Jumat, 12 Januari 2007

Sahabat Sejati....................(03/05)

Semakin lama Anto semakin dekat dengan Rita. Bahkan saat kelulusan tiba Anto lupa akan janjinya untuk merayakan bersama Diyan. Dia malah pergi sama Rita, …berdua. Anto yang dulu paling sering ngoceh macam-macam sekarang yang dibicarain cuman Rita tentang kegiatannya dengan Rita. Diam-diam Diyan jadi kesel sama cewek itu, ia mulai menganggap Rita merebut seseorang yang paling berharga dalam hidupnya. Diyan merasa sedih & kecewa karena ia harus kehilangan orang yang berarti baginya untuk kedua kalinya. Dulu ibunya, sekarang Anto…Ia semakin yakin Anto akan menjauh darinya saat cowok itu mendatanginya pada suatu sore dan mereka memutuskan bahwa mereka berdua harus mulai menjaga jarak…

"Dee, Rita sekarang uring-uringan. Dia tetap nggak percaya aku bilang kalo kita cuma berteman…," ujar Anto suntuk.

"Ehm,…dia bilang apa?" Diyan berusaha menanggapi ucapan Anto dengan tenang.

"Dia bilang…aku lebih sering memperhatikan kamu ketimbang dia. Trus dia membanding- bandingkan dirinya dengan kamu. Dee, aku bener-bener bingung nih…," keluh Anto.

Sejenak Diyan terdiam, kemudian dia bertanya, "Apa kamu bener-bener care sama dia?"

"Ya, dong…,gimana yaa…Rita ‘tu anaknya baik sih, lagian aku khan udah sering banget gagal pacaran sama cewek," jawab Anto

"Ooh…" Diyan masih diam aja. Dia malas bicara disaat-saat seperti ini. Hatinya terasa sakit…

"Eh, Dee? Kamu nggak ‘pa ‘pa khan?"

"Hah? Oh-ya,ya,…tadi kamu ‘mo bilang apa, To?" tanya Diyan.

"Hei, tangan kamu dingin, Dee…," kata Anto seraya menggenggam tangan Diyan.

Tentu saja Diyan kaget dan segera menarik tangannya.

"Ah, enggak…enggak ‘pa ‘pa kok. Kamu pulang aja deh sekarang,To" ujar Diyan gelisah.

Sejenak Anto menatap Diyan penuh arti. Entah apa yang berkecamuk dibenaknya., tapi kemudian cowok itu segera membalikkan badan dan bergegas pergi…

"Anto…," panggil Diyan. Anto menoleh.

"Aku rasa kita nggak usah ketemu sering-sering deh…entar cewek kamu nggak suka. Ehm, Jumat ini kita batalin aja rencana cari bukunya…"

"Lho, tapi minggu lalu khan udah dibatalin…"

"Iyaa, kamu pergi aja sama Rita, OK?"

Sesaat Anto diam ditempatnya dan menatap Diyan lekat-lekat sampai gadis itu salah tingkah sendiri.

"Kamu lain deh akhir-akhir ini…, nggak ‘pa ‘pa kok kalo kamu ‘mo pergi sama orang lain. Oke deh, sampai ketemu…"

Anto melambaikan tangan dan segera meninggalkan taman luas rumah Diyan. Begitulah, Anto jalan terus bareng Rita dan makin akrab. Rasa-rasanya mereka udah serius banget, sementara Diyan melanjutkan kuliahnya dengan giat. Ia benar-benar enggan berkutat dengan perasaannya sendiri, karena itulah akhirnya ia memutuskan ingin pergi ke luar negeri.

"Pap, Diyan pengen ngelanjutin di luar negeri aja…," begitu keinginannya diungkapkan pada papanya.

"Adek sudah tau mau ambil jurusan apa ?" tanya papanya agak terkejut.

"Ya, Pap, Computer Science. Diyan pengen ngelanjutin di NUS Singapore, cuman butuh Touffel aja kok.…"

"Kenapa Adek tiba-tiba pengen pergi sih, …bukannya temen-temen Adek , termasuk sobat Adek, Anto, juga masih disini?" tanya papanya heran.

"Biar deh Pa, Diyan pengen sendiri abis…udah bosen disini," keluh Diyan.

"Oke, kalo itu kemauan Adek…Papa sih setuju aja, asal Adek di sana nggak lupa diri," nasihat papanya. Diyan tersenyum tipis. ***


"Dee, datang ya…aku dan Rita mau tunangan, nih. Bener-bener berarti kalo kamu bisa datang," ucap Anto riang di telepon.

Diyan tercenung, dia berpikir ‘Duuh, kenapa aku egois memikirkan perasaanku saja. Sebagai sahabat yang baik seharusnya aku turut berbahagia untuknya.’ Maka dia berusaha menyambut seceria mungkin…

"Heii, selamat ya! Gile,nggak nyangka kamu bakal ngeduluin aku. Kapan hari ‘H’-nya?"

"Ehm,…belon tau. Sebenernya ini baru rencana jangka panjang. Aku sih cuman ‘nurutin keinginan Rita dan keluarganya," tutur Anto dengan suara rendahnya.

"Ikut seneng,deh. Moga-moga langgeng ya…,gue doain," ucap Diyan benar-benar tulus.

"Thanks Dee, kamu memang sahabatku"

Diyan tercenung. Sahabat…yah, sahabat yang malang. ‘Ah, ini salahku juga…kenapa aku musti jatuh cinta padanya. Seharusnya kutekan perasaan ini 3 tahun yang lalu’. Bukannya Diyan lantas sengaja nggak mau datang ke pesta pertunangan Anto-Rita, tapi hari itu memang bertepatan dengan keberangkatannya ke Singapore. Sebuah hadiah yang telah dipersiapkannya tadi dibungkus dan dititipkan pada sopirnya untuk diantarkan… ‘Yah, akhirnya aku pergi juga. Kenapa nggak dari dulu-dulu juga aku begini? Atau dulu seharusnya kuterima cinta Tio, bukankah anaknya juga baik, pengertian dan keren? Hahaha…bener-bener bodoh, hanya karena menyukai Anto lantas menolak cinta beberapa cowok. Padahal kita cuma sobatan, nggak mungkin Anto menganggapku lebih…’ Diyan merutuki dirinya sendiri. ‘Bagaimana lagi, dulu Anto sering memegang tanganku, mengucek-ngucek rambutku, bahkan merangkul pundakku…tapi aku nggak merasa apa-apa, kenapa baru kini? Sekarang siapa lagi yang harus kucintai? Anto yang selalu menolongku, ketika ulangan kadang-kadang bagi contekan (hehe..), kalo aku sedih selalu menghibur dengan berusaha membuat lelucon-lelucon konyol atau mengajak gila-gilaan, selalu melindungiku…’ Diyan teringat ketika SMP dia pernah diganggu anak-anak komplek, Anto yang melawan mereka satu-persatu (Meskipun akhirnya Diyan juga harus membantu melawan mereka semua dan kalah…hahaha). Juga waktu Charles, si playboy kakap SMA itu berusaha mendekatinya, Anto selalu menghalanginya. Bukan karena sentimen, bukan karena jealous pula, tapi karena Anto tahu kalau Charles hanya ingin mempermainkan cewek-cewek dengan mengambil kesucian mereka. Anto nggak mau itu terjadi pada Diyan, maka ia melindunginya. Kalau teman-teman menjodohkan mereka dia cuek aja dan bilang,

"Emang kenapa kalo kita pacaran. Diyan pacarku kek, kita pacaran kek, itu urusan kita dong! Kalo iri bilang aja…"

Rasanya dulu seharipun tak pernah dilaluinya tanpa Anto. Sekarang, Diyan berusaha menjauh darinya…sulit memang, sangat sulit!

"Anto, masuk dong…temen-temen udah pada pengen ketemu kamu tuh," ajak Rita manja sambil menarik-narik lengan Anto.

Anto yang saat itu sudah mengenakan jas rapi dihari pertunangannya, masih berdiri di beranda menanti kedatangan sahabatnya…

"Bentar Rit, aku tunggu Diyan disini dulu, deh. Nggak biasanya dia ngaret…" Rita cemberut dan meninggalkan Anto ke dalam.

Semenit kemudian ada Volvo metalik berhenti didepan rumahnya. Anto tersenyum senang … ‘akhirnya ‘tu anak datang juga, tumben pake mobil mewah …’ Anto bergegas keluar dan terkejut mendapati bukan Diyan yang turun dari mobil, melainkan hanya sopirnya yang lantas mengeluarkan sebuah bingkisan besar dan berat dari bagasinya...

"Lho? Diyan mana?" tanyanya sambil celingukan.

"Non Diyan minta maaf tidak bisa hadir, dia harus pergi hari ini…," ujar Pak Sur.

"HAH?! Pergi? Pergi kemana?!" tanya Anto sedikit berteriak saking terkejutnya.

‘Masa sahabat pergi nggak bilang-bilang, apalagi di hari penting kayak begini’ Ada sedikit kesal dan kecewa dalam hati Anto ketika ia membuka dan membaca surat Diyan…

“Hoi, selamat yach!
Kalian serasi deh…
Moga-moga terus langgeng and happy deh. Gue doain. Sorry I miss the big party, and…maybe your wedding. Aku nggak akan kembali dalam waktu dekat, so…take care ! Tapi kita tetap sobatan, khan ?!
Friends forever,Diyan
PS : Hati-hati kadonya meledak !!! “

Kali ini Anto tidak bisa tersenyum membaca lelucon Diyan, malahan hatinya berdetak nggak karuan. Dia merasa ditinggalkan. Anto marah; dia marah seperti seorang pacar yang ditinggalkan ceweknya tanpa penjelasan…padahal mereka bukan apa-apa. Hanya sahabat lama…

"Pak Sur, kapan berangkatnya? Kemana?" tanya Anto.

"Waah, saya ‘ndak tau Den, saya taunya tadi Non Diyan pergi terburu-buru, mau ke er-pot katanya…"

"Iya deh. Makasih ya…"

Anto segera membawa kado besar itu ke dalam dan mengambil kunci ‘Tiger 2000’-nya. Sepertinya ia nggak ingat lagi kalau di dalam banyak tamu-tamu yang sedang merayakan pertunangannya. Ketika Anto menstarter motornya, Rita baru sadar kalo Anto hendak pergi dan ia berteriak memanggil-manggil Anto yang sudah melaju kencang di jalan…,sia-sia. Kemudian saat masuk Rita menemukan sebuah surat dan kado besar yang tergeletak. Rita membacanya, kemudian dengan geram merobek-robek kertas itu…***


Di airport Adi Sucipto Anto celingukan mencari sesosok tubuh jangkung nan langsing yang sangat dikenalnya diantara kerumunan orang yang berlalu lalang. ‘Gila! Kenapa juga aku begini ya? Tapi ini karena Diyan pergi begitu aja, nggak boleh! Aku bahkan tidak diberitahu kemana ia pergi’ Baru setelah menelepon ayah Diyan Anto tahu kalau Diyan akan ‘ngelanjutin sekolah di Singapore, tapi…terlambat. ‘Garuda Indonesia’ itu sudah terbang mengudara. Anto mengumpat-umpat dalam hati. Sahabat macam apa itu, pergi tanpa kabar. Tapi, seandainya Diyan mengungkapkan maksudnya pun apakah ia akan melepaskannya? Dengan segenap hatinya Anto menggeleng, ‘nggak! Pasti nggak akan kubolehkan pergi…sekarang aku musti curhat sama siapa? Hmpf, aku memang egois, punya hak apa aku melarangnya pergi? Kami nggak punya hubungan apa-apa, hanya sahabat, tapi entah mengapa aku sudah terbiasa dengan Diyan, bercanda, ‘ngerjain orang, ataupun belajar bareng. Satu-satunya hubunganku dengan cewek kini kutinggalkan demi Diyan…’

"Mau apa kemari?! Aku nggak mau melihatmu lagi !" hardik Rita keras. Matanya masih terlihat sembab akibat menangis tadi.

"Maafkan aku…", cuma itu yang terlontar dari mulut Anto.

Ia terus terang tidak merasa sangat bersalah dan ia merasa wajar-wajar saja bila mengejar sahabat yang akan pergi setelah 16 tahun berteman. Memang agak keterlaluan sih, pergi pas acara pertunangan tengah berlangsung…tapi Anto merasa ia lebih mementingkan Diyan ketimbang Rita. Sudah lama dia harus bertahan dengan cewek ini, menuruti segala keinginannya yang terkadang kekanak-kanakan. Bahkan, kini Anto sangat berharap Rita memutuskan pertunangan mereka saat itu juga…

"‘Maafkan aku’…cuma itu yang bisa kamu katakan. Sementara aku, tunanganmu, harus menunggu kamu disini bersama tamu-tamu di pesta pertunangan kita, kau pergi mengejar ‘simpananmu’ itu…," ejek Rita kesal.

"Jangan kau sebut-sebut Diyan begitu ! Dia bukan apa-apaku, kami sudah lama bersahabat. Itu saja! Kamu harus dapat menerima fakta itu," ujar Anto.

"Tidak ! Kamu harus memilih, saat ini juga! Tinggalkan dia dan kita menikah, atau …kau pilih dia dan kita berpisah selamanya, " ultimatum Rita. Sejenak Anto diam, tapi kemudian…

"…aku lebih baik memilih yang kedua. Selamat tinggal." Dan dengan santai Anto meninggalkan rumah Rita sementara gadis itu menangis tersedu-sedu. ***

Tidak ada komentar: