunjungi sangat meriah, dengan hiruk pikuk orang di mana-mana. Maklumlah karena ini adalah akhir pekan.
"Aku mau main itu, itu dan itu…," tunjukku bersemangat. Randy mengucek-ucek rambutku,
"Satu-satu, non… Tenang, kita punya waktu seharian," katanya. Aku melirik Randy sekilas…, yah, justru itu yang bikin aku sedih. Kita cuma punya waktu seharian. Setelah itu…
"Oke, aku beli tiket dulu. Kamu tunggu di sini, ya?" Randy mewanti-wantiku sebelum pergi. Dia masih saja memperlakukanku seperti anak kecil, padahal aku sudah menjalani kuliah semester empat… Tak berapa lama, Randy kembali dengan banyak tiket di tangan. Dia memang cekatan. Kulihat sejak pulang dari Amerika untuk liburan ada perubahan dalam dirinya. Dia nampak lebih dewasa dan gagah. Aku yakin hidup sendiri di sana selama bertahun-tahun telah membuatnya mandiri.
"Kok…jadi bengong? Ayo, kita naik," ajaknya. Aku tersenyum kecil dan mengikutinya dari belakang.
"Ran, kenalin, ini sahabatku, Frisca.." Suatu hari aku bermaksud mengenalkan Randy pada sahabatku di tempat les, Frisca. Frisca seumur denganku, tapi ia bersekolah di SMA Katolik khusus putri. Jadi dalam hal perangai, dia sangat berbeda denganku. Dia pemalu dan agak tertutup, meskipunsebenarnya dia cantik dan cukup menarik. Aku sama sekali tak menyadari bahwa itulah kesalahan terbesarku, karena setelah itu aku harus bersiap-siap kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidupku.Tak pernah kulihat Randy seperti itu. Dia menatap Frisca tanpa berkedip, pandangannya seperti orang yang terpesona pada barang antik. Aku tak menyadarinya saat itu, jadi cuek saja dan membiarkan mereka bersalaman hangat…
"Kok, aku baru dikenalkan sekarang?" protes Randy. Kusikut perutnya,
"Iya, soalnya kamu nggak pernah mau jemput aku di tempat les sih… Sayang kan nggak ketemu ceweksecakep Frisca?" Frisca hanya tersenyum mendengar ocehanku pada Randy…
"Kamu kok bisa tahan sih, Fris, sobatan sama cewek gokil kayak dia?" Frisca tertawa lagi. Hmm, kalau dilihat-lihat tawanya memang manis…
"Vivid baik, kok," katanya ‘membelaku’. Dan aku hanya mencibir jelek ke arah Randy. Sejak itu, entah mengapa, kami jadi lebih sering pergi bertiga daripada berdua. Dulu aku berpikir kasihan Frisca yang tidak sering bergaul dengan cowok. Tapi sekarang aku bisa menyadari maksud sebenarnya di balik sikapnya itu… Setelah itu memang Randy bersekolah di Amrik. Dia hanya pulang beberapa bualn sekali bila ada waktu luang dan (katanya) kangen padaku… Aku tak percaya waktu itu aku begitupolos dan mudah diperdaya oleh kata-kata manisnya…
"Enak ya, tadi naik jet coaster… Udah lama deh rasanya bikin jantung ini terpacu cepat,…hhh, coba kita ajak…," tiba-tiba Randy menghentikan ucapannya dan cepat-cepat berpaling ke arah lain.
"Lihat, kayaknya main itu asyik juga. Kita ke sana, yuk," ujar Randy ingin mengalihkan perhatianku.
Tapi aku bisa menebak kira-kira apa yang ingin diucapkannya tadi… Kulihat wajah Randy tidak sepertidulu. Ooh! Aku tahu apa yang berubah dari raut wajahnya… Bukan, bukan kedewasaan, melainkan raut kesedihan dan kesepian. Matanya tidak secerah dulu, dan ia sepertinya berusaha keras menikmati kebersamaan kami malam ini. Randy benar-benar berusaha menyenangkanku. Tiba-tiba hatiku terasa sakit…
Hari itu aku tahu Randy pulang untuk liburan selama beberapa minggu. Tapi aku tidak mengetahui berita tersebut dari dirinya sendiri, melainkan dari orantuanya yang sengaja menelepon supaya aku bisa memberinya kejutan selamat datang. Dan aku melakukannya. Aku sengaja pergi ke airport satu jamsebelumnya, supaya aku bisa mengamati penumpang-penumpang yang keluar dari pesawat lebih cermat. Benar juga, dari jauh kulihat sosok Randy keluar dari lorong penumpang sambil menenteng kedua tasnya yang tidak begitu besar. Baru saja aku hendak berlari ke arahnya, memeluknya, memberinya sebuah kecupan dan juga hadiah yang selama ini kusimpan untuknya… tiba-tiba aku dikejutkan oleh sesosok gadis yang berlari ke arahnya dan melakukan hal yang sama seperti yang ada dalam benakku tadi. Tidak lain itu adalah Frisca, orang yang tadinya kupikir juga sahabatku. Hatiku bagai ditusukbelati dari belakang... Aku tak menyangka mereka tega melakukannya. Apakah ini sudah berlangsung berbulan-bulan? Apakah selama ini mereka selalu berkirim kabar, sementara e-mail terakhirku yang dibalas Randy adalah yang kukirim tiga bulan lalu..? Aku terkulai lemas di tempatku berpijak. Sementara supirku bertanya cemas,
"Non, tidak apa-apa, Non? Kok masih di sini?Katanya mau jemput Den Randy…"
"Berisik. Udah, kita pulang aja, Mat," jawabku tegas. Aku sudah tak bisa berpikir positif lagi.Bagaimana mereka bisa main belakang begitu? Mungkin kalau mereka bicara langsung di depanku, aku akan lebih bisa menerima… Setidaknya aku tidak terombang-ambing begini… Keesokan harinya Randy barumenghubungiku via telepon. Tapi suaranya tidak seenteng dan seramah yang pernah kuingat…
"Apa kabar?" tanyanya basa-basi.
"Baik kok…," jawabku dingin.
"Aku mau ketemu tunanganku, dong…," ucapnya sedikit manja. Aku tersenyum sinis,
"Hmm,…boleh aja. Kapan?" tanyaku to the point.
"Ehm,…besok bisa? Vid, kamu nggak kayak biasanya, deh… Kamu nggak apa-apa? Kalau ada masalah…,"rupanya dia masih bisa mengenali tabiatku.
"Nggak, nggak…, aku ya begini ini, Ran. Oke, jam enam, ya? Daag…"
"Sampai nanti," ujar Randy. Segera kututup gagang teleponku. Aku sudah memutuskan…, aku akan mengalah. Demi dua orang yang kusayangi namun mengkhianatiku. Aku baru tahu mengapa selama ini Frisca belum juga mempunyai pacar. Rupanya mereka benar-benar saling mencintai, namun tidak ingin menyakiti perasaanku. Bagaimanapun aku beruntung telah bertemu dan bertunangan dengan Randy lebih dulu…Benar kata orang-orang tua, kalau mencintai seseorang jangan berikan hatimu seluruhnya…karena akan terasa sakit sekali bila ternyata cintamu kandas di tengah jalan.
"Kamu kangen Frisca, ya, Ran?"
"Apaa?" Randy menatapku pura-pura tak mengerti. Aku tersenyum pahit lantas berkata santai (lebih santai dari yang kukira),
"Aku mau balik ke terowongan…"
"Vivid!?" Randy memegang kedua tanganku dan meminta penjelasan.
Lalu sesuai permintaanku, kami memang kembali ke terowongan dekat danau itu… Saat turun dari mobil tiba-tiba cincin di jari manis kananku tersangkut pegangan pintu dan akhirnya terlepas jatuh ke tanah. Aku semakin yakin itu adalah pertanda dari Tuhan… Randy memang bukan untukku.
"Aku harap kamu benar-benar bahagia," ucapku pelan seraya menyerahkan cincin 22 karat itu kepadanya. Randy menatapku dengan perasaan bersalah…
"Bagaimana...kamu…?"
"Percayalah, seorang wanita tahu apabila dirinya dikhianati…" Anehnya, aku mengatakan hal tersebut sambil tersenyum tenang. Tidak ada lagi dendam atau beban di dadaku. Tiba-tiba aku yakin bahwa akan ada pemuda lain di luar sana yang lebih baik untukku. Aku tidak berhak diperlakukan seperti ini. Aku masih muda, cantik dan bersemangat. Malam itu, seperti janjiku, aku memutuskan hubunganku dengan Randy yang telah berlangsung kurang lebih lima tahun, secara baik-baik…sehingga tak ada seorangpun dari kami yang terluka. Benarkah? Aku berbohong… ****

Tidak ada komentar: